Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

BPBD DKI Waspadai Puncak Musim Hujan 2026 Berlanjut Hingga Maret

Golda Eksa
05/2/2026 19:29
BPBD DKI Waspadai Puncak Musim Hujan 2026 Berlanjut Hingga Maret
Ilustrasi .(Antara)

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem hingga Maret 2026. Meski puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari-Februari, tren data tahun sebelumnya menunjukkan kemungkinan pergeseran cuaca ekstrem hingga bulan ketiga.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan intensif berkaca pada anomali cuaca yang terjadi pada 2025.

"Prediksi BMKG, Januari-Februari puncak musim hujan di tahun 2026. Namun pengalaman pada tahun 2025, meskipun dua bulan tersebut dikatakan puncak, masih ada kemungkinan bulan Maret masih menjadi puncak bahkan bisa lebih ekstrem lagi," kata Mohamad Yohan dalam siniar mitigasi banjir yang digelar BPKD DKI Jakarta, Kamis (5/2).

Modifikasi Cuaca sebagai Opsi Terakhir
Yohan menegaskan bahwa analisa cuaca harian menjadi pijakan utama dalam pengambilan keputusan strategis. Salah satu langkah krusial yang disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"(OMC) ini opsi terakhir. Kalau kita tidak mengambil opsi terakhir, mungkin lebih banyak RT/RW yang tergenang," ujar Yohan.

Langkah mitigasi ini terbukti efektif pada tahun sebelumnya. Pada 2025, OMC dilakukan sebanyak empat periode (Februari, Maret, Agustus, dan November) dengan 78 sorti penerbangan. Hasilnya, curah hujan rata-rata berhasil diredam hingga 48,65%.

Untuk tahun 2026 sendiri, OMC telah dilaksanakan dalam dua tahap pada periode 16-27 Januari dengan menggunakan 12.600 kg bahan semai. Intervensi ini diklaim mampu menurunkan curah hujan rata-rata sebesar 34,95%.

Jakarta Timur Paling Rawan
Berdasarkan data kejadian bencana sepanjang Januari 2026, Jakarta Timur tercatat sebagai wilayah dengan frekuensi banjir tertinggi, yakni sebanyak delapan kejadian.

Disusul oleh Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan yang masing-masing mencatatkan tujuh kejadian. Sementara itu, Jakarta Pusat mencatat empat kejadian, dan Kepulauan Seribu menjadi wilayah dengan frekuensi terendah dengan satu kejadian banjir.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya melakukan langkah preventif guna meminimalisasi dampak genangan di titik-titik rawan tersebut seiring dengan masuknya periode puncak musim hujan. (Ant/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik