Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Modifikasi Cuaca: Solusi Mitigasi atau Sekadar Penawar Gejala?

Basuki Eka Purnama
10/2/2026 07:10
Modifikasi Cuaca: Solusi Mitigasi atau Sekadar Penawar Gejala?
Petugas memasukkan karung berisi garam ke dalam pesawat Cessna Caravan 208B PK-SNP untuk persemaian garam dengan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OPC) di Bandara Jenderal Ahmad Yhani, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (18/1/2026).(ANTARA/Makna Zaezar)

MENINGKATNYA frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Indonesia telah menempatkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai opsi populer bagi pemerintah. Sering kali, TMC dipersepsikan sebagai jalan pintas paling efektif untuk meredam amukan cuaca ekstrem. Namun, di balik kecanggihannya, modifikasi cuaca menyimpan batasan-batasan serius yang perlu dipahami secara mendalam.

Sonni Setiawan, pakar dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, menilai bahwa meskipun modifikasi cuaca merupakan ikhtiar mitigasi yang penting, teknik ini bukanlah solusi permanen. 

Ia mengingatkan agar kebijakan ini tidak meninabobokan kita dari akar permasalahan yang sebenarnya.

"Modifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi," tegas Sonni.

MI/HO--Pakar dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan

Ketergantungan pada Alam

Efektivitas TMC, menurut Sonni, sepenuhnya didikte oleh kondisi atmosfer. Manusia tidak bisa menciptakan hujan dari kekosongan; teknik ini membutuhkan bahan baku berupa awan dengan karakteristik tertentu. 

Dalam praktiknya, modifikasi dilakukan dengan menggabungkan awan-awan yang berdekatan untuk mempercepat proses presipitasi atau jatuhnya hujan.

Namun, kendala muncul saat alam tidak menyediakan kondisi yang dibutuhkan. 

"Kalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan," jelasnya.

Selain ketergantungan pada kondisi awan, cakupan wilayah juga menjadi isu krusial. 

Sonni menyoroti bahwa dampak TMC bersifat lokal. Memaksakan teknologi ini untuk meng-cover wilayah yang sangat luas justru berisiko kontraproduktif. 

"Untuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana," ungkap Sonni secara lugas.

Mengobati Penyakit, bukan Sekadar Gejala

Kekhawatiran terbesar Sonni adalah munculnya ketergantungan berlebihan pada solusi instan ini. Fokus yang terlalu besar pada modifikasi cuaca dikhawatirkan dapat mengaburkan perhatian publik dan pembuat kebijakan dari pemicu utama bencana, seperti deforestasi, kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), hingga buruknya tata kelola lingkungan.

Bagi Sonni, bencana hidrometeorologi yang berulang adalah cerminan dari ekosistem yang sedang sakit. 

"Selama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya," ujarnya analogis.

Sebagai penutup, ia mendorong agar pemerintah dan pemangku kepentingan mengalihkan fokus pada pendekatan sistemik jangka panjang. 

Hal ini mencakup perencanaan wilayah yang matang, perbaikan lingkungan secara masif, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam beradaptasi.

"Modifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar," pungkas Sonni. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya