Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Penanganan Banjir Jakarta Disebut tak Maksimal, Ini Kata Pramono Anung

Putri Rosmalia Octaviyani
23/1/2026 13:58
Penanganan Banjir Jakarta Disebut tak Maksimal, Ini Kata Pramono Anung
GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung.(Dok. KemenPAN RB)

GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung memberikan tanggapan resmi terkait kritik Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta yang menilai penanganan banjir Jakarta belum maksimal. Pramono menegaskan bahwa pemerintah provinsi DKI Jakarta sedang bekerja keras menyeimbangkan solusi jangka pendek dan jangka panjang banjir Jakarta.

Menanggapi tudingan bahwa dirinya hanya menyalahkan faktor cuaca, Pramono menjelaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan faktor eksternal yang harus dikelola dampaknya. Salah satu langkah cepat yang diambil adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Yang kami tangani dengan modifikasi cuaca ini kan memang bersifat jangka pendek karena cuacanya ini kan 'given', bukan kita yang membuat," ungkap Pramono di Balai Kota, Jumat (23/1).

Komitmen Normalisasi Sungai

Selain solusi jangka pendek, Pramono menekankan fokusnya pada normalisasi sejumlah kali utama di Jakarta, seperti Kali Ciliwung, Kali Krukut, hingga Kali Cakung Lama. Ia mengakui bahwa langkah ini memiliki tantangan sosial yang besar.

“Dan ini memerlukan biaya yang cukup tinggi dan itu saya akan lakukan. Ini pasti nggak populer, karena apa? Harus memindahkan masyarakat, harus menyiapkan rumah susun dan sebagainya dan pasti nanti di lapangan mau, tidak mau, suka tidak suka pasti ada singgungannya," tegasnya.

Terkait kritik dari Walhi maupun media sosial yang menyebut OMC menyalahi siklus alam, Pramono menyatakan dirinya tetap terbuka terhadap masukan tersebut. "Memang kalau teman-teman nggak mengritik itu menurut saya kurang, jadi saya memang ingin dikritik juga," tambahnya.

Penjelasan BPBD Soal Modifikasi Cuaca

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengklarifikasi bahwa OMC bukan bertujuan untuk menghentikan hujan secara total, melainkan mengalihkan distribusi curah hujan.

“Kita tidak bisa menghentikan hujan. Kita hanya mengalihkan," kata Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan.

Yohan memaparkan bahwa proses penebaran garam dilakukan dengan menyasar awan-awan di atas laut, seperti di Selat Sunda, agar hujan turun sebelum mencapai daratan Jakarta dan Jawa Barat. Langkah ini diklaim telah diperhitungkan secara matang bersama BMKG dan BNPB untuk meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya