Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Mediator Oman: Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa Alami Kemajuan Signifikan

Thalatie K Yani
27/2/2026 04:38
Mediator Oman: Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa Alami Kemajuan Signifikan
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan AS dan Iran telah menunjukkan "keterbukaan terhadap ide-ide baru dan kreatif" setelah bertemu dengan Jared Kushner dan Steve Witkoff.(Kementerian luar negeri Oman)

MENTERI Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan adanya "kemajuan signifikan" dalam perundingan nuklir tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Jenewa. Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan akhir guna menghindari konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah masih belum dapat dipastikan.

Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator, mengungkapkan kedua belah pihak berencana untuk segera melanjutkan negosiasi setelah melakukan konsultasi di ibu kota masing-masing. Selain itu, diskusi tingkat teknis dijadwalkan akan digelar pekan depan di Wina, Austria.

Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Militer

Putaran ketiga perundingan ini dipandang sebagai upaya diplomatik terakhir. Pasalnya, Presiden Donald Trump terus melontarkan ancaman serangan militer jika kesepakatan tidak segera tercapai. Saat ini, AS tengah melakukan mobilisasi militer terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003, sementara Iran bersumpah akan membalas setiap serangan dengan kekuatan penuh.

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sedangkan AS diwakili utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, Teheran tetap bersikeras pada hak mereka atas energi nuklir damai. Mereka menolak tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya dan mentransfer cadangan uranium yang diperkaya ke luar negeri.

Namun, kedua pihak diyakini telah menawarkan konsesi tertentu. Sebagai imbalannya, Iran mengharapkan pencabutan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan negara tersebut. Di sisi lain, Iran masih menolak membahas pembatasan program rudal balistik serta dukungan terhadap kelompok-kelompok proksinya di kawasan.

Ketegangan Nuklir yang Memuncak

Dalam pidato State of the Union pada Selasa lalu, Presiden Trump kembali menegaskan sikap kerasnya. Ia menuduh Iran sedang berupaya membangun rudal yang mampu mencapai wilayah AS dan mencoba memulai kembali program senjata nuklir pasca serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran Juni lalu.

"Mereka ingin membuat kesepakatan," ujar Trump. "Tetapi kita belum mendengar kata-kata rahasia itu: 'Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir'."

Beberapa jam sebelum pidato tersebut, Menlu Iran Abbas Araghchi memberikan sinyal positif melalui media sosial. Ia menyatakan bahwa Iran "dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir." Araghchi juga menambahkan adanya "peluang bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengatasi kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama."

Risiko Eskalasi

Laporan media AS menyebutkan pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan serangan awal terhadap Garda Revolusi Iran atau situs nuklir lainnya untuk menekan Teheran. Jika diplomasi gagal, opsi serangan yang lebih luas untuk menggulingkan kepemimpinan tertinggi Iran dikabarkan masuk dalam meja pertimbangan.

Namun, langkah militer ini dipenuhi risiko. Ketua Kepala Staf Gabungan AS telah memperingatkan potensi konflik berkepanjangan, meskipun Trump meyakini perang tersebut akan "dimenangkan dengan mudah." Di sisi lain, negara-negara sekutu AS di kawasan merasa khawatir bahwa serangan udara saja tidak akan mampu mengubah kepemimpinan Iran, melainkan justru memicu perang regional yang lebih luas. (BBC/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya