Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran, Teheran Siapkan Serangan Balasan

Khoerun Nadif Rahmat
22/3/2026 14:32
Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran, Teheran Siapkan Serangan Balasan
Presiden AS Donald Trump(instagram/@realdonaldtrump)

KETEGANGAN di Timur Tengah meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, yang langsung dibalas Teheran dengan ancaman serangan ke infrastruktur vital milik AS di kawasan tersebut.

Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase baru setelah Donald Trump mengancam akan "melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social dengan memberikan tenggat waktu 48 jam terkait blokade de facto yang dilakukan Iran di jalur perdagangan strategis tersebut.

"Jika Iran tidak MEMBUKA SEPENUHNYA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM dari titik waktu yang tepat ini, Amerika Serikat akan memukul dan melenyapkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!," tulis Trump sebagaimana dikutip dari AFP.

Pernyataan itu memicu respons keras dari Iran. Komando operasional militer Iran menegaskan bahwa jika fasilitas mereka diserang, maka "seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS" di kawasan akan menjadi target balasan.

Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan atas serangan terhadap situs nuklir di Natanz dengan dua serangan langsung ke wilayah selatan Israel.

Serangan rudal tersebut dilaporkan menembus sistem pertahanan udara dan menghantam kota Dimona serta Arad, menyebabkan lebih dari 100 orang terluka.

Israel kemudian merespons dengan meluncurkan serangan baru ke ibu kota Iran, Teheran, pada Minggu waktu setempat.

Situasi di Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak mentah global turut memperburuk kondisi. Harga minyak mentah Brent Laut Utara melonjak melampaui 105 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,77 juta.

Di tengah ketegangan, Trump juga mengkritik sekutu NATO sebagai "penakut" dan mendesak mereka untuk mengamankan jalur tersebut.

Sejumlah negara, termasuk Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Korea Selatan, Australia, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, mengecam penutupan jalur tersebut.

Sementara itu, militer AS dilaporkan mengirim tambahan ribuan marinir ke kawasan. Komando Pusat AS juga menyatakan telah menjatuhkan bom penghancur bunker ke fasilitas pesisir bawah tanah Iran.

Dampak serangan Iran di Israel terlihat dari kerusakan di Arad yang menghancurkan bagian depan bangunan dan meninggalkan kawah di tanah.

Di Dimona, serangan jatuh sekitar lima kilometer dari lokasi yang diyakini sebagai fasilitas penyimpanan senjata nuklir dan melukai sekitar 30 orang.

Iran juga dilaporkan melancarkan serangan ke negara-negara Teluk yang dianggap sebagai basis operasi AS. Arab Saudi menyatakan telah mencegat tiga rudal balistik dan tiga drone di sekitar Riyadh, sementara Uni Emirat Arab menghadapi serangan rudal dan drone tambahan.

Meski Donald Trump dan Benjamin Netanyahu mengklaim telah melemahkan Iran, para analis menilai Teheran tetap menunjukkan ketahanan.

"Mereka menunjukkan banyak ketahanan yang mungkin tidak kita duga, yang tidak diduga oleh AS, saat menghadapi ini," kata Chatham House melalui analisnya, Neil Quilliam.

Di tengah konflik yang telah memasuki pekan keempat, warga Teheran tetap menandai berakhirnya Ramadan dan perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz, meski dibayangi kecemasan. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik