Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMISI XII DPR meminta pemerintah memastikan bahwa rencana pembangunan 50 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tidak berujung mangkrak karena persoalan biaya. Anggota Komisi XII Ateng Sutisna menilai pemerintah harus lebih cermat sebelum menggelontorkan anggaran hingga Rp151 triliun untuk proyek tersebut.
“Limbah yang terkelola baru 24 persen, sementara 76 persen atau sekitar 50 juta meter kubik per hari belum terkelola. Pemerintah ingin membangun pembangkit listrik berbasis sampah, tapi apakah sudah ada kajian bahwa harga listriknya bisa bersaing dengan energi dari fosil?” ujarnya, Rabu (3/12 ).
Ateng mengingatkan bahwa PLN tidak akan membeli listrik sampah bila tarifnya tidak kompetitif. Ia meminta Kementerian Lingkungan Hidup berkoordinasi dengan ESDM dan Kementerian Perdagangan untuk menata ulang kebijakan harga energi, terutama karena energi fosil masih mendapat intervensi melalui Domestic Market Obligation (DMO) yang dipatok 70 dolar, jauh di bawah harga pasar internasional yang mencapai 110 dolar.
Menurut Ateng, selisih harga ekspor batu bara dapat dialihkan menjadi insentif untuk menurunkan biaya produksi listrik berbasis sampah maupun biomassa. “Biarkan energi kotor diekspor dengan harga tinggi. Selisihnya bisa dijadikan insentif bagi PLTU untuk menambah bahan baku organik dari sampah,” ucapnya.
Ia juga menyoroti mahalnya biaya operasional PLTD di daerah terpencil, yang bisa mencapai Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per liter karena biaya transportasi dan impor solar. Ateng mendorong percepatan konversi ke energi baru terbarukan seperti surya, air, dan biomassa untuk pembangkit skala kecil di daerah.
Selain itu, ia meminta pemerintah mewajibkan kawasan industri membangun pembangkit energi mandiri berbasis EBT, meski biaya awalnya mungkin lebih tinggi. “Para industriawan bisa mengompensasi biaya itu melalui penurunan emisi,” tegasnya.
Di sisi lain, anggota Komisi XII Andi Muzzakir Aqil memaparkan kondisi darurat sampah yang telah berlangsung puluhan tahun di Makassar. Ia mengatakan persoalan tumpukan sampah di Tempat Penampungan Antang sudah mencapai titik kritis dan berdampak langsung terhadap kesehatan warga.
“Saya ini salah satu korban sampah. Tempat penampungan itu sudah beroperasi sekitar 25 tahun dan baunya kemana-mana. Total sampah di sana sekarang kurang lebih 8,7 metric ton, dan per hari masuk sekitar 1.000 ton,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa warga di sekitar Antang telah menanggung beban lingkungan yang berat, terutama ketika musim hujan. “Tutup pintu pun masih tembus ke kamar, Pak. Bagaimana dengan yang ada di wilayah itu?” tanya dia.
Andi mempertanyakan sejauh mana pemerintah pusat memberi perhatian kepada daerah yang sudah berada pada kondisi darurat sampah serta kejelasan rencana pengelolaan berbasis energi seperti WSTU-E yang pernah dijanjikan.
Ia meminta kementerian memastikan setiap intervensi tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru. “Jangan sampai lingkungan yang sudah ada bikin lagi lingkungan yang baru, sehingga berdampaknya bisa ke mana-mana,” tegasnya. (H-3)
Untuk mendukung proyek waste to energy ini, Pemkot Makassar menyiapkan lahan seluas 5 hingga 7 hektare di sekitar TPA Antang.
STAF Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah, Hanifah Dwi Nirwana, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan implementasi WTE.
Setiap daerah yang berpartisipasi dalam program itu ditargetkan mampu mengelola minimal 1.000 ton sampah per hari.
Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau Waste to Energy (WtE) membutuhkan investasi mencapai Rp91 triliun.
WAKIL Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menilai kinerja pengelolaan sampah nasional masih perlu ditingkatkan.
Pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium terkait kandungan pestisida dalam kasus pencemaran Sungai Cisadane.
Menteri LH Hanif Faisol bekukan 80 izin lingkungan tambang batu bara & nikel. Evaluasi menyasar 1.358 unit di 14 provinsi kritis. Simak selengkapnya!
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) merubah sistem penilaian baru dalam program penghargaan Adipura.
Hingga saat ini baru 34 persen Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), di Indonesia yang telah meninggalkan praktik open dumping.
Pemerintah menyatakan masih terdapat sekitar 40 tempat pemrosesan akhir (TPA) di Indonesia yang melakukan praktik open dumping secara penuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved