Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Tinggalkan Energi Kotor, SMI Pacu Pembiayaan Energi Hijau

Ihfa Firdausya
12/11/2025 12:18
Tinggalkan Energi Kotor, SMI Pacu Pembiayaan Energi Hijau
Direktur Utama SMI Reynaldi Hermansjah(MI/Ihfa Firdausya)

PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebagai special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan terus berkomitmen terhadap pembiayaan proyek-proyek hijau dan berkelanjutan. Per September 2025, sektor energi baru dan terbarukan termasuk tiga besar pembiayaan SMI untuk badan usaha, yakni sebesar Rp26,93 triliun (22,54%).

Sektor tersebut di bawah pembiayaan jalan dan jalan tol sebesar Rp41,13 triliun (34,42%), serta di atas transportasi Rp14,46 triliun (12,10%). Sebagai informasi, per September 2025, total aset PT SMI sekitar Rp115,6 triliun. Hampir Rp91,8 triliun merupakan aset pembiayaan dan investasi, serta Rp45,2 triliun merupakan ekuitas. Dari Rp91,8 triliun aset pembiayaan dan investasi, sebanyak Rp74,2 triliun dialokasikan untuk pembiayaan badan usaha, dan Rp17,6 triliun untuk sektor publik.

"Saat ini yang spesifik dalam konteks renewable energy baru di badan usaha. Tetapi kalau kita bicara pembiayaan publik, ada tapi dalam kaitannya di sisi sistem pengelolaan air minum (SPAM). Kalau renewable dalam arti minihidro, wind farm, itu biasanya badan usaha yang melakukan pembangunannya," ujar Direktur Utama SMI Reynaldi Hermansjah dalam media gathering di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Senin (10/11).

Menurutnya, SMI telah memiliki roadmap untuk pencapaian persentase dari portfolio renewable energy.

"Roadmap itu secara berkala meningkat, tujuan roadmap ini adalah mendukung pemerintah untuk mencapai net zero pada tahun 2030," jelas Reynaldi.

Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI Aradita Priyanti mengatakan, per September 2025, portfolio pembiayaan PT SMI terkait proyek energi terbarukan sudah mencapai 20,9%. Portofolo climate-related PT SMI terus meningkat dari Rp7,3 triliun (sekitar 5%) pada 2020 menjadi Rp32,5 triliun (20,9%) per September 2025.

"Kami upayakan (pembiayaan hijau) menjadi sekitar 25% atau 30% sampai dengan tahun 2030. Itu harapan kami," ujar Aradita dalam kesempatan berbeda di Humbang Hasundutan, Selasa (11/11).

Untuk climate-related terbagi menjadi energi terbarukan sekitar 15,7% (Rp24,4 triliun), air minum dan sanitasi 2% (Rp3,1 triliun), dan energi baru 1,6% (Rp2,5 triliun). Tiga besar sebaran portofolio energi terbarukan yang dibiayai PT SMI adalah biomassa (34,4%), minihidro (18,1%), dan surya (10,4%).

Aradita mencontohkan beberapa proyek energi terbarukan yang dibiayai oleh PT SMI. Misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen dengan kapasitas 31 MW dengan lokasi proyek di Bondowoso, Banyuwangi, dan Situbondo. Nilai proyeknya mencapai US$222 juta dan nilai pinjaman PT SMI sebesar US$145 juta.

Proyek tersebut telah beroperasi pada Februari 2025 dan telah diresmikan oleh Presiden Prabowo pada 26 Juni 2025.

Kemudian proyek pembiayaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Tembesi di Bendungan Tembesi, Batam, Kepulauan Riau. Nilai proyek tersebut sekitar US$30 juta dan nilai pinjaman SMI sekitar US$23 juta.

Selain meningkatkan pembiayaan hijau, PT SMI juga telah melakukan moratorium untuk pembiayaan pembangkit listrik dari batu bara sejak 2018. "Jadi sejak 7 tahun yang lalu kami sudah berhenti melakukan pembiayaan (PLTU batu bara). Memang target kami akan membersihkan portfolio untuk renewable energy," pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik