ADRO, ADMR, AADI Bertahan saat Saham Konglomerasi Turun, Masih Layak Dikoleksi?
Gana Buana
26/1/2026 16:09
ADRO, ADMR, AADI Bertahan saat Saham Konglomerasi Turun.(Dok. MI/AI)
DI tengah tekanan pasar global dan sentimen risk-off yang membuat banyak grup konglomerasi tertekan, Adaro Group justru tampil berbeda. Saham-saham di bawah payung Adaro seperti ADRO, ADMR, dan AADI menunjukkan ketahanan, bahkan menjadi target akumulasi investor asing.
Apa yang membuat Adaro Group tetap solid saat yang lain goyah? Berikut ulasan lengkapnya.
Fondasi Utama: Cash Flow Kuat dan Valuasi Menarik
Salah satu alasan utama investor asing tetap nyaman berada di Adaro Group adalah arus kas yang kuat dan konsisten, ditopang oleh:
Dividen yang atraktif, menjadikan saham Adaro sebagai jangkar portofolio saat market volatil.
Harga batu bara global (ICE Newcastle) yang kembali menguat ke kisaran US$109,55/ton, memberi bantalan pada kinerja laba.
Valuasi yang masih masuk akal, dengan downside relatif terbatas.
Kombinasi ini membuat Adaro tetap relevan bahkan di fase siklus komoditas yang tidak ideal.
Alamtri Resources Indonesia (ADRO)
Sebagai induk usaha, ADRO memiliki posisi strategis dengan kepemilikan sekitar 85% saham ADMR. Artinya, kinerja ADMR sangat menentukan arah valuasi ADRO.
Value Driver Utama ADRO
Kenaikan SOTP (Sum of The Parts) seiring menguatnya kinerja ADMR.
Diversifikasi ke energi terbarukan (PLTA & PLTS), mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Peluang ekspor listrik, membuka pasar regional dan monetisasi kapasitas berlebih.
Potensi peningkatan kapasitas hydro, selaras dengan tren energi hijau dan kebutuhan data center.
Katalis Positif ADRO
Kinerja ADMR yang solid langsung mendongkrak valuasi ADRO.
Progres proyek energi hijau menjadi bukti nyata eksekusi transisi energi.
Valuasi masih di bawah nilai buku (PBV < 1x), membuka peluang rerating.
Risiko ADRO
Proyek renewable berpotensi molor sehingga rerating tertunda.
Pertumbuhan volume tambang terbatas akibat RKAB ketat.
Ketergantungan tinggi pada ADMR membuat koreksi ADMR berdampak langsung ke ADRO.
Alamtri Minerals Indonesia (ADMR)
Dalam satu tahun terakhir, harga saham ADMR naik lebih dari 100%. Kenaikan ini bukan tanpa alasan.
Mayoritas penjualan berbasis kontrak jangka panjang, membuat arus kas lebih stabil.
Dampak RKAB cut relatif sudah priced-in.
Efisiensi operasional dari tambang hingga delivery menekan biaya.
Katalis Positif AADI
Pengetatan suplai nasional berpotensi mendorong ASP.
Dividend yield 8-12% dari kombinasi cash flow kuat dan payout menarik.
Integrasi supply chain meningkatkan margin jangka panjang.
Risiko AADI
Oversupply dari Tiongkok dan India.
Harga coal yang stagnan membatasi upside laba.
Permintaan global melemah akibat perlambatan ekonomi dan transisi energi.
Tabel Perbandingan Harga Perdaganagn Terakhir ADRO, ADMR, dan AADI
Kode Saham
Perusahaan
Harga Terakhir (IDR)
ADRO
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
Rp 2.390
ADMR
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk
Rp 2.280
AADI
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
Rp 8.425
Data diolah dari penutupan perdagangan saham Senin (26/1/2026).
Kesimpulan: Mengapa Asing Tetap Nyaman di Adaro Group?
Adaro Group memiliki struktur bisnis yang seimbang:
ADMR sebagai mesin pertumbuhan berbasis komoditas industri.
AADI sebagai penyumbang arus kas dan dividen.
ADRO sebagai holding dengan potensi value unlock dan opsi energi hijau.
Dengan cash flow kuat, valuasi menarik, dan diversifikasi bisnis yang jelas, Adaro Group mampu bertahan bahkan saat konglomerasi lain mulai goyah.
Tak heran jika investor asing melihat Adaro bukan sekadar saham batu bara, melainkan platform energi dan sumber daya jangka panjang dengan risiko terukur. (Diolah dari data komunitas trader Sat-Set Cuan/Ajaib Sekuritas/Z-10)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak sejarah dengan menembus level psikologis 9.000 pada perdagangan intraday Kamis (8/1). Sektor energi dan mineral jadi penopang utama.