Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Utusan Trump Klaim Iran Punya Uranium untuk 11 Bom Nuklir

Ferdian Ananda Majni
05/3/2026 08:13
Utusan Trump Klaim Iran Punya Uranium untuk 11 Bom Nuklir
Ilustrasi(Dok Freepik)

UTUSAN khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, mengeklaim Iran memiliki 460 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60% atau cukup untuk membuat 11 bom nuklir. Witkoff mengungkapkan bahwa para negosiator Iran pernah menyampaikan kepadanya bahwa mereka memiliki cadangan uranium yang diperkaya dalam jumlah signifikan. 

"Tentu saja, kami menjawab bahwa presiden merasa kami memiliki hak mutlak untuk menghentikan Anda," sebutnya. 

Ia menambahkan bahwa uranium 60% dapat ditingkatkan ke tingkat senjata dalam waktu sekitar satu minggu, sementara uranium 20% membutuhkan tiga hingga empat minggu.

"Mereka memproduksi sentrifugal mereka sendiri untuk memperkaya material ini," katanya. 

"Jadi, hampir tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Mereka memiliki pasokan yang tak terbatas," lanjutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah operasi militer besar bertajuk Operasi Epic Fury yang dilancarkan AS-Israel sejak Sabtu untuk menargetkan fasilitas dan kemampuan nuklir Iran

Namun hingga kini, pemerintah AS belum memaparkan bukti publik terbaru mengenai keberadaan atau penguasaan material nuklir tersebut. Klaim Witkoff juga dinilai berbeda dengan pernyataan Pentagon pada Juli 2025. Saat itu, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni telah menghambat kemampuan Teheran mengembangkan senjata nuklir selama hampir dua tahun. 

"Bukan hanya uranium yang diperkaya atau sentrifugal atau hal-hal seperti itu. Kami menghancurkan komponen yang mereka butuhkan untuk membuat bom," ujarnya.

Kini, pejabat senior pemerintah AS menyatakan bahwa salah satu pertimbangan operasi terbaru adalah kemampuan Iran membangun kembali komponen yang sebelumnya dihancurkan, termasuk sentrifugal. Pejabat itu mengatakan sebagian besar uranium yang diperkaya diyakini masih berada di Isfahan, sementara sisanya di Natanz dan Fordo. 

"Proses ekstraksi dan penyembunyiannya bisa memakan waktu lama dan rumit," kata pejabat tersebut. 

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan kepada program This Week di ABC News bahwa serangan terhadap negaranya tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. Dia menyebut pembicaraan dengan AS sebelumnya berlangsung konstruktif.

"Kesepakatan sudah di depan mata, dan kami meninggalkan Jenewa dengan senang hati dengan pemahaman bahwa kami dapat mencapai kesepakatan pada pertemuan berikutnya," ujarnya.

Dalam dua pengarahan publik, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine tidak menjelaskan secara rinci nasib material nuklir Iran pasca-serangan. Trump sendiri dalam beberapa pidatonya juga belum memaparkan detail status uranium tersebut. Sejumlah anggota parlemen Demokrat meminta penjelasan lebih lanjut. 

Dalam surat kepada pemerintah, lima anggota DPR, termasuk Gregory Meeks dan Adam Smith, menanyakan, "Siapa yang saat ini mengendalikan fasilitas dan material nuklir Iran, dan pengamanan apa yang diterapkan untuk mencegah pengalihan atau proliferasi, atau hilangnya kendali sepenuhnya?" 

"Kita kembali tanpa jawaban. Kita kembali tanpa transparansi penuh. Kita kembali mencoba untuk menghindari Kongres," kata Meeks Anggota DPR lainnya, Pramila Jayapal, mengatakan tidak ada informasi tambahan mengenai ancaman yang diklaim mendesak. 

Namun Ketua DPR Mike Johnson membela langkah pemerintah. 

"Ini sebenarnya masalah yang sangat sederhana. Ini tentang pembangunan rudal balistik. Itulah yang dilakukan Iran, dan mereka melakukannya dengan kecepatan dan skala yang melebihi kemampuan sekutu regional kita untuk merespons dengan tepat," katanya. 

Ia menambahkan bahwa situasi tersebut menciptakan ancaman serius dan mendesak. Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan berdasarkan citra satelit terbaru bahwa mereka sekarang dapat mengkonfirmasi beberapa kerusakan baru-baru ini pada bangunan pintu masuk Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Natanz (FEP) bawah tanah Iran. Namun IAEA menegaskan, tidak ada konsekuensi radiologis yang diperkirakan dan tidak ada dampak tambahan yang terdeteksi di FEP itu sendiri, yang rusak parah dalam konflik Juni lalu. 

Pada Juni 2025, AS dan Israel sebelumnya meluncurkan operasi Midnight Hammer yang menargetkan fasilitas Natanz, Fordo, dan Isfahan. Saat itu, Trump menyatakan operasi tersebut benar-benar menghancurkan situs utama pengayaan uranium Iran. 

Terbaru, Pasukan Pertahanan Israel menyebut telah menyerang kompleks dekat Teheran yang terkait dengan kemampuan senjata nuklir Iran. Dalam pernyataannya, IDF mengatakan serangan ini melenyapkan komponen kunci dalam kemampuan rezim Iran untuk mengembangkan senjata nuklir dan menambah serangkaian serangan yang dilakukan selama Operasi Rising Lion yang sangat penting untuk menghilangkan ancaman nuklir Iran. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya