Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

AS dan Kanada Mulai Evakuasi Ribuan Warga dari Timur Tengah

Thalatie K Yani
05/3/2026 09:38
AS dan Kanada Mulai Evakuasi Ribuan Warga dari Timur Tengah
Pasca-serangan militer terhadap Iran, AS dan Kanada mulai mengevakuasi ribuan warga dari Timur Tengah. (US Department of State)

DEPARTEMEN Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi penerbangan carter pertama yang membawa warga negara Amerika telah meninggalkan wilayah Timur Tengah pada Rabu waktu setempat. Langkah ini merupakan upaya evakuasi resmi pertama yang difasilitasi oleh pemerintah AS, hanya beberapa hari setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer terhadap Iran.

Pihak kementerian menyatakan "penerbangan tambahan akan terus ditingkatkan di seluruh kawasan." Meski demikian, rincian mengenai rute dan tujuan pengungsian masih dirahasiakan. “Untuk tujuan keamanan operasional, informasi tambahan mengenai operasi transportasi yang sedang berlangsung tidak akan dirilis saat ini,” tulis Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah nota media.

Hingga Rabu pagi, pemerintah AS dilaporkan telah memberikan bantuan kepada hampir 6.500 warga Amerika dalam bentuk penyediaan informasi kritis hingga opsi transportasi.

Kesiagaan di Qatar dan Langkah Tegas Kanada

Di tempat lain, Kementerian Dalam Negeri Qatar mulai mengevakuasi penduduk yang tinggal di sekitar Kedutaan Besar AS sebagai "tindakan pencegahan sementara". Langkah ini diambil demi menjaga keselamatan publik, meski otoritas setempat tidak merinci ancaman spesifik yang memicu pemindahan tersebut. Para pengungsi akan disediakan akomodasi yang layak oleh otoritas Qatar.

Sementara itu, Kanada juga tengah berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan warganya. Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menyatakan bahwa warga Kanada di Israel akan dievakuasi menggunakan bus menuju perbatasan Mesir. Di Beirut, sejumlah kecil warga mulai diberangkatkan melalui jalur udara.

Kanada mencatat lebih dari 100.000 warga negaranya terdaftar di Timur Tengah, dengan 2.000 di antaranya telah mengajukan permohonan keberangkatan. "Kanada juga mencoba mengatur penerbangan carter dari Uni Emirat Arab (UEA) seiring mulai dibukanya wilayah udara," ujar Anand.

Perjuangan Turis yang Terjebak di Tengah Kekacauan

Kekacauan jadwal penerbangan di kawasan tersebut juga membuat ribuan turis, termasuk wisatawan asal China, terdampar. Kun Wang, seorang pelancong di Dubai, mengaku telah menghabiskan lebih dari US$4.350 (sekitar 30.000 renminbi) hanya untuk membeli tiga tiket pesawat berbeda dengan harapan salah satu di antaranya bisa membawanya keluar dari wilayah tersebut.

Keresahan ini memicu gelombang unggahan di media sosial China, seperti Xiaohongshu, di mana para pengguna berbagi strategi evakuasi mandiri. Beberapa orang memilih menyewa mobil seharga US$1.450 untuk menyeberang dari UEA ke Oman demi mendapatkan penerbangan ke Asia Tenggara.

“Selama pesawat lepas landas, itu tidak masalah. Saya bahkan tidak memikirkan harganya,” tulis salah satu komentar di platform tersebut.

Seorang mahasiswa bernama Matt Hu menceritakan pengalamannya mengemudi berjam-jam menuju Jeddah setelah penerbangannya dibatalkan, sebelum akhirnya berhasil terbang ke Kuala Lumpur. “Kami hanya ingin pergi ke suatu tempat di mana kami bisa tidur nyenyak di malam hari,” ungkap Hu saat tiba di Malaysia.

Meski situasi masih mencekam, secercah harapan muncul ketika data FlightRadar24 menunjukkan satu penerbangan Emirates berhasil berangkat dari Dubai menuju Guangzhou pada Rabu setelah pembatalan selama tiga hari berturut-turut. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya