Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Iran Peringati 47 Tahun Revolusi Islam di Tengah Ancaman Militer AS

Dhika Kusuma Winata
11/2/2026 19:01
Iran Peringati 47 Tahun Revolusi Islam di Tengah Ancaman Militer AS
Iran.(Freepik)

PEMERINTAH Iran memperingati 47 tahun Revolusi Islam 1979 di tengah bayang-bayang ancaman aksi militer Amerika Serikat. Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan atau agresi dari luar sekaligus tetap membuka jalur dialog diplomatik.

Dalam pidato di Lapangan Azadi, Teheran, Rabu (11/2), Pezeshkian menyatakan Iran menolak tuntutan berlebihan dari Washington. “Iran kami tidak akan tunduk menghadapi agresi, tetapi kami terus melanjutkan dialog dengan segenap kekuatan bersama negara-negara tetangga untuk mewujudkan perdamaian dan ketenangan di kawasan,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan saat ribuan warga memadati lapangan dan mengibarkan bendera untuk menandai hari besar revolusi. Tanggal 11 Februari atau 22 Bahman dalam kalender Persia menandai runtuhnya pemerintahan perdana menteri terakhir era Shah dan pengambilalihan kekuasaan secara resmi oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1979.

Di tengah perayaan, sejumlah warga terlihat membawa gambar Trump dengan slogan mencerminkan sikap perlawanan. AS masih terus menekan Iran terkait program nuklir. Donald Trump pun belum menutup kemungkinan melancarkan serangan terhadap Teheran. Negara-negara Barat selama ini menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Terkait program nuklir Iran, Pezeshkian kembali menegaskan aktivitas atom Iran sepenuhnya bertujuan damai. Ia menyatakan negaranya siap menerima verifikasi.

“Kami siap untuk setiap bentuk verifikasi oleh para inspektur,” ucapnya.

Peringatan revolusi tahun ini juga diwarnai ketegangan domestik. Di sejumlah wilayah Teheran, sebagian warga kembali melontarkan slogan antipemerintah dari balkon apartemen pada Selasa malam waktu setempat. Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, terdengar seruan kritik terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut kelompok berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebanyak 6.984 orang tewas dalam gelombang protes di Iran yang terjadi belakangan ini, termasuk 6.490 demonstran akibat tindakan keras aparat keamanan.

Selain itu, sedikitnya 52.623 orang dilaporkan ditangkap dalam operasi penindakan lanjutan. Sebagian dari mereka yang ditahan merupakan tokoh gerakan reformis yang mendukung kampanye Pezeshkian pada pemilu 2024. (AFP/Dhk/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya