Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Sekitar 200 kapal tanker dilaporkan tertahan di pintu masuk Selat Hormuz yang terhubung ke Teluk Oman pada Selasa (3/3). Dengan tambahan tersebut, total kapal yang tidak dapat melintas kini mencapai sekitar 300 unit, berdasarkan data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti.
Secara strategis, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Wilayah pantai utara selat berada di bawah yurisdiksi Iran, sementara sisi selatan berbatasan dengan Uni Emirat Arab dan Oman.
Saat ini tidak ada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis pantai utara Selat Hormuz merupakan milik Iran, sedangkan kepemilikan pantai selatan dibagi antara Uni Emirat Arab dan Oman.
Penghentian lalu lintas tanker di jalur ini menimbulkan kekhawatiran serius di pasar komoditas. Selat Hormuz selama ini menjadi koridor utama distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia dan Eropa.
Konflik yang kian memanas di Kawasan Timur Tengah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menjadi rute utama untuk pasokan minyak dan LNG dunia dari negara-negara Teluk.
Gangguan distribusi dalam durasi panjang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak global, meningkatkan premi risiko asuransi pelayaran, serta memperburuk volatilitas di pasar energi internasional.
Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan militer yang melibatkan kekuatan besar di kawasan.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Serangan tersebut memicu respons balasan dari Teheran. Iran membalas serangan gabungan AS-Israel tersebut dengan meluncurkan sederet serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran investor global terhadap stabilitas jalur energi utama dunia.
Situasi semakin kompleks karena serangan tetap berlangsung di tengah upaya diplomasi.
Serangan terhadap Iran tetap terjadi meskipun sudah ada pembicaraan tentang nuklir Iran antara Washington dan Teheran di Jenewa yang dimediasi Oman.
Perundingan tersebut sebelumnya diharapkan menjadi jalur de-eskalasi antara Washington dan Teheran. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa risiko geopolitik di kawasan masih tinggi.
Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint energi paling krusial di dunia. Setiap gangguan di jalur ini dapat berdampak langsung pada harga minyak mentah, biaya logistik global, serta inflasi energi di berbagai negara pengimpor.
Dengan ratusan kapal tanker tertahan, pelaku pasar kini mencermati potensi krisis pasokan yang bisa memicu tekanan baru pada ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang. (Ant/E-4)
Presiden AS Donald Trump mendorong sekutu Amerika Serikat mengambil peran di Selat Hormuz.
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur minyak di Pulau Kharg, Iran, jika kebebasan navigasi di Selat Hormuz terganggu.
AMERIKA Serikat (AS) memperingatkan warga sipil Iran untuk menjauhi pelabuhan di sekitar Selat Hormuz di tengah rencana serangan baru.
KEPALA Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol meredam kekhawatiran terjadinya krisis minyak dunia di tengah berkecamuknya konflik di Timur Tengah imbas penutupan Selat Hormuz.
KEPALA Ekonom Josua Pardede menilai penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat lonjakan harga minyak
Menko Airlangga Hartarto jamin harga BBM subsidi (Pertalite & Solar) tetap stabil meski konflik Iran-AS memanas. Cek skenario pemerintah di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved