Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Gedung Putih Tulis Ulang Sejarah 6 Januari, Sebut Perusuh Sebagai Pengunjuk Rasa Damai

Thalatie K Yani
07/1/2026 09:59
Gedung Putih Tulis Ulang Sejarah 6 Januari, Sebut Perusuh Sebagai Pengunjuk Rasa Damai
Pemerintah AS merilis situs resmi yang menulis ulang sejarah serangan 6 Januari 2021. Simak klaim kontroversial mengenai pengampunan massal dan tuduhan terhadap aparat. (The White House)

GEDUNG Putih resmi meluncurkan situs web baru pada Selasa (6/1) yang berisi perombakan total terhadap catatan sejarah peristiwa 6 Januari 2021. Dalam situs tersebut, massa pendukung Donald Trump yang menyerbu gedung US Capitol lima tahun lalu kini disebut sebagai "pengunjuk rasa damai" yang diprovokasi penegak hukum.

Situs baru ini memuat klaim tanpa dasar kekerasan pada hari itu dipicu oleh aparat kepolisian dan Ketua DPR saat itu, Nancy Pelosi. Narasi tersebut mengubah posisi para perusuh sebagai korban, sementara Presiden Donald Trump digambarkan sebagai pahlawan karena memberikan pengampunan massal kepada hampir 1.600 orang yang didakwa dalam serangan mematikan tersebut.

Narasi yang Bertentangan dengan Fakta

Selama bertahun-tahun, Trump telah berupaya memutihkan sejarah 6 Januari, saat ribuan pendukungnya menyerbu Capitol untuk mencegah sertifikasi kemenangan Joe Biden. Namun, situs resmi ini melangkah lebih jauh dari retorika masa lalu dengan memberikan platform resmi pemerintah bagi klaim-klaim yang sebelumnya telah dibantah secara luas.

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menyiratkan melalui unggahan di platform X bahwa laman ini merupakan sebuah "jebakan" untuk memicu kemarahan media.

Linimasa yang Dipilih Secara Selektif

Situs tersebut menyajikan "linimasa" yang mengabaikan detail penyerangan, seperti perusakan jendela dan penganiayaan terhadap polisi. Sebaliknya, pemerintah mengklaim aksi tersebut berlangsung "tertib dan penuh semangat."

Tuduhan tak berdasar juga diarahkan kepada Kepolisian Capitol AS (USCP) yang disebut "sengaja memicu ketegangan." Taktik provokatif polisi, seperti penggunaan gas air mata, diklaim sebagai penyebab kekacauan, meski rekaman video menunjukkan massa lebih dulu menyerang polisi.

Gedung Putih juga menyatakan "tidak ada petugas penegak hukum yang kehilangan nyawa." Klaim ini mengabaikan fakta kematian Petugas Brian Sicknick akibat stroke sehari setelah diserang saat membela Capitol, serta empat petugas lainnya yang melakukan bunuh diri beberapa bulan kemudian akibat trauma.

Menyalahkan Pence dan Pelosi

Gedung Putih kembali mengangkat klaim kontroversial Wakil Presiden saat itu, Mike Pence, memiliki kesempatan untuk mengembalikan suara elektoral ke legislatif negara bagian namun memilih untuk tidak melakukannya dalam "tindakan pengecut dan sabotase."

Di sisi lain, Nancy Pelosi digambarkan sebagai antagonis utama. Pelosi membalas melalui pernyataan pada hari Selasa dengan menyebut peristiwa itu sebagai upaya kudeta.

"6 Januari bukanlah sebuah anomali dan bukan terjadi secara spontan. Itu adalah puncak dari serangan berkelanjutan terhadap kebenaran, supremasi hukum, dan salah satu prinsip paling suci demokrasi kita: transfer kekuasaan secara damai," ujar Pelosi.

Situs tersebut diakhiri dengan pujian terhadap langkah Trump memberikan pengampunan bagi hampir 1.600 terdakwa, yang oleh situs tersebut dilabeli sebagai "warga Amerika yang patriotik," termasuk di dalamnya anggota milisi sayap kanan dan mereka yang terbukti melakukan kekerasan terhadap aparat. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya