Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Justice and Democracy Forum (JDF) Asia Pasifik, Jazuli Juwaini, melayangkan kecaman keras terhadap aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela. Jazuli menilai serangan sepihak tersebut telah mencederai prinsip dasar hukum internasional dan mengancam stabilitas perdamaian dunia.
Menurut Jazuli, tindakan militer ini bukan sekadar urusan politik dalam negeri, melainkan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan sebuah negara.
Ia menegaskan bahwa mengabaikan mekanisme diplomasi internasional dapat meruntuhkan fondasi ketertiban global yang selama ini dijaga melalui kesepakatan antarnegara.
“Serangan Amerika Serikat ke Venezuela merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Tidak ada satu pun negara yang dibenarkan menggunakan kekuatan militer secara sepihak atas nama kepentingan politik dan kekuasaan,” ujar Jazuli dalam keterangan resmi, Minggu (4/11).
Situasi di Venezuela dilaporkan memanas setelah pasukan AS tidak hanya melakukan pengeboman, tetapi juga menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Mengingat kedudukan Venezuela sebagai negara berdaulat, tindakan tersebut dinilai telah melampaui batas tata hukum internasional yang beradab.
Jazuli, yang juga merupakan Anggota DPR RI Fraksi PKS, memperingatkan bahwa praktik pembiaran terhadap aksi sepihak seperti ini sangat berbahaya.
Ia khawatir tindakan AS akan dianggap sebagai hal yang normal dalam hubungan internasional di masa depan.
“Jangan sampai tindakan ini menjadi preseden buruk, seolah-olah hukum internasional tidak lagi diindahkan, bahkan bisa dilanggar begitu saja oleh negara-negara berkuasa. Jika hukum internasional runtuh, maka dunia akan berada di ambang chaos dan ketidaktertiban global,” tuturnya.
Lebih lanjut, Jazuli menekankan bahwa ketidakpatuhan terhadap aturan internasional hanya akan memperbesar potensi konflik terbuka dan meningkatkan eskalasi ketegangan antarnegara.
Ia memberikan peringatan keras mengenai dampak jangka panjang dari konfrontasi bersenjata ini.
“Dalam kondisi seperti ini, ancaman terjadinya Perang Dunia Ketiga bukanlah sesuatu yang mustahil. Perang bisa pecah kapan saja jika negara-negara kuat terus memaksakan kehendaknya dengan kekuatan militer,” tegas Jazuli.
Sebagai penutup, JDF Asia Pasifik menyerukan agar PBB dan komunitas internasional tidak tinggal diam.
Ia mendesak adanya langkah tegas untuk menegakkan hukum secara adil serta mendorong agar setiap konflik diselesaikan melalui meja dialog, bukan dengan kekerasan.
“Perdamaian dunia hanya dapat dijaga jika semua negara, tanpa kecuali, tunduk pada hukum internasional dan menjunjung tinggi prinsip keadilan serta kemanusiaan,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
PEMERINTAH Iran memperingatkan akan menindak keras demonstrasi anti-pemerintah di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Chuck Schumer mengungkapkan bahwa sejak 28 Februari sedikitnya 140 personel militer AS mengalami luka-luka, termasuk delapan orang dengan luka serius.
Amerika Serikat melepas 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR), bagian dari aksi kolektif International Energy Agency (IEA).
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran tetap dipersilakan berpartisipasi pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, meski konflik Timur Tengah memanas.
IRGC luncurkan gelombang ke-38 Operasi True Promise 4. Pangkalan Al-Udairi di Kuwait dan markas Fifth Fleet AS di Mina Salman Port hancur diserang rudal dan drone.
Utusan Iran Amir Saeid Iravani sebut rancangan resolusi DK PBB bias dan rusak reputasi PBB karena bela agresi AS-Israel. Cek data korban sipil Iran di sini.
Menteri Luar Negeri Venezuela menuntut pembebasan segera Nicolas Maduro yang ditangkap pasukan AS. Simak perkembangan terbaru pasca-kudeta Januari 2026.
Gelombang pembebasan tahanan politik di Venezuela dimulai. Sebanyak 1.557 orang ajukan amnesti, termasuk pengosongan penjara El Helicoide yang kontroversial.
Menteri Energi AS Chris Wright sebut hubungan AS-Venezuela akan berubah drastis pasca penangkapan Nicolas Maduro. Fokus pada reformasi minyak dan kerja sama energi.
Ribuan pendukung Nicolas Maduro berdemo di Caracas menuntut pembebasannya pascaoperasi militer AS. Presiden Interim Delcy Rodriguez kini hadapi tekanan politik.
Pemerintah Venezuela memperketat pengawasan pasca penangkapan Maduro. Warga kini takut bicara politik di WhatsApp dan terpaksa gunakan bahasa kode.
BADAN Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) secara diam-diam disebut tengah berupaya membangun kehadiran permanen AS di Venezuela guna memengaruhi masa depan negara tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved