Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMIMPIN Minoritas Senat Amerika Serikat (AS) Chuck Schumer menyatakan bahwa publik Amerika tidak menginginkan perang di Timur Tengah dan menuntut penjelasan dari pemerintahan Presiden Donald Trump terkait meningkatnya korban di pihak militer AS.
Dalam pidatonya di ruang sidang Senat, Rabu (11/3), Schumer mengungkapkan bahwa sejak 28 Februari sedikitnya 140 personel militer AS mengalami luka-luka, termasuk delapan orang dengan luka serius. Selain itu, delapan tentara AS dilaporkan tewas saat menjalankan tugas.
Schumer juga menyoroti tingginya korban jiwa di kawasan konflik. Ia mengatakan ribuan orang dilaporkan tewas di Timur Tengah, termasuk 170 korban yang berada di sebuah sekolah dasar khusus perempuan.
"Laporan awal tersebut menunjukkan kemungkinan akibat operasi AS,” kata Schumer dikutip Anadolu, Kamis (12/3).
Ia menuntut dilakukan penyelidikan yang penuh, transparan, dan independen untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di sekolah tersebut serta alasan banyaknya korban sipil.
Senator dari negara bagian New York itu menilai meningkatnya jumlah korban, ditambah ketegangan geopolitik dan tekanan ekonomi di dalam negeri, membuat banyak warga AS mulai mempertanyakan tujuan konflik tersebut.
"Di tengah semua perubahan ini, semua kekacauan ini, harga bensin yang lebih tinggi, meningkatnya korban jiwa, meningkatnya permusuhan, rakyat Amerika mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana, Mengapa? Mengapa Amerika berperang? Rakyat Amerika tentu tidak menginginkan perang. Rakyat Amerika tidak meminta ini," ujarnya.
Schumer juga menuding pemerintahan Trump memberikan penjelasan yang berubah-ubah mengenai tujuan operasi militer terhadap Iran.
“Pertama, itu adalah perubahan rezim, kemudian tentang program nuklir Iran. Kemudian untuk menyingkirkan angkatan laut Iran. Kemudian lagi-lagi perubahan rezim. Kemudian mereka mengatakan itu defensif. Tergantung siapa yang Anda tanya, kita berada di dekat akhir perang atau baru saja memulainya," lanjutnya.
Ia menilai pesan yang disampaikan Gedung Putih terkait arah konflik sering kali saling bertentangan.
"Dan jika Anda bertanya kepada Donald Trump apakah kita berada di akhir perang atau di awal, dia mengatakan keduanya," kata Schumer.
"Kegilaan ini harus dihentikan," ucapnya
Schumer kemudian mendesak Senat untuk menggelar sidang terbuka guna meminta penjelasan dari pejabat tinggi pemerintahan mengenai strategi serta tujuan perang.
Ia secara khusus meminta Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth hadir memberikan kesaksian di hadapan anggota parlemen di bawah sumpah.
"Rakyat Amerika berhak mendapatkan jawaban," pungkasnya. (Z-1)
Pendeta Franklin Graham memicu kontroversi di Gedung Putih setelah mengklaim Iran ingin memusnahkan Yahudi dan menyebut Donald Trump dipilih Tuhan.
Penilaian tersebut juga menunjukkan bahwa Iran masih menyimpan banyak rudal serta rudal jelajah pertahanan pesisir dalam jumlah yang signifikan.
Pola tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak negara sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengamankan jalur bagi kapal melalui Selat Hormuz.
Menurut anggaran Badan Pertahanan Rudal AS pada 2025, radar AN/TPY-2 berharga 136 juta dolar Amerika (sekitar Rp2,31 triliun).
Menurut Panetta, seiring berlanjutnya konflik, risiko terhadap infrastruktur produksi dan distribusi energi juga semakin meningkat.
Sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat tersebut setiap hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved