Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada hari ke-12 konflik bersenjata. Pemerintah Iran secara terbuka melontarkan penghinaan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan menyebutnya sebagai "Setan" dan kembali menegaskan sumpah untuk melenyapkan Israel dari kawasan tersebut.
Pernyataan keras tersebut disampaikan oleh Yahya Rahim Safavi, penasihat senior untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Dalam siaran televisi pemerintah pada Rabu (11/3), Safavi memberikan reaksi pedas terhadap kepemimpinan Amerika Serikat di bawah kendali Trump.
"Trump adalah presiden Amerika yang paling korup dan bodoh. Dia adalah Setan itu sendiri," tegas Safavi sebagaimana dikutip dari laporan AFP, Kamis (12/3).
Safavi juga menggarisbawahi posisi Iran dalam konflik regional yang kian memanas. Menurutnya, tidak ada ruang bagi Iran dan Israel untuk eksis bersama di Timur Tengah. "Di kawasan Timur Tengah, Israel dan Iran tidak bisa bersama. Salah satu dari mereka harus tetap ada. Yang akan tetap ada adalah Iran dan yang akan dihancurkan adalah rezim Zionis," tambahnya.
Pernyataan Iran ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengeklaim kemenangan prematur dalam kampanye militer yang disebutnya sebagai "Operasi Epic Fury". Berbicara di depan pendukungnya di Kentucky, Trump menyebut bahwa militer AS telah melumpuhkan sebagian besar aset angkatan laut dan udara Iran.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan perlawanan Iran masih berlangsung sengit. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah melakukan operasi rudal gabungan dengan Hezbollah untuk menyerang target-target di dalam wilayah Israel sebagai balasan atas serangan udara di Teheran dan Beirut.
Selain ancaman militer, Teheran memperingatkan bahwa perang panjang ini akan menghancurkan stabilitas ekonomi global. Fokus utama saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa lebih dari 1.200 orang telah tewas sejak serangan udara koalisi dimulai pada 28 Februari 2026. Sementara itu, lebih dari 800.000 warga di Lebanon juga dilaporkan mengungsi akibat perluasan zona perang oleh militer Israel.
| Indikator Konflik | Status Terkini (Maret 2026) |
|---|---|
| Lokasi Utama Pertempuran | Teheran, Beirut, Selat Hormuz |
| Pemimpin Tertinggi Iran | Ayatollah Mojtaba Khamenei |
| Klaim Kerugian Iran (versi AS) | 58 Kapal Angkatan Laut Hancur |
| Dampak Pengungsi | > 800.000 orang di Lebanon |
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau situasi ini dan mengimbau seluruh WNI di kawasan Timur Tengah untuk segera melaporkan diri dan mengikuti instruksi evakuasi jika diperlukan. (E-4)
MENTERI Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, melakukan serangkaian percakapan telepon dengan para menteri luar negeri dari empat negara Islam, yakni Kuwait, Bahrain, Pakistan, dan Qatar.
Chuck Schumer mengungkapkan bahwa sejak 28 Februari sedikitnya 140 personel militer AS mengalami luka-luka, termasuk delapan orang dengan luka serius.
Ancaman Iran menyerang kapal tanker di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran pasar energi global di tengah konflik dengan AS.
Tim pencari fakta PBB melaporkan kondisi memprihatinkan warga sipil Iran yang terjepit di antara serangan udara AS-Israel dan represi pemerintah yang kian sistematis.
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran tetap dipersilakan berpartisipasi pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, meski konflik Timur Tengah memanas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved