Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ketegangan Memanas, Bagaimana Konflik Thailand-Kamboja Bermula?

Ferdian Ananda Majni
11/12/2025 12:41
Ketegangan Memanas, Bagaimana Konflik Thailand-Kamboja Bermula?
Konflik di perbatasan Thailand dan Kamboja(Al Jazeera)

BENTROKAN militer dan konflik Thailand-Kamboja pada pekan ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran, dengan lebih dari setengah juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.  Ketegangan kembali meningkat di wilayah yang telah lama disengketakan dan terus memicu ketidakstabilan di sepanjang garis batas kedua negara.

Bagaimana konflik Thailand-Kamboja bermula?

Pertikaian perbatasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu kembali pecah setelah insiden baku tembak singkat pada Minggu, yang melukai dua tentara Thailand.  Masing-masing negara menuduh pihak lain memulai serangan, sementara Kamboja menegaskan pada Minggu dan Senin bahwa pihaknya tidak melakukan serangan balasan.

Situasi semakin memanas pada Senin ketika Thailand melancarkan serangan udara terhadap posisi militer Kamboja. Phnom Penh kemudian mengumumkan bahwa mereka merespons serangan tersebut pada malam hari. Hingga Rabu, sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari 500.000 penduduk mengungsi dari area yang menjadi lokasi pertempuran intens antara jet tempur, tank dan drone.

Pada Mei lalu, bentrokan di sepanjang perbatasan kembali meletus dan menewaskan seorang prajurit Kamboja. 

Ketegangan meningkat setelah kedua negara saling memberlakukan pembatasan, termasuk Thailand yang menutup jalur penyeberangan dan Kamboja menghentikan sejumlah impor.

Krisis politik di Thailand mencuat pada Juni setelah bocornya percakapan telepon diplomatik antara mantan pemimpin Kamboja dan perdana menteri Thailand saat itu. Ketegangan tersebut akhirnya memicu perubahan pemerintahan.

Situasi berubah menjadi konflik bersenjata besar pada Juli, ketika pertempuran berlangsung selama lima hari. Kamboja menembakkan roket dan artileri ke wilayah Thailand, sementara Angkatan Udara Thailand mengerahkan jet F-16 untuk menyerang target militer Kamboja. 

Pertempuran menelan puluhan korban jiwa dan memaksa sekitar 300.000 orang mengungsi sebelum kedua negara menyepakati gencatan senjata pada akhir Juli.

Kesepakatan gencatan senjata yang rapuh hanya bertahan hingga November. Ketika seorang tentara Thailand terluka akibat ledakan ranjau darat, Bangkok menuduh Kamboja baru saja menanam ranjau tersebut. Phnom Penh berkukuh bahwa ranjau itu merupakan peninggalan konflik lama.

Pekan ini, bentrokan paling serius sejak Juli kembali terjadi dan merembet ke lima provinsi di kedua negara. Kamboja kemudian memutuskan menarik kontingennya dari SEA Games 2025 yang digelar di Thailand, dengan alasan kekhawatiran akan keselamatan atlet.

Amerika Serikat, Tiongkok dan Malaysia berperan dalam membantu menghentikan pertempuran pada Juli lalu. Pada Oktober, Presiden AS Donald Trump memberikan dukungan terhadap deklarasi lanjutan, seraya memuji kesepakatan perdagangan baru dengan kedua negara yang tunduk pada perpanjangan gencatan senjata.

Dalam kesepakatan itu, kedua negara sepakat menarik senjata berat dari zona perbatasan. Thailand juga berkomitmen memulangkan 18 tentara Kamboja yang sebelumnya ditahan oleh Bangkok. Namun, pada bulan berikutnya, Thailand menangguhkan pelaksanaan perjanjian tersebut.

Trump menyatakan ia berencana melakukan telepon langsung pada Rabu untuk menangani perkembangan terbaru.

Sementara itu, Tiongkok menyerukan kedua negara agar menahan diri.

Bagaimana sejarah konflik Thailand-Kamboja?

Garis perbatasan Thailand-Kamboja sebagian besar ditetapkan selama masa kolonial Prancis di Indochina antara 1863 hingga pertengahan 1950-an. Pada Perang Dunia II, Thailand yang saat itu dikenal sebagai Siam sempat mengambil alih beberapa wilayah Kamboja, namun mengembalikannya ke Prancis pada 1946.

Runtuhnya rezim Khmer Merah pada 1979 semakin memperkeruh batas tersebut ketika para anggotanya melarikan diri ke sekitar perbatasan. Hingga kini, puluhan kilometer wilayah masih dipersengketakan.

Pada 2008, bentrokan terjadi di sekitar area dekat Kuil Preah Vihear berusia 900 tahun yang masuk daftar warisan dunia UNESCO. Kekerasan sporadis antara 2008-2011 menewaskan lebih dari dua lusin orang dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. (AFP/fer)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik