Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Donald Trump Siap Turun Tangan Selesaikan Konflik Thailand-Kamboja

Ferdian Ananda Majni
11/12/2025 12:31
Donald Trump Siap Turun Tangan Selesaikan Konflik Thailand-Kamboja
Presiden AS Donald Trump(instagram/@realdonaldtrump)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan turun tangan menyelesaikan konflik Thailand dan Kamboja. Konflik ini menyebabkan sekitar 500.000 warga dari Kamboja dan Thailand terpaksa mengungsi ke pagoda, sekolah, setelah bentrokan baru meletus di sepanjang perbatasan kedua negara.

Menurut pejabat setempat, sedikitnya 15 orang, yang terdiri atas tentara Thailand dan warga sipil Kamboja, telah tewas akibat pertempuran terbaru. Sementara itu, lebih dari setengah juta orang mengungsi dari kawasan dekat zona pertempuran yang melibatkan jet tempur, tank, dan drone.

Wartawan AFP di Samraong, kawasan barat laut Kamboja, melaporkan terdengarnya ledakan artileri pada Rabu pagi dari arah kompleks kuil tua di wilayah sengketa. Pada sore hari, ratusan keluarga meninggalkan pagoda tempat mereka mengungsi sejak awal pekan.

"Pihak berwenang mengatakan tempat ini tidak aman lagi," ujar Seut Soeung, 30 tahun, yang tampak beristirahat di pinggir jalan bersama keluarganya. Kendaraan yang lewat terlihat membawa orang-orang, hewan peliharaan, dan barang seadanya.

Seorang polisi yang meminta identitasnya dirahasiakan menjelaskan bahwa para pengungsi dipindahkan dari area kuil karena pertimbangan keamanan setelah sejumlah jet Thailand terbang di kawasan tersebut.

Thailand dan Kamboja telah lama terlibat perselisihan mengenai garis perbatasan sepanjang 800 kilometer yang berasal dari era kolonial. Klaim bertentangan atas sejumlah kuil bersejarah kerap menjadi pemicu eskalasi.

Bentrokan pekan ini menjadi yang paling mematikan sejak konflik lima hari pada Juli lalu yang menewaskan puluhan orang, sebelum dicapai gencatan senjata yang difasilitasi Trump.

Kedua negara saling menyalahkan atas pecahnya kembali konflik yang kini berdampak pada lima provinsi di Thailand dan Kamboja, berdasarkan kompilasi laporan resmi oleh AFP.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand menyebutkan bahwa lebih dari 400.000 warga telah dievakuasi ke lokasi perlindungan.

Niam Poda, petani tebu asal Sa Kaeo, Thailand, kembali mengungsi untuk kedua kalinya dalam lima bulan. Rumahnya hanya berjarak lima kilometer dari perbatasan.

Ia menceritakan bahwa dirinya sedang mencuci pakaian saat terdengar ledakan keras pada Senin.

"Saya harus lari menyelamatkan nyawa sesegera mungkin," ujarnya kepada AFP, seraya menambahkan bahwa ia meninggalkan obat-obatannya di rumah. 

"Apa pun yang terjadi selanjutnya, saya berharap perdamaian akan datang sehingga saya dapat kembali merawat tebu saya dengan tenang," tambahnya.

Militer Thailand memberlakukan jam malam mulai pukul 19.00 hingga 05.00 waktu setempat, di beberapa area Sa Kaeo sejak Rabu malam.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kamboja melaporkan bahwa lebih dari 101.000 warga telah dievakuasi ke rumah kerabat maupun tempat penampungan.

"Tentara Thailand menembak tanpa pandang bulu ke daerah sipil dan sekolah, dan terutama menembaki kuil Ta Krabey," kata juru bicara Maly Socheata, menyebut situs yang diklaim sebagai situs suci Kamboja.

Ia kemudian mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas di Kamboja meningkat menjadi sembilan warga sipil, termasuk seorang bayi.

Militer Thailand menyampaikan bahwa pada Rabu pagi, roket yang ditembakkan pasukan Kamboja jatuh di sekitar Rumah Sakit Phanom Dong Rak, Surin, ini lokasi yang juga terkena serangan pada bentrokan Juli lalu.

Kamboja juga mengumumkan penarikan diri dari SEA Games 2025 di Thailand dengan alasan keamanan atlet.

Gencatan senjata pada Juli lalu dimediasi oleh Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia sebagai ketua ASEAN. Pada Oktober, Trump mendukung deklarasi lanjutan dan mempromosikan paket kerja sama perdagangan baru setelah kedua negara sepakat memperpanjang gencatan senjata. Namun, Thailand menghentikan pelaksanaan perjanjian tersebut pada bulan berikutnya.

Dalam pidatonya di hadapan pendukung di AS pada Selasa, Trump menyebut sejumlah konflik yang menurutnya telah berhasil diatasi, termasuk sengketa Thailand-Kamboja.

"Besok, saya harus menelepon, dan saya pikir mereka akan mengerti," katanya mengenai kedua negara Asia Tenggara tersebut.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura menilai bahwa situasi saat ini belum memungkinkan dialog. (AFP/H-4)    
 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik