Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin membuka peluang bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah upaya Moskow melanjutkan proses negosiasi damai dengan Ukraina. Putin menyebut Trump sebagai 'pria pemberani' dan menyatakan Rusia siap mempersiapkan pertemuan tersebut.
Putin menegaskan, putaran ketiga pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina sedang dalam tahap penjadwalan.
Meski kedua negara telah menyerahkan dokumen yang disebutnya 'saling bertolak belakang', Putin menyebut hal itu sebagai dinamika wajar dalam proses diplomasi.
"Kami tengah mencari cara agar posisi kedua belah pihak bisa lebih mendekat," ujar Putin dikutip dari Anadolu Agency.
Di hadapan wartawan, Putin juga menyampaikan bahwa Rusia telah menyerahkan lebih dari 6.000 tahanan perang asal Ukraina dan siap menyerahkan sekitar 3.000 lainnya, sambil menunggu keputusan dari pihak Kyiv.
Mengenai hubungan bilateral dengan Washington, Putin mengklaim ada tanda-tanda awal stabilisasi. Ia menilai dunia usaha Amerika menunjukkan ketertarikan untuk kembali masuk ke pasar Rusia.
"Pertemuan dengan Trump sepenuhnya mungkin terjadi. Kami dengan senang hati akan mempersiapkannya," katanya.
"Dia adalah pria pemberani, itu jelas."
Dalam kesempatan yang sama, Putin memaparkan anggaran pertahanan Rusia yang tahun ini mencapai sekitar US$171 miliar atau sekitar Rp?2.776 kuadriliun.
Ia menekankan, alokasi dana besar tersebut ditujukan untuk memastikan berakhirnya operasi militer di Ukraina dengan hasil yang dinilai menguntungkan bagi Rusia, bukan untuk mengancam negara-negara Eropa.
Putin juga mengisyaratkan kemungkinan pengurangan anggaran militer dalam tiga tahun ke depan. Ia mengkritik kebijakan Eropa yang justru memilih meningkatkan belanja pertahanan.
Menanggapi tudingan Barat terkait agresi Rusia, Putin kembali menuding negara-negara Barat sebagai pihak yang bertindak provokatif sejak revolusi Ukraina 2014.
"Mereka mendalangi kudeta, membiayainya, lalu menuduh Rusia agresif. Mereka pikir kami bodoh, atau justru mereka yang bodoh?" sindirnya. (Ndf/M-3)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik puncak setelah upaya diplomasi terakhir di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
PRESIDEN AS, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diperkirakan akan berlangsung sekitar empat pekan, atau bahkan lebih singkat.
PM Inggris Keir Starmer resmi mengizinkan pangkalan militer Inggris digunakan AS untuk menggempur situs rudal Iran demi alasan pertahanan kolektif.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos tunjukkan hanya 25% warga AS dukung serangan ke Iran. Risiko lonjakan harga BBM dan korban jiwa tentara jadi ancaman bagi posisi Trump.
Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan resmi soal operasi militer terhadap Iran, termasuk target serangan, potensi korban, dan peluang dialog di tengah konflik.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung hingga empat minggu dan memperingatkan kemungkinan korban tambahan.
Sistem rudal bahu tersebut disebut akan dipasok Rusia ke Iran secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari kontrak bernilai ratusan juta euro.
Uni Eropa mengusulkan larangan transportasi dan layanan minyak Rusia, namun AS menolak dukungan, sementara negara G7 lain belum memberikan janji jelas.
NORAD kerahkan jet tempur F-35 untuk membayangi armada militer Rusia di zona ADIZ Alaska. AS tegaskan aktivitas ini rutin terjadi dan bukan merupakan ancaman.
Keputusan SpaceX memblokir akses Starlink bagi pasukan Rusia membawa dampak fatal. Koordinasi serangan drone Moskow lumpuh, memberi peluang emas bagi serangan balik Ukraina.
PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan kritik keras terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dengan menyebutnya sebagai budak perang setelah serangan Rusia berdampak pada listrik
Sejumlah negara Eropa dilaporkan bahas pengembangan penangkal nuklir pertama sejak Perang Dingin, respons ancaman Rusia dan dinamika NATO.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved