Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAPOR Khusus PBB untuk Pembela Hak Asasi Manusia, Mary Lawlor menyoroti dampak perang yang sedang berlangsung di Gaza terhadap hak asasi manusia.
Lawlor menyerahkan laporan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengenai tantangan yang dihadapi hak asasi anak dan remaja.
“Saya memutuskan untuk fokus pada anak-anak dan remaja yang merupakan pembela hak asasi manusia. Karena mereka adalah orang-orang yang akan membawa gerakan hak asasi manusia di masa depan,” katanya.
Baca juga : 6.000 Bom Israel di Palestina 6 Hari, Setara dengan Setahun Bom AS di Afghanistan
Khususnya di Gaza, ia berpendapat kelompok perlawanan Palestina, Hamas melakukan kejahatan perang pada 7 Oktober dengan membunuh dan menyandera warga sipil.
Namun Lawlor menggarisbawahi tanggapan Israel terhadap serangan itu tidak proporsional. Pasalnya bertentangan dengan norma dan standar internasional terkait.
“Serangan Israel di Gaza, yang mana 70% korbannya adalah perempuan dan anak-anak, merupakan kejahatan perang,” ujarnya.
Baca juga : Gaza Hari Ini: Bayi 7 Hari Jadi Korban Syahid Termuda
Mengungkap dua perempuan pembela hak asasi manusia di Gaza yang ditemuinya secara langsung, terbunuh dalam serangan Israel, “Kami tahu bahwa anak-anak sekarat karena kelaparan di Gaza. Kami tahu ada masalah serius dalam mengakses rumah sakit dan layanan medis,” kata Lawlor.
Ia juga menyoroti fakta bahwa pendudukan Israel di Palestina dan blokade terhadap Gaza bukanlah hal baru, ia menyatakan bahwa tujuan Tel Aviv untuk melenyapkan Hamas tidak akan mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama.
“Barbarisme berupa penghancuran total infrastruktur dan pembantaian warga sipil membuat saya benar-benar putus asa apakah (serangan Israel) ini akan berhenti. Satu-satunya hal yang dapat memaksa hal ini adalah kenyataan bahwa AS, Jerman, dan Inggris, khususnya, tidak lagi secara sepihak mendukung Israel di setiap tahap,” tambah Lawlor.
Baca juga : Gempuran Israel ke Jalur Gaza Tewaskan Lebih Banyak Anak Ketimbang Konflik di Dunia Selama 4 Tahun
Lawlor mengatakan menghentikan pendanaan bagi UNRWA, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pengungsi Palestina, adalah hal yang gila karena hanya UNRWA yang melayani warga Gaza, sekolah, dan rumah sakit di wilayah kantong Palestina itu.
“Penyelidikan atas tuduhan terhadap UNRWA sedang berlangsung. Orang-orang (Gaza) yang putus asa itu tidak boleh dibiarkan menjadi korban politik antarnegara,” katanya.
Israel menuduh staf UNRWA tersebut terlibat dalam serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober.
Baca juga : Israel Tolak Pelapor Khusus PBB Masuki Gaza
Situasi di Gaza saat ini sedang diperiksa oleh Mahkamah Internasional, dan Lawlor menekankan bahwa pengadilan PBB akan memutuskan situasi di Gaza.
“Entah (keputusan) itu genosida atau tidak, tapi saya katakan ada risiko genosida (di Gaza),” katanya.
Dia mengatakan negara-negara seperti AS, Inggris, dan Uni Eropa, yang punya pengaruh ke Israel, memiliki peran sangat penting. Mereka memikul tanggung jawab besar untuk menghentikan perang Israel di Gaza
Jika negara-negara itu memilih abstain atau memveto resolusi di Dewan Keamanan PBB, "Bagi saya, itu tidak bisa dimaafkan,” tegas dia. (Anadolu/Z-3)
WAKIL Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto Sipin menegaskan penolakan terhadap hukuman mati dengan menempatkan isu tersebut dalam kerangka hak hidup.
Usman Hamid, menilai kasus kekerasan Brimob di Tual mencerminkan lemahnya akuntabilitas dan pengawasan di tubuh Polri.
Transparansi digital melalui media sosial membuat kasus-kasus tersebut kini lebih mudah terungkap ke permukaan.
Amnesty International Indonesia menilai kematian pelajar 14 tahun di Tual, Maluku, memperpanjang dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat dan mendesak reformasi struktural Polri.
Pasukan Israel tangkap 100 lebih warga Palestina sejak awal Ramadan di Tepi Barat. Penangkapan diwarnai kekerasan, sabotase rumah, dan penyitaan aset warga sipil.
Rancangan Perpres pelibatan TNI dalam terorisme inkonstitusional dan berisiko langgar HAM.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved