Minggu 20 November 2022, 13:13 WIB

Kembali Rebut Kherson, Ukraina Tolak Berdamai dengan Rusia

Cahya Mulyana | Internasional
Kembali Rebut Kherson, Ukraina Tolak Berdamai dengan Rusia

Ihor TKACHOV / AFP
Seorang tentara Ukraina berjalan di Bandara Kherson, Ukraina, Sabtu (19/11), yang telah kembali dikuasai militer Ukraina.

 

UKRAIAN mengaku senang dengan pencapaian serangan balik terhadap Rusia dengan terbaru merebut Kherson setelah Rusia menarik pasukan militernya dari wilayah tersebut.

Untuk itu, Kyiv enggan kembali ke meja perundingan damai dengan Moskow.

Bahkan Ukraina menganggap aneh negara-negara Barat karena mendorong isu tersebut.

"Ketika Anda memiliki inisiatif di medan perang, agak aneh menerima proposal seperti Anda tidak akan dapat melakukan semuanya dengan cara militer, Anda perlu bernegosiasi," kata penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Mykhaylo Podolyak.

Menurut Podolyak, Ukraina tidak akan menempuh jalan untuk berdamai dengan negara yang kalah yakni Rusia.

"Itu seakan berarti bahwa negara yang telah memulihkan wilayahnya, harus menyerah kepada negara yang kalah," tambahnya.

Baca juga: Inggris Bantu Pertahanan Udara Militer Ukraina Senilai USD 60 Juta

Media Amerika Serikat (AS) baru-baru ini melaporkan bahwa beberapa pejabat senior Washington mulai mendorong Ukraina untuk mempertimbangkan pembicaraan damai.

"Harus ada saling pengakuan bahwa kemenangan militer mungkin dalam arti sebenarnya mungkin tidak dapat dicapai melalui cara militer," kata Jenderal AS Mark Milley.

Ia memperkirakan bahwa terdapat peluang bagi Ukraina untuk kembali ke jalan perundingan damai dengan Rusia guna mengakhiri konflik. Namun menurut Podolyak, Moskow belum membuat proposal yang ditujukan secara langsung kepada Kyiv.

Negosiasi tidak masuk akal

Kyiv juga melihat pembicaraan seperti itu hanya sebagai manuver Kremlin untuk mendapatkan jeda di lapangan dan mempersiapkan serangan baru.

"Rusia tidak menginginkan negosiasi. Rusia sedang melakukan kampanye komunikasi yang disebut negosiasi," kata Podolyak.

Terlepas dari kekalahan besar militer Rusia dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di Kherson, Presiden Vladimir Putin masih berpikir dia dapat menghancurkan Ukraina.

"Ini adalah obsesinya dan bernegosiasi tidak masuk akal", kata Podolyak.

Rudal jarak jauh Moskow telah menembaki infrastruktur energi Ukraina selama berminggu-minggu, membuat jutaan rumah menjadi gelap gulita. Tapi Podolyak mengatakan pihaknya akan membuat serangan balik besar.

Wilayah Zaporizhzhia di Ukraina selatan dan Lugansk di timur sekarang menjadi arah sasaran Ukraina. "Otoritas Ukraina menyerukan peningkatan pengiriman senjata Barat, yang sangat penting di musim dingin," tambahnya.

"Perang akan berakhir ketika kita mendapatkan kembali kendali atas perbatasan kita dan ketika Rusia takut terhadap Ukraina," pungkasnya. (AFP/Cah/OL-09)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Indonesia Siap Nahkodai ASEAN Maju dan Damai

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 26 November 2022, 13:41 WIB
"Indonesia menginginkan agar ASEAN tetap penting dan relevan. Indonesia juga ingin kawasan Asia Tenggara tetap menjadi pusat...
AFP/YURIY DYACHYSHYN

Ukraina Keluhkan Krisis Energi

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 26 November 2022, 10:43 WIB
"Sampai malam ini, pemadaman listrik berlanjut di sebagian besar wilayah (Ukraina) dan di Kyiv. Secara total, lebih dari enam juta...
ANTARA/Maha Eka Swasta

Kemenlu Sebut tidak Ada WNI jadi Korban Banjir Jeddah

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 November 2022, 06:53 WIB
"Hingga saat ini tidak ada WNI yang dilaporkan menjadi korban dalam peristiwa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya