Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Gejolak Timur Tengah Memanas, Pemerintah Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia

Insi Nantika Jelita
17/3/2026 14:49
Gejolak Timur Tengah Memanas, Pemerintah Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuturkan pemerintah Indonesia membuka opsi impor minyak mentah (crude).(Dok. MI/Insi Nantika Jelita )

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menuturkan pemerintah Indonesia membuka opsi impor minyak mentah (crude) dari Rusia. Langkah ini dipertimbangkan seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Ia mengatakan peluang impor minyak mentah dari Rusia terbuka, sebagaimana dilakukan sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat.

"Ya kenapa tidak? (impor minyak mentah dari Rusia). Oh Amerika aja sekarang sudah membuka untuk Rusia kok," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3).

Politikus Partai Golkar itu menegaskan semua kemungkinan dapat dipertimbangkan selama pasokan tersedia dan harga yang ditawarkan kompetitif. 

"Semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting," katsnyan

Selain Rusia, pemerintah Indonesia juga membuka peluang penjajakan impor minyak bumi dari Brunei Darussalam sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Brunei diketahui memiliki kapasitas produksi minyak sekitar hingga 110.000 barel per hari.

Opsi tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister’s Office Brunei Darussalam Mohamad Azmi Bin Mohd Hanifah, yang berlangsung di sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo.

Dalam pertemuan itu, Bahlil mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjajaki peluang kerja sama dengan Brunei, termasuk kemungkinan Indonesia menyerap pasokan gas C3 dan C4 dari negara tersebut.

Selain itu, terdapat pula opsi untuk membangun industri elpiji di Brunei dengan tujuan produksi yang nantinya dipasok ke Indonesia. Ia menegaskan seluruh skema kerja sama masih terbuka dan berpotensi untuk direalisasikan, seiring upaya pemerintah memastikan ketersediaan energi dengan harga yang kompetitif.

"Kami juga mengatakan kalau mereka mempunyai gas C3 C4 untuk bahan baku LPG, bisa kita ambil punya mereka juga atau kita bangun industri elpiji di sana untuk objekernya di Indonesia. Ya kemungkinan semua ada," tuturnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya