Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Tanker Rusia Arctic Metagaz Bocor di Mediterania, Ancaman Bencana Lingkungan

Thalatie K Yani
17/3/2026 07:39
Tanker Rusia Arctic Metagaz Bocor di Mediterania, Ancaman Bencana Lingkungan
Kapal tanker Rusia Arctic Metagaz terombang-ambing tanpa awak setelah serangan drone. Membawa 60.000 ton gas, Italia menyebutnya 'bom waktu'.(Media Sosial X)

OTORITAS maritim internasional mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh pelaut untuk menjauhi kapal tanker bahan bakar Rusia, Arctic Metagaz, yang terombang-ambing tanpa awak di antara perairan Italia dan Malta. Kapal sepanjang 277 meter tersebut mengalami kerusakan parah setelah diduga menjadi sasaran serangan drone pada awal Maret lalu.

Rekaman pengawasan udara memperlihatkan kondisi kapal yang menghitam akibat kebakaran, miring ke satu sisi, dan memiliki lubang besar pada lambung kiri (port side). Di sekitar kapal, mulai terlihat lapisan zat berminyak yang memicu kekhawatiran akan terjadinya bencana lingkungan skala besar di Laut Mediterania.

"Bom Waktu" Berisi Gas

Berdasarkan data otoritas Italia, Arctic Metagaz membawa muatan berbahaya berupa 900 metrik ton bahan bakar diesel dan lebih dari 60.000 metrik ton gas alam cair (LNG). Kapal ini diduga merupakan bagian dari "armada bayangan" (shadow fleet) Moskow, kumpulan kapal tua yang digunakan secara rahasia untuk mengangkut minyak Rusia guna menghindari sanksi Barat.

Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Murmansk menuju Mesir ketika diserang pada 3 Maret di perairan internasional, sekitar 168 mil laut tenggara Malta. Kementerian Luar Negeri Rusia menuding drone laut Ukraina sebagai dalang di balik insiden ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengecam keras serangan tersebut. "Serangan terhadap kapal komersial ini adalah aksi terorisme dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional," tegas Zakharova. Ia juga menyayangkan bungkamnya negara-negara Eropa meski insiden terjadi di dekat wilayah mereka.

Reaksi Keras Italia dan Malta

Pemerintah Italia di bawah Perdana Menteri Giorgia Meloni telah menggelar sidang darurat bersama jajaran menteri pertahanan dan energi. Hasilnya, Italia menolak keras jika kapal tersebut bersandar di pelabuhan mereka.

"Kapal itu tidak bisa bersandar dengan aman. Itu adalah bom waktu yang terisi penuh dengan gas," ujar seorang juru bicara kementerian yang menghadiri pertemuan tersebut kepada CNN.

Hingga Minggu lalu, kapal tersebut dilaporkan hanyut hingga 20 mil laut dari Pulau Linosa, Sisilia. Baik Italia maupun Malta telah mengerahkan kapal tunda (tugboat) dan peralatan anti-polusi untuk mengantisipasi kebocoran lebih lanjut.

Risiko Ekologis yang Tak Terpulihkan

Organisasi konservasi dunia, WWF, memperingatkan penenggelaman atau kebocoran kapal ini akan berdampak fatal bagi ekosistem Mediterania. Wilayah tempat kapal tersebut hanyut merupakan rumah bagi hampir semua spesies laut yang dilindungi, termasuk jalur migrasi tuna sirip biru dan ikan pedang.

"Potensi tumpahan dapat menyebabkan kebakaran laut, awan kriogenik yang mematikan bagi satwa liar, serta polusi jangka panjang pada air dan atmosfer," tulis WWF dalam pernyataan resminya. Mereka menambahkan kerusakan ini bisa bersifat ireversibel (tidak dapat pulih) dan menghancurkan ekonomi lokal yang bergantung pada sektor perikanan dan pariwisata.

Hingga saat ini, pihak pemilik kapal, LLC SMP Techmanagement, belum memberikan konfirmasi terkait upaya penyelamatan (salvage), sementara otoritas Malta masih mengkaji apakah kapal tersebut bisa ditarik ke pelabuhan atau harus ditenggelamkan di laut dalam. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik