Sabtu 09 Oktober 2021, 22:10 WIB

ISIS Mengebom Masjid Syiah Afghanistan, Korban Jiwa Diduga 100

Mediaindonesia.com | Internasional
ISIS Mengebom Masjid Syiah Afghanistan, Korban Jiwa Diduga 100

AFP/Hoshang Hashimi.
Kerabat dan teman memegang kain yang menutupi kuburan korban serangan bom bunuh diri kemarin terhadap jemaah di masjid Syiah.

 

PARA pelayat dari komunitas minoritas Syiah Afghanistan menguburkan puluhan jenazah pada Sabtu (9/10). Ini setelah serangan bunuh diri di suatu masjid yang menewaskan lebih dari 60 orang. Peristiwa itu menandai serangan paling berdarah sejak pasukan AS meninggalkan negara itu pada Agustus.

Seorang penggali kubur di permakaman Syiah yang menghadap ke kota utara Kunduz mengatakan kepada AFP bahwa mereka telah menangani 62 mayat. Laporan lokal menyebutkan jumlah korban terakhir bisa mencapai 100.

Puluhan lebih korban juga terluka dalam ledakan Jumat (8/10). Ledakan itu diklaim oleh kelompok ISIS dan tampaknya dirancang untuk lebih mengacaukan Afghanistan setelah pengambilalihan Taliban.

Cabang regional dari sektarian ISIS, yang dikenal sebagai Islamic State-Khorasan (IS-K), telah berulang kali menargetkan syiah di Afghanistan. ISIS ialah kelompok Islam suni seperti Taliban, tetapi keduanya tergolong saingan sengit.

IS-K mengatakan serangan itu dilakukan oleh seorang pengebom bunuh diri Muslim Uyghur yang telah meledakkan rompi peledak di tengah kerumunan jemaah Syiah. Serangan itu terjadi selama salat Jumat. Penduduk kota mengatakan kepada AFP bahwa ratusan jemaah berada di dalam masjid itu.

Dalam adegan yang menyayat hati, kerabat berkumpul di sekitar kuburan yang baru digali di Kunduz meratapi orang yang mereka cintai. "Kami benar-benar terluka dengan yang terjadi," ungkap Zemarai Mubarak Zada, 42, kepada AFP saat dia meratapi keponakannya yang berusia 17 tahun yang ingin mengikuti jejaknya menjadi dokter.

"Dia ingin menikah. Dia ingin kuliah," katanya.

Puing masjid

Gambar dari lokasi serangan Jumat itu menunjukkan puing-puing berserakan di dalam masjid. Jendelanya pecah akibat ledakan. Beberapa pria terlihat membawa tubuh terbungkus kain berdarah ke ambulans.

"Itu adalah insiden yang sangat mengerikan," kata seorang guru di Kunduz, yang tinggal di dekat masjid.
"Banyak tetangga kami terbunuh dan terluka. Seorang tetangga berusia 16 tahun terbunuh. Mereka tidak dapat menemukan setengah dari tubuhnya."

Aminullah, seorang saksi mata yang saudaranya berada di masjid, mengatakan, "Setelah saya mendengar ledakan, saya menelepon saudara saya tetapi dia tidak mengangkatnya. Saya berjalan menuju masjid dan menemukan saudara laki-laki saya terluka dan pingsan. Kami segera membawanya ke rumah sakit MSF.

Tuduhan Taliban

Upaya Taliban untuk mengonsolidasikan kekuasaan telah dirusak oleh serangkaian serangan IS-K yang mematikan. Kepala keamanan Taliban di kota utara menuduh penyerang masjid berusaha menimbulkan masalah antara syiah dan suni. "Kami meyakinkan saudara-saudara syiah kami bahwa di masa depan kami akan memberikan keamanan bagi mereka dan bahwa masalah seperti itu tidak akan terjadi pada mereka," kata Mulawi Dost Muhammad.

Serangan itu disambut dengan kecaman internasional yang luas. Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan agar para pelaku diadili. Guterres mengutuk dalam istilah terkuat serangan mengerikan itu yang ketiga terhadap suatu lembaga keagamaan di Afghanistan dalam seminggu, kata juru bicaranya.

Dipandang sesat oleh ekstremis suni seperti IS, muslim syiah telah menderita beberapa serangan paling kejam di Afghanistan, seperti pengeboman aksi unjuk rasa, penargetan rumah sakit, dan penyergapan penumpang.

Syiah membentuk sekitar 20% dari populasi Afghanistan. Banyak dari mereka ialah Hazara, kelompok etnis yang telah dianiaya selama beberapa dekade.

Pada Oktober 2017, seorang penyerang bunuh diri ISIS menyerang masjid Syiah di barat Kabul, menewaskan 56 orang dan melukai 55 orang. Pada Mei tahun ini, serangkaian pengeboman di luar sekolah di ibu kota menewaskan sedikitnya 85 orang, kebanyakan gadis-gadis muda. Lebih dari 300 orang terluka dalam serangan terhadap komunitas Hazara ini.

Terorisme

Michael Kugelman, pakar Asia Selatan di Pusat Cendekiawan Internasional Woodrow Wilson, mengatakan kepada AFP bahwa Taliban akan kesulitan mengonsolidasikan kekuasaan kecuali mereka mengatasi terorisme dan krisis ekonomi yang berkembang. "Jika Taliban, kemungkinan besar, tidak dapat mengatasi masalah ini, mereka akan berjuang untuk mendapatkan legitimasi domestik dan kita bisa melihat munculnya perlawanan bersenjata baru," katanya.

Amerika Serikat mengadakan pertemuan tatap muka pertama dengan Taliban sejak pasukannya mundur, pada pertemuan di Doha, Sabtu. Delegasi AS akan menekan Taliban untuk memastikan teroris tidak membuat pangkalan untuk serangan di negara itu, kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri.

Itu juga menekan penguasa baru Afghanistan untuk membentuk pemerintahan inklusif dan menghormati hak-hak perempuan dan anak perempuan, kata pejabat itu, menekankan pertemuan itu tidak menunjukkan Washington mengakui kekuasaan Taliban. "Kami tetap jelas bahwa legitimasi apa pun harus diperoleh melalui tindakan Taliban sendiri," kata pejabat itu.

Baca juga: Takut Tindakan Keras Taliban, Seratusan Musisi Lari dari Afghanistan

Taliban sedang mencari pengakuan internasional serta bantuan. Ini dilakukannya untuk menghindari bencana kemanusiaan dan meredakan krisis ekonomi Afghanistan. (AFP/OL-14)

Baca Juga

dok.mi

Presiden AAYG Dukung Pemerintah RI Wujudkan Perdamaian Dunia

👤mediandonesia.com 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:45 WIB
Presiden Asian African Youth Government (AAYG), Respiratori Saddam Al Jihad mendukung pemerintah RI untuk terlibat aktif mewujudkan...
dok.AFP

Ukraina Klaim Sukses Buat Rusia Kelabakan di Krimea

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 11:21 WIB
Ukraina telah menyatakan kesuksesan atas sejumlah serangan di Krimea yang membuat Rusia panik. Kyiv akan melanjutkannya sampai kekuatan...
AFP/MOHAMMED ABED

Israel Akhirnya Akui Membunuh 5 Anak Palestina yang Sedang Bermain

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 10:52 WIB
Saat terjadinya serangan, militer Israel sempat mengklaim kelima anak itu tewas akibat terkena roket milik Jihad...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya