Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Taliban Kecam Serangan Udara Pakistan sebagai Pelanggaran Kedaulatan

Ferdian Ananda Majni
23/2/2026 15:48
Taliban Kecam Serangan Udara Pakistan sebagai Pelanggaran Kedaulatan
Pesawat jet tempur. ANTARA/Anadolu(Ilustrasi )

SERANGAN udara Pakistan ke wilayah Afghanistan kembali memicu ketegangan di perbatasan. Islamabad menyebut operasi itu menyasar kamp militan, sementara Taliban menuding serangan menghantam area sipil dan menewaskan perempuan serta anak-anak.

Pakistan melancarkan sejumlah serangan udara ke wilayah Afghanistan pada malam hari, yang menurut otoritas Taliban menewaskan sedikitnya 18 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Islamabad menyatakan operasi itu menyasar kamp dan tempat persembunyian militan di dekat perbatasan kedua negara.

Pemerintah Pakistan menyebut serangan dilakukan setelah rangkaian bom bunuh diri di dalam negeri. Sementara itu, pihak Afghanistan mengecam tindakan tersebut dan menuding sejumlah rumah warga serta sekolah agama turut menjadi sasaran.

Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang disepakati pada Oktober lalu, menyusul bentrokan lintas batas yang menewaskan puluhan orang. Meski ada kesepakatan, ketegangan di perbatasan masih kerap terjadi.

Serangan di Nangarhar dan Paktika

Kementerian Pertahanan Taliban menyatakan serangan menyasar wilayah sipil di Provinsi Nangarhar dan Paktika dan menyebabkan puluhan korban.

Di Desa Girdi Kas, Distrik Bihsud, Nangarhar, seorang warga bernama Shahabuddin mengatakan kepada wartawan bahwa dari 23 anggota keluarganya, hanya lima yang selamat setelah rumahnya hancur akibat serangan. 

Juru bicara Taliban setempat, Sayed Taib Hamd menyebut 18 anggota keluarga tewas. Sebelumnya, BBC menerima informasi bahwa sekitar 20 orang diperkirakan meninggal dunia.

Di wilayah lain yang terdampak, belum ada laporan korban jiwa. Sebuah wisma dan sekolah agama dilaporkan menjadi sasaran di Distrik Bermal dan Urgun, Provinsi Paktika. Namun, menurut pejabat dan warga setempat, bangunan tersebut dalam keadaan kosong saat serangan terjadi.

Klaim Pakistan dan Respons Taliban

Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyatakan telah melakukan penargetan selektif berbasis intelijen terhadap tujuh kamp dan tempat persembunyian teroris.

Dalam pernyataan di platform X, kementerian menyebut target mencakup anggota Tehreek-i-Taliban Pakistan (TTP) yang dilarang, yang oleh pemerintah disebut sebagai Fitna al Khawarij bersama afiliasinya dan kelompok Negara Islam-Provinsi Khorasan.

Pemerintah Pakistan menyebut serangan tersebut sebagai balasan setimpal atas bom bunuh diri baru-baru ini di Pakistan, yang menurut Islamabad dilakukan kelompok militan yang mendapat perlindungan dari Kabul.

Beberapa serangan terbaru di Pakistan mencakup pengeboman masjid Syiah di Islamabad awal bulan ini, serta insiden lain di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa sejak Ramadan dimulai.

Pakistan menuding Taliban Afghanistan gagal menindak militan dan mengeklaim memiliki bukti yang meyakinkan bahwa serangan-serangan tersebut dilakukan atas instruksi pimpinan mereka di Afghanistan.

Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan Taliban menyebut serangan Pakistan sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap integritas teritorial Afghanistan dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

Taliban memperingatkan bahwa tanggapan yang tepat dan terukur akan diambil pada waktu yang tepat, serta menilai serangan terhadap target sipil dan lembaga keagamaan menunjukkan kegagalan tentara Pakistan dalam intelijen dan keamanan.

Serangan ini terjadi beberapa hari setelah Arab Saudi memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang sebelumnya ditahan di Kabul akibat bentrokan perbatasan Oktober lalu. Bentrokan tersebut berakhir dengan gencatan senjata sementara, yang menjadi yang terburuk sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021.

Pakistan dan Afghanistan berbagi perbatasan pegunungan sepanjang sekitar 2.574 kilometer, wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi titik rawan aktivitas kelompok bersenjata dan ketegangan bilateral. (BBC/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya