Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MILITER Pakistan mengeklaim menewaskan sedikitnya 70 militan dalam serangan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan pada Minggu (22/2) pagi. Operasi tersebut disebut menargetkan lokasi persembunyian kelompok militan Pakistan yang dituduh berada di balik sejumlah serangan di dalam negeri.
Wakil Menteri Dalam Negeri Pakistan, Talal Chaudhry mengatakan kepada Geo News bahwa sedikitnya 70 militan tewas, tanpa merinci bukti pendukung. Media pemerintah kemudian melaporkan jumlah korban meningkat menjadi 80 orang.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan bahwa berbagai daerah sipil di Provinsi Nangarhar dan Paktika terkena dampak serangan, termasuk sebuah madrasah dan beberapa rumah warga. Kabul menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran wilayah udara dan kedaulatan Afghanistan.
Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid mengatakan serangan itu menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Direktur Palang Merah Afghanistan untuk Provinsi Nangarhar, Mawlawi Fazl Rahman Fayyaz, melaporkan 18 orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Kementerian Luar Negeri Afghanistan memanggil duta besar Pakistan di Kabul dan menyerahkan nota protes resmi.
Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan bahwa melindungi wilayah Afghanistan adalah tanggung jawab Syariah Emirat Islam dan memperingatkan Pakistan akan bertanggung jawab atas konsekuensi serangan tersebut.
Di Nangarhar, warga terlihat membersihkan puing-puing bangunan yang rusak akibat serangan udara, sementara keluarga korban mempersiapkan pemakaman.
Seorang tetua suku setempat, Habib Ullah, menyatakan korban bukanlah militan.
"Mereka adalah orang miskin yang sangat menderita. Mereka yang tewas bukanlah Taliban, bukan pula personel militer, atau anggota pemerintah sebelumnya. Mereka menjalani kehidupan desa yang sederhana," katanya.
Di sisi lain, Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menulis di X bahwa militer melakukan operasi selektif berbasis intelijen terhadap tujuh kamp milik Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan afiliasinya. Ia juga menyebut kelompok afiliasi ISIS menjadi sasaran.
Tarar menyatakan Pakistan selalu berupaya menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan ini, namun menegaskan keselamatan warga Pakistan tetap menjadi prioritas utama.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan militan meningkat di Pakistan, terutama dikaitkan dengan TTP dan kelompok separatis Baloch yang dilarang.
TTP terpisah namun memiliki hubungan erat dengan Taliban Afghanistan. Islamabad menuduh TTP beroperasi dari wilayah Afghanistan, tudingan yang dibantah Kabul dan kelompok tersebut.
Beberapa jam sebelum serangan lintas batas, seorang pelaku bom bunuh diri menyerang konvoi keamanan di distrik Bannu, menewaskan dua tentara, termasuk seorang letnan kolonel.
Militer Pakistan menyatakan tidak akan menahan diri dan akan terus melakukan operasi terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Serangan lain terjadi pekan lalu di distrik Bajaur, ketika kendaraan bermuatan bahan peledak menabrak pos keamanan dan menewaskan 11 tentara serta seorang anak. Otoritas Pakistan menyebut pelaku sebagai warga negara Afghanistan.
Tarar mengatakan Pakistan memiliki bukti konklusif bahwa serangan-serangan terbaru, termasuk bom bunuh diri yang menargetkan masjid Syiah di Islamabad dan menewaskan 31 jemaah awal bulan ini, dilakukan atas perintah kepemimpinan dan penangan mereka yang berbasis di Afghanistan.
Ia menambahkan Pakistan telah berulang kali mendesak otoritas Taliban Afghanistan untuk mengambil langkah nyata mencegah penggunaan wilayahnya oleh kelompok militan.
Namun menurutnya, belum ada tindakan substantif yang dilakukan. Tarar juga meminta komunitas internasional menekan otoritas Taliban agar mematuhi komitmen dalam Perjanjian Doha untuk tidak mengizinkan wilayah Afghanistan digunakan melawan negara lain.
Analis keamanan di Islamabad, Abdullah Khan, menilai serangan tersebut menunjukkan kegagalan mediasi yang dipimpin Qatar, Turki, dan Arab Saudi dalam meredakan ketegangan kedua negara.
"Serangan ini kemungkinan akan semakin memperburuk situasi," ujarnya.
Sebelumnya, gencatan senjata yang dimediasi Qatar tercapai setelah bentrokan mematikan pada Oktober yang menewaskan puluhan tentara, warga sipil dan tersangka militan.
Meski gencatan senjata sebagian besar bertahan, sejumlah perundingan lanjutan di Istanbul pada November belum menghasilkan kesepakatan formal dan hubungan Islamabad-Kabul tetap berada dalam ketegangan. (NPR/Fer/I-1)
DINAS pers tentara Pakistan, ISPR, melaporkan empat tentara Pakistan tewas dalam bentrokan dengan kelompok militan Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP).
PAKISTAN kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan dengan dalih memburu militan.
SERANGAN udara Pakistan ke wilayah Afghanistan kembali memicu ketegangan di perbatasan. Islamabad menyebut operasi itu menyasar kamp militan
Pakistan melancarkan serangan udara ke Nangarhar dan Paktika di Afghanistan. Kabul menuduh warga sipil tewas dan terluka, sementara Islamabad mengklaim operasi menargetkan TTP dan ISKP.
SEDIKITNYA 31 orang tewas dan 169 lain luka-luka ketika seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di suatu masjid Syiah selama salat Jumat di ibu kota Pakistan, Islamabad.
LEDAKAN langka di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Selasa (11/11) menewaskan 12 orang dan melukai 20 orang. Demikian disampaikan Rumah Sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved