Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan membahas pendalaman kerja sama industri pertahanan dengan Rusia selama pembicaraan dengan Presiden Vladimir Putin pada minggu ini. Hal tersebut disampaikan pemimpin Turki itu, Kamis (30/9).
Erdogan dan Putin mengadakan pembicaraan tatap muka pertama mereka dalam 18 bulan di resort Laut Hitam Sochi pada Rabu (29/9). Konflik Suriah menjadi agenda utama mereka.
"Kami memiliki kesempatan untuk mendiskusikan langkah yang bisa kami ambil pada mesin pesawat, pesawat tempur," kata pemimpin Turki itu kepada wartawan sekembalinya ke Turki. "Area lain yang kita dapat mengambil beberapa langkah bersama yakni membangun kapal. Insyaallah kita akan mengambil langkah bersama bahkan di kapal selam," tambahnya kepada penyiar NTV.
Kedua pemimpin itu bahkan berbicara tentang kerja sama Turki-Rusia di luar angkasa. Komentarnya akan menarik perhatian Barat, terutama Amerika Serikat, setelah Washington menjatuhkan sanksi kepada Turki tahun lalu atas pembelian multimiliar dolar sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.
AS juga mengeluarkan Turki dari program F-35. Sekutu Barat memproduksi suku cadang jet tempur generasi berikutnya tersebut dan mengamankan hak pembelian awal.
Ankara mengharapkan sebanyak 100 jet tempur siluman. Beberapa pemasok Turki terlibat dalam pembangunan.
Erdogan menegaskan kembali komitmen Turki terhadap S-400 dan bersumpah bahwa Ankara tidak akan mundur dari pembelian itu sekaligus meminta AS untuk memberikan pesawat yang dipesan Turki atau mengembalikan pembayarannya senilai US$1,4 miliar.
Baca juga: Erdogan Janji Turki akan Ratifikasi Kesepakatan Paris
Hubungan antara Turki dan AS tengah tegang. Erdogan mengakui pekan lalu bahwa hubungan pribadinya dengan Presiden AS Joe Biden tidak dimulai dengan baik. Namun Biden dan Erdogan diperkirakan bertemu pada KTT G20 di Roma bulan depan. (AFP/OL-14)
Sejumlah negara Eropa dilaporkan bahas pengembangan penangkal nuklir pertama sejak Perang Dingin, respons ancaman Rusia dan dinamika NATO.
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa atau PBB dan Rusia menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan perdana Board of Peace yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump
SERANGAN udara terbaru Rusia menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur vital di Ukraina. Listrik dan air dilaporkan tidak dapat diakses di ibu kota Kyiv
Kremlin pastikan Rusia absen dari pertemuan perdana Board of Peace di Washington pada 19 Februari. Moskow masih pelajari urgensi badan pengelola Gaza tersebut.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
Kim Jong-un sinyalkan penguatan nuklir dan ICBM pada Kongres Partai ke-9. Pyongyang fokus pada pembangunan militer luar biasa dan konsolidasi kekuasaan absolut.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy, mengungkapkan bahwa negara tersebut berhasil menyambut 64 juta pengunjung sepanjang 2025.
Fenomena lithospheric dripping ini juga memperlihatkan suatu hubungan menarik antara pengangkatan dataran tinggi dan penurunan cekungan di area yang sama.
Penghentian penyelidikan antidumping oleh Turki menjadi penegasan atas meningkatnya kredibilitas produk baja nirkarat Indonesia di pasar internasional.
Posisi Turki sangat strategis sebagai lokasi belajar bagi pemuda dunia. Menurutnya, negara tersebut merupakan laboratorium hidup di mana peradaban bertemu dan berkolaborasi secara nyata.
Presiden Donald Trump umumkan tarif impor 25% bagi negara mana pun yang berbisnis dengan Iran. Langkah ini diambil di tengah wacana opsi militer AS ke Teheran.
Menlu Sugiono dan Menhan Sjafrie bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul, membahas situasi Gaza dan rencana Pasukan Stabilisasi Internasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved