Senin 13 September 2021, 21:10 WIB

PBB Sebut Taliban Ingkar Janji Soal Hak-hak Perempuan

Mediaindonesia | Internasional
PBB Sebut Taliban Ingkar Janji Soal Hak-hak Perempuan

AHMAD RIDWAN NASUTION / AFP
Para imigran asal Afghanistan melakukan protes soal hak-hak perempuan di depan kantor perwakilan UNHCR di Medan, Sumatera Utara.

 

TALIBAN, yang saat ini menjadi penguasa Afghanistan, ingkar janji soal hak asasi manusia, termasuk dengan memerintahkan perempuan tinggal di rumah, menghalangi anak-anak perempuan bersekolah, kata seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa, hari ini.

Taliban juga melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah untuk memburu orang-orang yang dulu merupakan musuhnya, kata Komisioner Tinggi untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet.

"Berbeda dengan jaminan yang dinyatakan bahwa Taliban akan menjunjung hak-hak perempuan, selama tiga pekan terakhir ini perempuan malah semakin diabaikan dari lingkungan masyarakat," kata Bachelet kepada Dewan Hak Asasi Manusia di Jenewa.

Ia juga menyatakan kekecewaan pada susunan pemerintah Taliban, yang didominasi oleh etnis Pashtun. Bachelet mencatat bahwa tidak ada ada perempuan dalam susunan tersebut.

Baca juga: PBB Cari Dana US$600 Juta untuk Cegah Krisis Kemanusiaan di Afghanistan

Bachelet melaporkan bahwa, di beberapa daerah, anak-anak perempuan berusia di atas 12 tahun dilarang bersekolah.

Larangan itu merupakan aturan yang kembali diterapkan oleh Taliban seperti ketika kelompok itu berkuasa pada 1996-2001 --sebelum dijatuhkan oleh serangan yang dipimpin Amerika Serikat.

Bachelet juga menyoroti janji lain yang diingkari Taliban, yaitu bahwa kelompok itu akan mengampuni para mantan pegawai negeri dan petugas keamanan pada pemerintahan sebelumnya.  Selain itu, ujarnya, Taliban tidak menepati janji untuk tidak melakukan penggeledahan ke rumah-rumah.

PBB telah menerima laporan beberapa dugaan penggerebekan ke rumah orang-orang yang pernah bekerja untuk perusahaan AS dan pasukan keamanan, kata Bachelet.

Beberapa anggota staf PBB juga melaporkan ada peningkatan serangan dan ancaman, ujarnya.

Selain itu, ungkap Bachelet, PBB juga mendapat laporan yang bisa dipercaya bahwa terjadi pembunuhan terhadap beberapa bekas anggota militer Afghanistan.

Bachelet menyatakan desakan agar suatu mekanisme dibentuk guna mengawasi praktik hak asasi manusia di Afghansitan. "Saya kembali meminta Dewan ini untuk mengambil langkah berani dan kuat, yang sepadan dengan tingkat krisis ini," katanya.(Ant/OL-4)

Baca Juga

 Handout / Naval Group / AFP

Indonesia Prihatin atas Kepemilikan KApal Selam Nuklir oleh Australia

👤Mediaindonesia 🕔Jumat 17 September 2021, 13:16 WIB
Indonesia mendorong Australia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk terus mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan secara...
AFP/PHILL MAGAKOE

WHO: Kekurangan Vaksin Covid di Afrika Bisa Buat Dunia Kembali ke Titik Awal

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 17 September 2021, 13:12 WIB
Hanya 17% dari populasi benua tersebut akan divaksinasi pada akhir tahun ini, dibandingkan dengan target 40% yang ditetapkan oleh...
Jack GUEZ / AFP

Sendok jadi Simbol Baru Perlawanan Bangsa Palestina

👤adiyanto 🕔Jumat 17 September 2021, 10:45 WIB
Dengan alat sederhana itu, enam tawanan berhasil menggali terowongan untuk melarikan diri dari penjara Gilboa yang tingkat keamanannya...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Siap Bawa Pulang Piala Sudirman

 Terdapat empat pemain muda yang diharapkan mampu membuat kejutan di Finlandia.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya