Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Lestari Moerdijat: Kesetaraan Perempuan di STEM Kunci Inovasi dan Daya Saing Indonesia

mediaindonesia.com
09/3/2026 14:09
Lestari Moerdijat: Kesetaraan Perempuan di STEM Kunci Inovasi dan Daya Saing Indonesia
Ilustrasi(Antara)

PENINGKATAN partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) menjadi strategi krusial untuk memperkuat inovasi dan daya saing Indonesia di era ekonomi digital.

Hal itu ditegaskan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulis, Senin (9/3). Menurut Lestari, kesenjangan gender masih terlihat jelas di sektor STEM, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja.

“Data menunjukkan persoalan utama bukan kemampuan akademik perempuan. Banyak yang berprestasi di bidang sains dan matematika, tetapi masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender,” ujar Lestari, yang akrab disapa Rerie.

Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) 2024, perempuan hanya sekitar 35% dari lulusan STEM di Indonesia, dan yang bekerja di sektor tersebut bahkan lebih rendah, sekitar 8%. Artinya, sebagian besar perempuan dengan latar pendidikan STEM tidak melanjutkan karier di bidang sains dan teknologi.

Rerie menjelaskan, hambatan tersebut kerap muncul sejak usia dini melalui ekspektasi sosial yang memengaruhi kepercayaan diri anak perempuan terhadap sains dan teknologi. Kondisi ini membuat banyak perempuan tidak melihat STEM sebagai jalur karier realistis.

Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan. Menurut legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu, memperluas partisipasi perempuan di STEM adalah langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang cukup menghadapi perubahan global.

“Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial. Ini adalah kepentingan strategis bangsa. Jika setengah potensi intelektual bangsa tidak diberi ruang yang sama, kita kehilangan peluang besar untuk memperkuat inovasi dan daya saing nasional,” tegas Rerie.

Rerie yang juga anggota Majelis Tinggi Partai NasDem mendorong agar sistem pendidikan dan kebijakan pengembangan SDM memberi perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di sains dan teknologi. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.

“Dengan membuka akses lebih luas bagi perempuan di STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan SDM yang inovatif dan berdaya saing,” pungkas Rerie.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya