Jumat 10 September 2021, 08:11 WIB

Cegah Kehancuran Ekonomi, PBB Desak Negara Lain Bantu Afghanistan

Nur Aivanni | Internasional
Cegah Kehancuran Ekonomi, PBB Desak Negara Lain Bantu Afghanistan

AFP
Kabul, Ibu Kota Afghanistan.

 

PERSERIKATAN Bangsa Bangsa (PBB) mendesak dunia untuk terus mengalirkan uang ke Afghanistan. Kendati, ada kekhawatiran atas pemerintah Taliban dan memperingatkan negara yang sudah miskin itu dapat mengalami kehancuran bersejarah. Hal itu disampaikan oleh Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal di Afghanistan Deborah Lyons pada Kamis.

Lyons meminta dunia setidaknya untuk memberikan kesempatan kepada Taliban, ketika kelompok tersebut beralih ke pemerintahan dan menghadapi masalah ekonomi yang parah.

"Sebuah modus vivendi harus ditemukan dan dengan cepat yang memungkinkan uang mengalir ke Afghanistan. Ini untuk mencegah kehancuran total ekonomi dan tatanan sosial," kata Lyons dalam pertemuan Dewan Keamanan.

Jika tidak, sambungnya, itu akan membuat Afghanistan terperosok ke dalam krisis ekonomi yang parah yang dapat membuat jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan dan kelaparan.

Selain itu, juga bisa menghasilkan gelombang besar pengungsi dari Afghanistan dan membuat generasi Afghanistan mengalami kemunduran.

Dia memperingatkan bahwa pemerintah Afghanistan yang baru tidak dapat membayar gaji, dan menyuarakan peringatan atas badai krisis termasuk mata uang yang jatuh, harga makanan dan bahan bakar yang meningkat tajam, dan kurangnya uang tunai di bank swasta.

Donor asing yang dipimpin oleh Amerika Serikat menyediakan lebih dari 75% pengeluaran publik, di bawah pemerintahan Afghanistan yang didukung Barat selama 20 tahun. Mereka dengan cepat menghentikan pembayaran ketika runtuh bulan lalu di tengah penarikan militer AS.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah menyuarakan keterbukaan untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Akan tetapi, katanya, setiap jalur kehidupan ekonomi langsung, termasuk mencairkan sekitar $9,5 miliar aset bank sentral Afghanistan, akan bergantung pada tindakan Taliban, termasuk mengizinkan perjalanan yang aman bagi orang-orang untuk pergi.

Tiongkok, yang dengan cepat bergerak untuk bekerja dengan Taliban, menuduh bahwa tindakan AS telah memperburuk keadaan Afghanistan. "Aset-aset ini milik Afghanistan dan harus digunakan untuk Afghanistan, bukan sebagai pengungkit untuk ancaman," kata Wakil Utusan Tiongkok untuk PBB, Geng Shuang.

Lyons, mantan Duta Besar Kanada untuk Afghanistan, mengatakan bahwa perlindungan harus dibuat untuk memastikan bahwa uang itu dibelanjakan di tempat yang perlu dibelanjakan dan tidak disalahgunakan oleh otoritas de facto.

"Perekonomian harus dibiarkan bernafas selama beberapa bulan lagi, memberi Taliban kesempatan untuk menunjukkan fleksibilitas dan keinginan yang tulus untuk melakukan hal-hal yang berbeda kali ini, terutama dari perspektif hak asasi manusia, gender dan kontraterorisme," tuturnya.

Program Pembangunan PBB mengatakan bahwa Afghanistan sudah menjadi salah satu negara termiskin, dengan 72 persen hidup dengan tidak lebih dari satu dolar per hari. (AFP/OL-13)

Baca Juga: Taliban Izinkan Warga Asing Tinggalkan Afghanistan

Baca Juga

AFP/Ahmad Gharabli.

Rilis, Hasil Autopsi Lansia Palestina yang Meninggal setelah Ditahan Israel

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 26 Januari 2022, 22:01 WIB
Omar Assad, 78, ditemukan tidak responsif pada dini hari 12 Januari lalu, beberapa menit setelah tentara Israel meninggalkannya di halaman...
AFP/Jack Guez.

Film Israel Tampilkan Dugaan Pembantaian Warga Palestina pada 1948

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 26 Januari 2022, 17:42 WIB
Tantura merupakan desa pesisir Mediterania di barat laut dari tempat yang sekarang disebut Israel. Tempat itu menjadi saksi pertempuran...
JENS SCHLUETER / AFP

Jerman Catat Rekor Kasus Harian Covid-19

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 26 Januari 2022, 17:22 WIB
Pada awal pandemi virus korona, Jerman lebih berhasil dari pada banyak negara Eropa lainnya dalam mencegah penyberan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya