Kamis 19 Agustus 2021, 17:28 WIB

Lima Janji Taliban di Afghanistan

Mediaindonesia.com | Internasional
Lima Janji Taliban di Afghanistan

AFP/Hoshang Hashimi.
Muslim Syiah membagikan serbat selama prosesi Asyura yang memperingati kematian Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, di Kabul, Kamis (19/8).

 

TALIBAN telah mencoba meyakinkan warga Afghanistan yang ketakutan dan komunitas internasional yang waspada bahwa kali ini mereka akan berbeda secara positif. Akan tetapi reputasi mereka mendahului janji-janjji mereka dan hanya sedikit yang mempercayai kelompok itu.

Berikut lima janji yang telah dibuat Taliban dan catatan mereka tentang masalah ini:

Hak wanita 

"Taliban berkomitmen kepada hak-hak wanita yang akan dapat bekerja dan belajar," ujar juru bicara kelompok tersebut Zabihullah Mujahid, Selasa (17/8). Namun ia menekankan pada setiap penyebutan perempuan bahwa hak-hak mereka akan ditentukan oleh hukum Islam.

Itu selalu ditafsirkan oleh kepemimpinan ultrakonservatif Taliban. Terakhir kali mereka berkuasa, dari 1996 hingga 2001, mereka secara brutal menindas hak-hak perempuan.

Anak perempuan dilarang pergi ke sekolah. Sebagian besar perempuan dilarang dari kehidupan publik. Mereka diperbolehkan keluar rumah hanya jika tertutup burka dari kepala sampai ujung kaki dan ditemani oleh kerabat laki-laki.

Wanita yang dituduh melanggar aturan ini diberi hukuman yang berat, termasuk dirajam sampai mati karena perzinahan. Bahkan setelah mereka digulingkan oleh pasukan pimpinan AS pada 2001, perempuan mengalami pembatasan serupa di daerah-daerah di bawah kendali Taliban. Militan telah mengancam dan menyerang aktivis perempuan, jurnalis, anggota parlemen, dan pendidik selama dua dekade.

Program pengampunan

Taliban berkeras bahwa mereka telah memaafkan semua yang berperang melawan mereka, termasuk pejabat pemerintah, polisi, dan angkatan bersenjata. Tetapi banyak yang skeptis karena jejak rekam mereka. Apalagi puluhan ribu warga Afghanistan mencoba meninggalkan negara itu sejak kemenangan Taliban karena takut akan pembalasan.

Selama rezim pertama mereka, pejuang Taliban membunuh lawan politik serta membantai warga sipil dan minoritas agama. Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban telah dituduh membunuh pasukan yang menyerah dan warga sipil. Kepala hak asasi manusia PBB mengatakan ada laporan tentang kemungkinan kejahatan perang.

Keamanan orang asing 

Taliban telah mencoba dengan cepat untuk meyakinkan pemerintah dan organisasi asing bahwa kedutaan, kantor, dan personel mereka aman. Seorang diplomat Rusia mengatakan situasinya sudah lebih baik daripada di bawah pemerintahan sebelumnya.

Namun, Taliban memiliki catatan buruk dalam hal melindungi personel dan misi asing. Pada 1996, mereka memasuki kompleks Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melindungi mantan presiden Najibullah. Mereka menyeretnya keluar untuk membunuhnya dan menggantung mayatnya.

Dua tahun kemudian, ketika mereka merebut kota utara Mazar-i-Sharif, mereka menyerbu konsulat Iran, menewaskan sembilan diplomat dan seorang jurnalis.

Tidak ada ancaman ke negara lain 

Poin inti dari kesepakatan penarikan pasukan yang ditandatangani Washington dengan Taliban tahun lalu yaitu mereka tidak akan mengizinkan kelompok militan beroperasi keluar dari Afganistan. Pasukan pimpinan AS menggulingkan rezim Taliban pertama karena menolak menyerahkan Osama bin Laden dan Al-Qaeda setelah serangan 11 September 2001.

Kelompok itu telah menekankan bahwa mereka akan menghormati komitmen itu. Mereka mengulangi janjinya setelah mengambil alih Afghanistan bahwa negara-negara lain tidak akan menghadapi ancaman.

Namun, laporan pemantauan Dewan Keamanan PBB yang dirilis pada Juni mengatakan Taliban dan Al-Qaeda tetap dekat.

Tidak ada lagi narkoba 

Taliban telah berjanji bahwa mereka akan mengakhiri industri narkoba di Afghanistan, salah satu pusat produksi dan perdagangan narkoba seperti heroin di dunia. Upaya mereka tentu perlu kerja keras.

Itu penting jika pemerintah baru mereka tidak memiliki akses ke cadangan keuangan dan bantuan asing yang telah menopang ekonomi rapuh Afghanistan selama dua dekade.

Baca juga: Biden: Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Kemungkinan Molor

Meskipun klaim mereka sebaliknya, pemantau PBB mengatakan industri obat-obatan terlarang telah menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar bagi Taliban. Bisnis itu menghasilkan ratusan juta dolar AS, menurut perkiraan yang diterbitkan tahun lalu. (AFP/OL-14)

Baca Juga

AFP/Gil Cohen-Magen.

PM Israel Serukan AS Hentikan Segera Pembicaraan Nuklir Iran

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Desember 2021, 18:42 WIB
Blinken memberi tahu Bennett tentang yang terjadi dalam pembicaraan sejak dimulainya kembali pada Senin setelah jeda lima...
PAUL FAITH / AFP

Irlandia Laporkan Kasus Pertama Varian Omicron

👤Nur Aivanni 🕔Kamis 02 Desember 2021, 17:38 WIB
Departemen Kesehatan Irlandia mengatakan bahwa kasus Covid-19 dengan varian omicron terkait dengan perjalanan dari negara di...
AFP/Scott Olson.

Siswa SMA Tersangka Penembakan di AS Hadapi 24 Dakwaan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 02 Desember 2021, 16:32 WIB
Dia menembak orang dari jarak dekat, sering kali ke arah kepala dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya