Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Trump Sambut Jenazah Enam Prajurit AS yang Tewas akibat Perang Iran

Ferdian Ananda Majni
08/3/2026 15:14
Trump Sambut Jenazah Enam Prajurit AS yang Tewas akibat Perang Iran
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima enam peti jenazah prajurit AS yang tewas akibat serangan drone Iran dalam upacara militer di Delaware. 

Momen duka tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perang dengan Iran serta hubungan yang semakin tegang antara Gedung Putih dan media Amerika.

Rekaman prosesi yang berlangsung dalam suasana khidmat dan tenang sekitar 30 menit dirilis oleh Gedung Putih tanpa suara, tanpa pidato, alunan seruling Skotlandia, maupun eulogi. 

Tidak ada pula gambar keluarga para prajurit yang berduka yang tewas setelah drone Iran menghantam pusat komando militer AS di Kuwait City.

Pembatasan liputan itu mengikuti kebijakan lama pemerintah AS yang berlaku sejak 1991. Ini melarang penayangan langsung peti jenazah yang diselimuti bendera. 

Kebijakan tersebut bertujuan memberi ruang bagi keluarga korban untuk berduka secara pribadi sekaligus mencegah politisasi gambar kematian prajurit. Ini merupakan pelajaran dari era Perang Vietnam ketika foto-foto korban perang memicu gelombang sentimen antiperang di Amerika.

Pada masa George W. Bush selama Perang Irak (2003-2011), presiden saat itu memilih tidak menghadiri kedatangan jenazah tantara. Alasannya, kehadirannya dapat mengganggu keluarga yang sedang berduka.

Kebijakan itu berubah pada masa pemerintahan Barack Obama pada 2009. Ia mengizinkan peliputan media jika keluarga korban memberikan persetujuan, sekaligus memulai tradisi menghadiri secara langsung prosesi kedatangan jenazah prajurit.

Kontroversi serupa pernah terjadi pada masa Joe Biden, ketika media menyoroti dirinya yang beberapa kali melihat jam tangan saat memberikan penghormatan kepada 13 prajurit AS yang tewas dalam serangan teroris selama penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan.

Dalam prosesi pemindahan jenazah yang berlangsung pada 7 Maret, Trump mengikuti protokol dengan tidak memberikan pidato selama upacara berlangsung. Namun dalam pernyataan singkat di luar kamera kepada wartawan, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap unggul dalam konflik yang sedang berlangsung.

Menurutnya, AS memenangkan perang dengan selisih yang besar dan tidak berniat untuk menyerah, sembari kembali menegaskan komitmennya untuk melakukan apa pun yang diperlukan.

"Kematian adalah bagian yang menyedihkan dari perang," tambahnya.

Beberapa jam setelah prosesi tersebut, iring-iringan kendaraan presiden dilaporkan menuju Trump National Doral Golf Club, sebagaimana tercatat dalam laporan pers Gedung Putih.

Memasuki minggu kedua konflik dengan Iran, hubungan Trump dengan media kembali menjadi sorotan. Presiden AS itu kerap menyampaikan perkembangan penting perang secara langsung melalui akun Truth Social atau konferensi pers yang disiarkan televisi, termasuk mengenai serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, kemungkinan pengerahan pasukan darat, hingga tuntutan penyerahan tanpa syarat.

Meski demikian, Gedung Putih mengkritik cara media meliput konflik tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menilai media lebih banyak menyoroti korban di pihak AS dibandingkan keberhasilan operasi militer Amerika dan Israel.

"Kami telah menguasai wilayah udara dan perairan Iran tanpa pasukan darat. Kami mengendalikan nasib mereka. Tetapi ketika beberapa drone berhasil menembus atau hal-hal tragis terjadi, itu menjadi berita utama," kata Hegseth dalam konferensi pers pada 4 Maret.

"Saya mengerti, pers hanya ingin membuat Presiden terlihat buruk, tetapi cobalah sekali saja untuk melaporkan kenyataan," tambahnya.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga melontarkan kritik terhadap sejumlah media, terutama CNN.

Sejumlah koresponden perang veteran menyebut bahwa konferensi pers di Pentagon kini lebih jarang dibandingkan pada pemerintahan sebelumnya, baik dari Partai Republik maupun Demokrat. 

Selain itu, media baru yang lebih ramah terhadap Trump sering mendapat kesempatan bertanya lebih dulu dalam konferensi pers.

Pengarahan harian untuk media di kantor U.S. Department of State di kawasan Foggy Bottom juga dihentikan. Sebagai gantinya, pejabat seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio kini lebih sering menyampaikan pandangan mereka melalui platform X.

Di sisi lain, dinamika kepemilikan media di AS juga tengah berubah. Dua hari sebelum serangan dimulai pada 28 Februari, Netflix membatalkan rencananya untuk mengajukan penawaran terhadap Warner Bros. Discovery, perusahaan yang memiliki CNN.

Langkah tersebut membuka kemungkinan bagi Paramount Global untuk mengambil alih jaringan tersebut. Perusahaan itu dikendalikan oleh tokoh bisnis Larry Ellison dan putranya David Ellison, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Trump.

Menurut laporan The Wall Street Journal, David Ellison pada 2025 bahkan meyakinkan pejabat pemerintahan Trump bahwa ia berencana melakukan perubahan besar pada CNN jika pengambilalihan senilai US$110 miliar itu berhasil.

Paramount mengendalikan jaringan penyiaran besar CBS. Pada Oktober 2025, perusahaan menunjuk jurnalis Bari Weiss sebagai pemimpin redaksi baru dengan pendekatan editorial yang lebih konservatif.

Sementara itu, sekutu Trump di dunia teknologi juga memiliki pengaruh besar terhadap lanskap media digital. Elon Musk menguasai platform X, sedangkan Mark Zuckerberg memimpin perusahaan yang mengelola Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Pendiri Amazon, Jeff Bezos, yang memiliki The Washington Post, juga disebut mendorong surat kabar tersebut untuk lebih menekankan nilai kebebasan pribadi dan pasar bebas dalam pemberitaannya.

Hubungan Trump dengan media bahkan meluas hingga ke ranah hukum. Ia pernah menggugat CBS lebih dari US$10 miliar atas tuduhan penyuntingan wawancara yang dianggap menguntungkan lawannya dalam pemilu 2024, Kamala Harris. Gugatan tersebut akhirnya diselesaikan pada Juli 2025 dengan pembayaran US$16 juta oleh Paramount.

Selain itu, perusahaan media seperti The Walt Disney Company melalui jaringan ABC juga mencapai kesepakatan dengan Trump dengan kontribusi US$15 juta untuk perpustakaan presiden miliknya serta biaya hukum sebesar US$1 juta.

Sementara beberapa kasus hukum lain terhadap media seperti The New York Times, BBC, dan dewan Pulitzer Prize masih berjalan di pengadilan.

Di tengah persaingan media, jaringan konservatif Fox News masih memimpin dalam jumlah penonton prime time dengan rata-rata sekitar 2,6 juta pemirsa, melampaui CNN dan MSNBC yang secara gabungan hanya menarik sedikit lebih dari satu juta penonton berita kabel.

Sementara itu, program berita malam dari jaringan besar seperti ABC, NBC, dan CBS tetap menarik antara enam hingga delapan juta penonton setiap malam.

Di tengah dinamika tersebut, Trump juga mengumumkan akan menghadiri kembali acara White House Correspondents' Dinner pada 25 April, setelah memboikotnya karena menganggap pers bersikap terlalu keras terhadap dirinya.

"Untuk menghormati Ulang Tahun ke-250 Negara kita dan fakta bahwa para koresponden ini sekarang mengakui bahwa saya benar-benar salah satu Presiden Terhebat dalam Sejarah Negara kita, G.O.A.T. (Greatest Of All Time), menurut banyak orang, akan menjadi kehormatan bagi saya untuk menerima undangan mereka, dan berupaya menjadikannya Makan Malam Terhebat, Terpanas, dan Paling Spektakuler, dari Jenis Apa Pun, yang Pernah Ada!" tulis Trump dalam unggahan di Truth Social pada 3 Maret.

Trump dikenal piawai dalam menentukan agenda politik dan memaksa pihak lain untuk merespons. Namun, apakah ia mampu sepenuhnya mengendalikan opini publik Amerika mengenai perang dengan Iran masih menjadi pertanyaan terbuka. (straitstimes/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya