Rabu 18 Agustus 2021, 18:35 WIB

Tidak Tahu Ditanya Media Israel, Taliban Pastikan Keamanan Kaum Minoritas

Mediaindonesia.com | Internasional
Tidak Tahu Ditanya Media Israel, Taliban Pastikan Keamanan Kaum Minoritas

AFP/Dimitar Dilkoff.
Suhail Shaheen.

 

TALIBAN tanpa disadari telah memberikan kesempatan wawancara kepada salah satu media Israel. Penguasa Afghanistan itu mengklaim bahwa minoritas--termasuk pria Yahudi terakhir yang tersisa di Afghanistan--tidak akan dianiaya di bawah kekuasaan mereka.

Berbicara kepada lembaga penyiaran negara Israel, Kan, melalui telepon, juru bicara Taliban yang berbasis di Qatar, Suhail Shaheen, memastikan bahwa kelompok minoritas akan aman di Afghanistan. Ini karena ketakutan terus tumbuh bagi kaum minoritas setelah pengambilalihan kelompok militan. Banyak yang tetap skeptis terhadap jaminan kelompok tersebut.

“Kami mengidentifikasi diri kami sebagai saluran berita Kan, tetapi kami tidak menekankan bahwa kami merupakan media Israel," ungkap Roi Kais, reporter dari Kan, yang berbicara dengan Shaheen, dalam laporan wawancara tersebut sebagaimana dikutip Middle East Eye.

Baca juga: Warga Palestina Turut Bantu Padamkan Kebakaran Hutan Israel

Mengakui tidak mengenal orang Yahudi terakhir di Afghanistan, juru bicara Taliban itu mengatakan bahwa ada orang Sikh dan Hindu di negara tersebut yang dapat menikmati kebebasan beragama. Taliban dilaporkan telah terlibat dalam retorika antisemit dan anti-Israel di masa lalu.

Kehadiran Yahudi di Afghanistan dilaporkan berasal dari abad ke-7. Meskipun beberapa ribu orang Yahudi--beberapa mengatakan puluhan ribu--tinggal di Afghanistan pada awal abad ke-20, penganiayaan oleh pemerintah berturut-turut menyebabkan hampir semua dari mereka meninggalkan negara itu. Kini tinggal Zebulon Simentov sebagai satu-satunya perwakilan komunitas pada pertengahan 2000-an.

Simentov--yang menjalankan satu-satunya sinagoga aktif di Kabul--awalnya mengatakan pada April bahwa dia akan meninggalkan Afghanistan untuk bergabung dengan keluarganya di Israel. Namun, menurut media India, Wion, pada Selasa (17/8) dia mengatakan dia tidak akan pergi.

"Saya tidak akan meninggalkan rumah saya. Jika saya pergi, tidak akan ada yang menjaga Sinagoga," katanya. "Saya memiliki kesempatan untuk pergi ke AS tetapi saya menyerah."

Baca juga: Inggris: Dunia Baiknya Beri Kesempatan Taliban untuk Bentuk Pemerintahan Baru

Setelah kembali ke Afghanistan pada 1998, setelah beberapa tahun di Turkmenistan, Simentov dipenjara dan disiksa oleh Taliban yang saat itu menguasai negara. Taliban mempercayainya sebagai mata-mata. (OL-14)

Baca Juga

BPMI Setpres

Presiden Sampaikan Tiga Harapan ASEAN kepada AS

👤Andhika Prasetyo 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 23:54 WIB
Menurutnya, penghormatan terhadap hukum internasional, Treaty of Amity and Cooperation, serta perangkat norma dan hukum lain menjadi...
AFP/Bandar Al-Jaloud.

Eks Pejabat Intelijen Saudi Tuduh MBS Ingin Bunuh Raja Abdullah

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 22:12 WIB
Ayah putra mahkota, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, naik takhta pada 2015 setelah saudara tirinya, Raja Abdullah, meninggal karena sebab...
AFP/Menahem Kahana.

Israel Kirim Utusan ke AS tentang Kelompok Palestina Dicap Teroris

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 21:39 WIB
Pada Senin, para ahli PBB meminta Israel untuk menarik penunjukan itu dan menyebutnya sebagai serangan frontal terhadap gerakan hak asasi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Era Penuh Harapan di Dusun Bondan

Energi terbarukan mengangkat Dusun Bondan di Cilacap dari keterpurukan. Kini, warga selangkah lagi menggapai kesejahteraan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya