Senin 17 Mei 2021, 11:06 WIB

Konflik Israel-Gaza Masuki Pekan Kedua, 42 Orang Lagi Tewas

 Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Konflik Israel-Gaza Masuki Pekan Kedua, 42 Orang Lagi Tewas

MAHMUD HAMS / AFP
Asap dan api membumbung ke udara saat serangan udara jet tempur Israel ke Kota Gaza, Palestina, Senin (17/5) dini hari.

 

ISRAEL dan kelompok militan Hamas yang berkuasa di Gaza menghadapi seruan yang meningkat dari pihak internasional untuk melakukan gencatan senjata dalam pertikaian mereka yang memasuki minggu kedua pada Senin (17/5).

Kekhawatiran dunia semakin dalam dengan serangan udara Israel di Gaza telah menghancurkan beberapa rumah serta menewaskan 42 orang, termasuk 10 anak-anak, menurut pejabat kesehatan Palestina.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken menyerukan agar semua pihak tenang dan mengakhiri pertikaian.

"Semua pihak perlu mengurangi ketegangan, kekerasan harus segera diakhiri,” cuit Blinken di Twitter usai berbicara dengan menteri luar negeri Mesir tentang kekerasan yang sedang berlangsung di Israel, Gaza dan Tepi Barat.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Minggu (16/5), AS mengatakan telah menjelaskan kepada Israel, Palestina dan lainnya bahwa mereka siap untuk menawarkan dukungan jika pihak-pihak tersebut mengupayakan gencatan senjata.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan Israel di Gaza terus berlanjut dengan kekuatan penuh dan pencegahan harus dicapai untuk mencegah konflik di masa depan dengan Hamas.

"Kami bertindak sekarang, selama diperlukan, untuk memulihkan ketenangan dan keamanan Anda, warga Israel. Ini akan memakan waktu," kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi setelah kabinet keamanannya bertemu pada hari Minggu (16/5).

Tepat lewat tengah malam pada Senin (17/50, militan meluncurkan roket ke Kota Beersheba dan Ashkelon di Israel selatan. Saksi mata mengatakan pesawat Israel melancarkan puluhan serangan udara. Militer Israel mengatakan kompleks intelijen Hamas termasuk di antara target.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan jumlah korban tewas di kantong berpenduduk padat dua juta warga Palestina itu mencapai 197 orang, termasuk 58 anak-anak dan 34 wanita. Sebanyak 10 orang tewas di Israel, termasuk dua anak, menurut pihak berwenang Israel.

Hamas memulai serangan roketnya Senin (10/5) lalu setelah berminggu-minggu terjadi ketegangan atas kasus pengadilan untuk mengusir beberapa keluarga Palestina di Jerusalem Timur dan sebagai pembalasan atas bentrokan polisi Israel dengan warga Palestina di dekat Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga umat Islam, selama bulan Ramadan.

Presiden AS Joe Biden mengatakan pemerintahannya sedang bekerja dengan semua pihak untuk mencapai ketenangan yang berkelanjutan.

"Kami juga percaya bahwa Palestina dan Israel sama-sama berhak untuk hidup dalam keselamatan dan keamanan dan menikmati kebebasan, kemakmuran dan demokrasi yang setara," katanya dalam video yang direkam sebelumnya yang ditayangkan di acara yang menandai liburan Idul Fitri.

Di New York, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa permusuhan di Israel dan Gaza sangat mengerikan dan menyerukan segera diakhirinya pertempuran.

Dia mengatakan PBB secara aktif melibatkan semua pihak menuju gencatan senjata segera dan mendesak mereka untuk memungkinkan upaya mediasi meningkat dan berhasil.

Utusan PBB telah membantu menengahi gencatan senjata di masa lalu antara Israel dan Hamas.

Washington, sekutu kuat Israel, telah diisolasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa karena keberatannya terhadap pernyataan publik oleh Dewan Keamanan tentang kekerasan yang sedang berlangsung karena khawatir tindakan itu dapat membahayakan diplomasi di belakang layar.

Raja Yordania Abdullah mengatakan kerajaannya terlibat dalam diplomasi intensif untuk menghentikan apa yang dia sebut sebagai eskalasi militer Israel. Raja yang keluarga penguasanya memiliki hak asuh atas situs Muslim dan Kristen di Jerusalem itu tidak merinci lebih lanjut. Israel dan Yordania berdamai pada tahun 1994.

Militer Israel mengatakan bahwa Hamas, sebuah kelompok Islam yang dianggap oleh Israel, AS dan Uni Eropa sebagai gerakan teroris, dan faksi bersenjata lainnya telah menembakkan lebih dari 2.800 roket dari Gaza selama sepekan terakhir.

Ini lebih dari setengah jumlah yang ditembakkan selama 51 hari dalam perang tahun 2014 antara Hamas dan Israel, kata militer, dan lebih intensif bahkan daripada pemboman Hizbullah dari Lebanon selama perang tahun 2006 antara Israel dan kelompok Syiah yang didukung Iran.

Banyak roket telah dicegat oleh sistem anti-rudal Israel sementara beberapa telah jatuh jauh dari perbatasan.

Hamas mengatakan serangan terakhirnya sebagai pembalasan atas agresi berkelanjutan Israel terhadap warga sipil, termasuk serangan udara di Kota Gaza pada Minggu (16/5) yang menghancurkan sejumlah rumah.

Militer Israel mengatakan jatuhnya korban sipil tidak disengaja dan jetnya menyerang sistem terowongan yang digunakan oleh militan, yang runtuh, merobohkan rumah-rumah. Hamas menyebutnya sebagai pembunuhan yang sudah direncanakan.

Pada program Face The Nation jaringan AS CBS, Netanyahu membela serangan udara Israel sehari sebelumnya yang menghancurkan gedung 12 lantai tempat Associated Press dan jaringan TV Al Jazeera berkantor.

Dia mengatakan gedung itu juga menampung kantor intelijen kelompok militan dan dengan demikian menjadi target yang sah. Dia mengatakan Israel telah menyampaikan informasi tentang gedung itu kepada otoritas AS. Seorang pejabat intelijen AS tidak menanggapi permintaan komentar.

Israel telah memberikan peringatan kepada penghuninya untuk pergi sebelumnya. Associated Press mengutuk serangan itu dan meminta Israel untuk memberikan bukti bahwa Hamas berada di dalam gedung tersebut.

Utusan Biden, Hady Amr, tiba di Israel pada hari Jumat untuk melakukan pembicaraan, dan seorang pejabat yang mengetahui langsung pertemuannya mengatakan pada hari Minggu bahwa ia menegaskan kembali dukungan penuh AS untuk hak Israel untuk mempertahankan diri.

Amr juga menjelaskan Washington mengerti ini jelas bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam 24 jam, menurut pejabat yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Utusan itu juga berbicara pada acara Idul Fitri Gedung Putih dari Jerusalem, dengan mengatakan misinya adalah untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri krisis secepat mungkin karena sejauh ini, terlalu banyak orang Palestina dan Israel, termasuk anak-anak, telah meninggal. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

Baca Juga

AFP

Militer Myanmar Janjikan Pemilu dan Siap Kerja Sama dengan ASEAN

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 22:59 WIB
Tanpa utusan yang memimpin, katanya, sangat sulit untuk mengatasi situasi di...
AFP/Jorge Guerrero

Iran Tolak Tuduhan Israel Soal Serangan Kapal Tanker

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 18:30 WIB
MT Mercer Street, yang dikelola oleh miliarder Israel Eyal Ofer, dihantam pada Kamis di lepas pantai Oman, dalam sebuah insiden yang...
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Indonesia Terima 3,5 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Moderna dari AS

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 15:34 WIB
Menlu Retno Marsudi menyampaikan Indonesia mengapresiasi pemerintah Amerika Serikat atas dukungan tambahan vaksin Covid-19 Moderna...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pembangunan Berkelanjutan demi Keselamatan Bersama

 Sektor keuangan memiliki peran besar dalam mengarahkan perubahan menuju penerapan green economy

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya