Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Pasien di AS Bertahan 2 Hari Tanpa Paru-Paru, Bagaimana Bisa?

Abi Rama
28/2/2026 12:13
Pasien di AS Bertahan 2 Hari Tanpa Paru-Paru, Bagaimana Bisa?
Ilustrasi(Freepik)

SEORANG pria berusia 33 tahun di Amerika Serikat (AS) berhasil bertahan hidup selama 48 jam tanpa paru-paru. Kasus medis langka ini terjadi berkat sistem paru-paru buatan yang dirancang khusus untuk menggantikan fungsi organ tersebut sementara waktu, hingga donor paru tersedia.

Kisah ini dilaporkan oleh laman SciTech Daily berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Med. 

Tim dokter yang dipimpin ahli bedah toraks dari Northwestern University di AS menjelaskan bahwa prosedur ini menjadi harapan baru bagi pasien dengan kerusakan paru sangat parah.

Berawal dari Flu

Pasien tersebut awalnya hanya mengalami flu. Namun, kondisinya memburuk dengan cepat setelah terkena pneumonia bakteri. 

Ia didiagnosis mengalami_Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) berat, yaitu kondisi ketika peradangan hebat membuat paru-paru terisi cairan dan tidak mampu memasok oksigen secara efektif.

Kerusakan paru yang parah menyebabkan organ lain ikut terdampak. Jantung dan ginjalnya mulai mengalami kegagalan. Bahkan, jantung pasien sempat berhenti saat tiba di rumah sakit sehingga tim medis harus melakukan resusitasi jantung paru (CPR).

Dokter menyimpulkan bahwa satu-satunya peluang hidup yang tersisa adalah transplantasi paru ganda. Namun, kondisi tubuh pasien terlalu tidak stabil untuk langsung menjalani operasi transplantasi.

Paru-paru pasien diketahui sudah tidak dapat diselamatkan. Infeksi berat membuat jaringan paru mengalami kerusakan permanen dan terus menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh.

Biasanya, transplantasi paru dilakukan pada pasien dengan penyakit kronis seperti interstitial lung disease atau penyakit paru interstisial. 

Pada kasus ARDS berat, banyak yang berharap paru-paru bisa pulih dengan perawatan intensif. Namun, hasil pemeriksaan molekuler terhadap paru-paru pasien menunjukkan jaringan parut luas dan kerusakan imun yang tidak mungkin sembuh. Artinya, tanpa transplantasi, pasien hampir pasti tidak akan bertahan hidup.

Paru-Paru Buatan

Untuk memberi waktu pemulihan sebelum transplantasi, tim dokter mengambil langkah untuk mengangkat kedua paru-paru pasien sepenuhnya. Sebagai pengganti sementara, dokter menggunakan sistem artificial lung support. Alat ini mampu untuk:

  • Menambahkan oksigen ke dalam darah
  • Mengeluarkan karbon dioksida
  • Menjaga sirkulasi agar jantung tetap dapat memompa darah secara efektif

Selama 48 jam penuh, pasien hidup tanpa paru-paru di dalam tubuhnya. Sistem buatan tersebut menopang fungsi vital hingga tekanan darah stabil, organ-organ lain kembali bekerja, hingga infeksi berhasil dikendalikan.

Dua hari kemudian, donor paru yang cocok akhirnya tersedia. Tim medis segera melakukan transplantasi paru ganda.

Kembali Hidup Normal

Lebih dari dua tahun setelah operasi, pasien dilaporkan telah kembali menjalani aktivitas normal dengan fungsi paru yang baik. 

Kasus ini juga menjadi bukti biologis pertama berbasis pemeriksaan molekuler bahwa pada sebagian pasien ARDS, transplantasi paru harus dipertimbangkan lebih dini. Jika tidak, peluang hidup bisa hilang.

Meski demikian, prosedur kompleks seperti ini saat ini hanya bisa dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas dan tim sangat khusus. Para peneliti berharap ke depan akan tersedia perangkat yang lebih terstandarisasi sehingga lebih banyak pasien dengan gagal paru katastrofik dapat diselamatkan sambil menunggu donor organ.

Kasus pria ini membuktikan bahwa dalam kondisi tertentu, hidup tanpa paru-paru memang mustahil secara alami—tetapi bukan berarti tidak mungkin secara medis. (SciTech Daily/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya