Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI dari Buck Institute menemukan bahwa makanan yang dimasak atau diproses mengandung senyawa bernama advanced glycation end products (AGEs) yang bisa ditemukan dalam makanan cepat saji. Senyawa ini diketahui dapat merangsang nafsu makan berlebihan sehingga membuat seseorang terdorong untuk terus mengonsumsi makanan itu.
AGEs merupakan produk sampingan metabolisme yang terbentuk ketika gula bereaksi dengan protein, lemak, atau asam nukleat di dalam tubuh.
Selain terbentuk secara alami, senyawa ini juga dihasilkan selama proses memasak dengan suhu tinggi seperti memanggang, menggoreng, atau membakar makanan yang banyak digunakan dalam pengolahan makanan modern.
Warna kecoklatan pada makanan yang muncul saat proses memasak ternyata menjadi salah satu indikator terbentuknya AGEs. Reaksi ini dikenal sebagai Maillard reaction, yakni interaksi antara gula dan protein akibat panas yang menghasilkan aroma serta cita rasa khas yang menggugah selera.
“Warna kecoklatan yang muncul saat memasak, yang membuat makanan tampak dan beraroma lezat, merupakan hasil dari AGEs. Pada dasarnya, kami menemukan bahwa AGEs membuat makanan lebih menggugah selera dan lebih sulit untuk ditolak," ungkap Muniesh Muthaiyan Shanmugam, penulis utama studi tersebut.
Meski membuat makanan terasa lebih lezat, senyawa hasil reaksi tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan. AGEs yang terkandung dalam makanan cepat saji diketahui memicu peradangan dan kerusakan oksidatif dalam tubuh yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis, seperti pengerasan pembuluh darah, hipertensi, penyakit ginjal, kanker, hingga gangguan neurologis.
Akumulasi AGEs dari makanan cepat saji di berbagai organ juga diduga menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat proses penuaan. Lebih jauh lagi, kemampuan tubuh untuk membersihkan senyawa ini akan menurun seiring bertambahnya usia.
Dalam studi laboratorium, peneliti mengamati bahwa keberadaan AGEs tidak hanya meningkatkan risiko penyakit dan memperpendek usia organisme uji, tetapi juga merangsang nafsu makan untuk mengonsumsi lebih banyak makanan serupa. Temuan ini mendorong peneliti untuk menelusuri jalur biokimia yang membuat senyawa tersebut dapat memicu perilaku makan berlebihan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya jalur pensinyalan tertentu yang dimediasi oleh molekul AGEs spesifik, yang dapat meningkatkan asupan makanan sekaligus berkontribusi terhadap proses neurodegenerasi. Pemahaman mengenai mekanisme ini dinilai penting dalam upaya mengatasi obesitas serta penyakit terkait penuaan yang semakin meningkat secara global.
Para peneliti menilai, membatasi akumulasi AGEs dalam tubuh dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan risiko obesitas dan penyakit kronis. Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengonsumsi makanan sehat seperti biji-bijian, menggunakan metode memasak dengan panas lembab seperti mengukus dibandingkan menggoreng atau memanggang, serta menambahkan bahan asam saat memasak untuk memperlambat pembentukan AGEs. (H-4)
Banyak pasien hipertensi kembali mengalami kenaikan tekanan darah karena faktor stres, gaya hidup, dan kurangnya intervensi mandiri yang konsisten.
Penyakit Tidak Menular (PTM) kini mengintai usia produktif. Kenali gejala, data terbaru 2026, dan panduan deteksi dini untuk menjaga produktivitas masa depan.
Studi global mengungkap hubungan air minum asin dengan kenaikan tekanan darah. Ancaman serius bagi warga pesisir akibat perubahan iklim.
Satu dari lima remaja Indonesia mengalami tekanan darah di atas normal. Kondisi ini membuka jalan bagi hipertensi dan penyakit kronis di usia produktif.
Oahraga yang dilakukan sesaat setelah sahur sangat tidak dianjurkan. Hal ini karena aktivitas fisik di pagi hari saat berpuasa dapat memicu dehidrasi.
Makanan cepat saji terasa sangat nikmat karena otak manusia berevolusi menyukai gula, lemak, dan garam. Penjelasan ilmiah ini mengungkap alasan fast food mudah bikin ketagihan.
Karena kepraktisannya, makanan cepat saji sering dikonsumsi oleh masyarakat modern. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, makanan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Kanker kolorektal atau kanker usus besar selama ini dikenal sebagai penyakit yang menyerang orang berusia lanjut.
Penelitian terbaru Universitas Michigan menemukan makanan ultra-olahan dapat memicu kecanduan layaknya alkohol atau narkoba.
Penelitian UNC School of Medicine mengungkap diet tinggi lemak dari junk food dapat merusak sel otak di hippocampus hanya dalam empat hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved