Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Alasan Makanan Cepat Saji Enak dan Bikin Ketagihan tapi tak Sehat

Atalya Puspa    
24/2/2026 09:22
Alasan Makanan Cepat Saji Enak dan Bikin Ketagihan tapi tak Sehat
Ilustrasi.(freepik)

PENELITI dari Buck Institute menemukan bahwa makanan yang dimasak atau diproses mengandung senyawa bernama advanced glycation end products (AGEs) yang bisa ditemukan dalam makanan cepat saji. Senyawa ini diketahui dapat merangsang nafsu makan berlebihan sehingga membuat seseorang terdorong untuk terus mengonsumsi makanan itu. 

AGEs merupakan produk sampingan metabolisme yang terbentuk ketika gula bereaksi dengan protein, lemak, atau asam nukleat di dalam tubuh. 

Selain terbentuk secara alami, senyawa ini juga dihasilkan selama proses memasak dengan suhu tinggi seperti memanggang, menggoreng, atau membakar makanan yang banyak digunakan dalam pengolahan makanan modern.

Warna kecoklatan pada makanan yang muncul saat proses memasak ternyata menjadi salah satu indikator terbentuknya AGEs. Reaksi ini dikenal sebagai Maillard reaction, yakni interaksi antara gula dan protein akibat panas yang menghasilkan aroma serta cita rasa khas yang menggugah selera. 

“Warna kecoklatan yang muncul saat memasak, yang membuat makanan tampak dan beraroma lezat, merupakan hasil dari AGEs. Pada dasarnya, kami menemukan bahwa AGEs membuat makanan lebih menggugah selera dan lebih sulit untuk ditolak," ungkap Muniesh Muthaiyan Shanmugam, penulis utama studi tersebut. 

Meski membuat makanan terasa lebih lezat, senyawa hasil reaksi tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan. AGEs yang terkandung dalam makanan cepat saji diketahui memicu peradangan dan kerusakan oksidatif dalam tubuh yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis, seperti pengerasan pembuluh darah, hipertensi, penyakit ginjal, kanker, hingga gangguan neurologis.

Akumulasi AGEs dari makanan cepat saji di berbagai organ juga diduga menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat proses penuaan. Lebih jauh lagi, kemampuan tubuh untuk membersihkan senyawa ini akan menurun seiring bertambahnya usia.

Dalam studi laboratorium, peneliti mengamati bahwa keberadaan AGEs tidak hanya meningkatkan risiko penyakit dan memperpendek usia organisme uji, tetapi juga merangsang nafsu makan untuk mengonsumsi lebih banyak makanan serupa. Temuan ini mendorong peneliti untuk menelusuri jalur biokimia yang membuat senyawa tersebut dapat memicu perilaku makan berlebihan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya jalur pensinyalan tertentu yang dimediasi oleh molekul AGEs spesifik, yang dapat meningkatkan asupan makanan sekaligus berkontribusi terhadap proses neurodegenerasi. Pemahaman mengenai mekanisme ini dinilai penting dalam upaya mengatasi obesitas serta penyakit terkait penuaan yang semakin meningkat secara global.

Para peneliti menilai, membatasi akumulasi AGEs dalam tubuh dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan risiko obesitas dan penyakit kronis. Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengonsumsi makanan sehat seperti biji-bijian, menggunakan metode memasak dengan panas lembab seperti mengukus dibandingkan menggoreng atau memanggang, serta menambahkan bahan asam saat memasak untuk memperlambat pembentukan AGEs. (H-4)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya