Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Waspadai Aritmia: Hipertensi dan Diabetes Bisa Rusak Sistem Listrik Jantung

Basuki Eka Purnama
01/4/2026 10:58
Waspadai Aritmia: Hipertensi dan Diabetes Bisa Rusak Sistem Listrik Jantung
Ilustrasi(Freepik)

TEKANAN darah tinggi (hipertensi) dan gula darah tinggi (diabetes) yang tidak terkontrol ternyata berdampak serius pada kesehatan jantung. Selain merusak pembuluh darah, kedua kondisi ini dapat mengubah struktur otot jantung yang kemudian menghambat sinyal listrik jantung.

Dokter Konsultan Aritmia Eka Hospital MT Haryono, dr. Evan Jim Gunawan, menjelaskan bahwa gangguan pada struktur otot tersebut menjadi pintu masuk munculnya aritmia atau gangguan irama jantung.

"Hipertensi dan diabetes menjadi salah satu faktor yang bisa merusak sistem listrik jantung dan membuat irama jantung menjadi tidak beraturan atau aritmia," ujar Evan di Tangerang, Rabu (1/4).

Faktor Pemicu Kerusakan Listrik Jantung

Selain penyakit degeneratif, Evan memaparkan beberapa faktor lain yang dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung, di antaranya:

  • Gangguan Tiroid: Kelenjar tiroid yang terlalu aktif maupun kurang aktif sangat memengaruhi kecepatan detak jantung.
  • Gangguan Tidur (Sleep Apnea): Kondisi saat napas terhenti sejenak saat tidur dapat membebani jantung dan mengubah iramanya.
  • Ketidakseimbangan Elektrolit: Kekurangan asupan kalium atau magnesium dalam darah dapat mengganggu transmisi sinyal listrik jantung.

Membedakan Debaran Normal dan Bahaya

Menurut Evan, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua kondisi jantung berdebar itu berbahaya. Secara medis, debaran jantung dibagi menjadi dua kategori:

  • Fisiologis (Wajar): Muncul akibat pemicu yang jelas seperti konsumsi kafein berlebih, olahraga berat, atau emosi kuat (stres, takut, panik, hingga jatuh cinta). Irama jantung biasanya kembali normal setelah pemicu hilang.
  • Patologis (Bahaya): Muncul tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai gejala fisik lainnya.

"Untuk yang bahaya biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan pemeriksaan medis," jelasnya.

Solusi Medis Modern

Bagi penderita aritmia, kemajuan teknologi medis saat ini menawarkan solusi tanpa harus melalui operasi bedah terbuka. Salah satu metode yang populer adalah ablasi jantung, sebuah prosedur minimal invasif.

"Pada penanganan ini, dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (*pacemaker*) juga telah membantu banyak orang kembali beraktivitas," pungkas Evan.

Sebagai langkah antisipasi, ia mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda peringatan dari tubuh. Jika merasakan perubahan detak jantung yang tidak biasa, segera lakukan skrining sejak dini untuk mendeteksi potensi gangguan medis. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya