Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Munggahan, Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Strategi Sosial Mempererat Bangsa

Basuki Eka Purnama
15/2/2026 19:30
Munggahan, Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Strategi Sosial Mempererat Bangsa
Ilustrasi--Sejumlah santri makan nasi liwet bersama saat mengikuti munggahan santri di Stadion Galuh, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (20/3/2023).(ANTARA/Adeng Bustomi)

MENJELANG bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia mulai bersiap melalui tradisi munggahan. Namun, di balik keriuhan makan bersama dan silaturahmi, tradisi ini menyimpan dimensi sosiologis yang mendalam sebagai penanda sosial dan pemulih harmoni komunitas.

Sosiolog sekaligus Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Dr. Ivanovich Agusta, menjelaskan bahwa munggahan bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. 

Tradisi ini merupakan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya.

"Dari perspektif sosiologi, munggahan sebagai ritus sosial yang menandai peralihan menuju fase religius yang lebih intens. Tradisi ini berfungsi sebagai penanda waktu sosial (social marker) yang membantu masyarakat menyusun ritme kolektif: kapan memperbaiki diri, memulai disiplin ibadah, serta menguatkan komitmen moral bersama," jelas Ivanovich.

MI/HO--Sosiolog sekaligus Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Dr. Ivanovich Agusta

Memulihkan Relasi dan Modal Sosial

Salah satu esensi terpenting dari munggahan adalah perannya sebagai mekanisme rekonsiliasi. Melalui momen ini, masyarakat didorong untuk saling memaafkan dan memulihkan keretakan hubungan dalam komunitas.

Ivanovich menilai interaksi tatap muka dan aktivitas berbagi dalam munggahan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan atau "ke-kita-an" (sense of belonging). 

Hal ini secara langsung mempertebal modal sosial yang terdiri dari kepercayaan, jaringan pertolongan, dan norma timbal balik.

Dalam lingkup keluarga, munggahan menyediakan ruang untuk memperbarui ikatan lintas generasi yang sering kali terfragmentasi oleh kesibukan kehidupan modern. Tak berhenti di keluarga inti, solidaritas ini pun meluas hingga ke tetangga dan komunitas sekitar.

Tantangan Modernisasi dan Komodifikasi

Meski memiliki akar nilai yang kuat, Ivanovich mengakui adanya pergeseran makna seiring arus modernisasi. Di beberapa tempat, munggahan mulai terjebak dalam arus komodifikasi dan sekadar menjadi simbol status atau rutinitas seremonial.

"Media sosial mendorong orientasi tampil, sehingga makna kebersamaan bergeser menjadi representasi citra," katanya.

Beruntung, beberapa komunitas mampu beradaptasi dengan menyisipkan kegiatan sosial seperti sedekah, santunan, atau gotong royong. Tantangan terbesarnya saat ini adalah menjaga agar esensi kesederhanaan dan ketulusan tetap terjaga di tengah tren gaya hidup.

Pesan untuk Generasi Muda

Menutup keterangannya, Ivanovich menekankan pentingnya menjaga otentisitas munggahan agar tidak menjadi tradisi yang eksklusif. Ia mendorong praktik yang inklusif dengan melibatkan kelompok rentan dan warga yang terpinggirkan.

Bagi generasi muda, ia berpesan agar munggahan dipahami sebagai sarana meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia, bukan sekadar pengulangan kegiatan.

"Adaptasi boleh dilakukan pada tempat atau format, tetapi prinsip kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan harus tetap dijaga," pungkasnya.

Dengan menjaga nilai-nilai tersebut, munggahan akan terus hidup sebagai tradisi yang relevan dan bermartabat dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Indonesia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya