Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

GSCWU Undang Yarsi Jadi Pembicara Konferensi di Pakistan, Dosen MM Sampaikan Resiliensi Ekonomi dan Bisnis Era AI

Despian Nurhidayat
09/2/2026 12:58
GSCWU Undang Yarsi Jadi Pembicara Konferensi di Pakistan, Dosen MM Sampaikan Resiliensi Ekonomi dan Bisnis Era AI
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KETAHANAN ekonomi dan bisnis tidak cukup diukur dari pertumbuhan dan efisiensi, tetapi dari keseimbangan antara teknologi dan nilai moral (technology + moral energy). Terdapat paradoks ekonomi digital dan kecerdasan buatan, di mana percepatan teknologi memang meningkatkan efisiensi, tetapi juga berpotensi memicu ketimpangan, ketidakamanan kerja, dan krisis etika jika tidak diiringi tata kelola yang memadai.

Dosen Magister Manajemen Universitas Yarsi, Dr. Ir. Any Setianingrum, M.E.Sy (Doktor Any), menyatakan hal itu saat menjadi pembicara The 2nd International Conference on Emerging Trends in Business, Economics, and IT (ICEBE&IT) 2026 di Pakistan pada 2-3 Februari 2026. Dalam perhelatan bertema Climate Change and Resilience: Reimagining Business, Economy, and Technology for a Sustainable Future, Doktor Any menyampaikan hal esensial lainnya seperti pergeseran global menuju ekonomi kolaboratif dan sirkular, yaitu transisi dari kepemilikan ke berbagi, dari ekonomi linear ke sirkular, serta dari orientasi pertumbuhan semata menuju keberlanjutan dan resiliensi jangka panjang.

Ia memaparkan peran kecerdasan buatan (AI) sebagai intelligent trust, bukan pengganti tanggung jawab manusia, melainkan alat untuk memperkuat transparansi, keadilan distribusi, dan pengambilan keputusan yang beretika dalam sistem ekonomi dan bisnis. Selain itu, ditekankan pula kebutuhan indikator baru resiliensi dan keberlanjutan yang melampaui GDP dan metrik konvensional dengan memasukkan aspek sirkulasi nilai, keadilan sosial, tata kelola etis, serta kesejahteraan antargenerasi.

Doktor Any menegaskan bahwa percepatan digital dan AI, ketika melaju lebih cepat daripada tata kelola etis, meskipun meningkatkan efisiensi dan kecepatan, juga melahirkan paradoks baru berupa ketimpangan sosial, volatilitas pendapatan, serta melemahnya perlindungan tenaga kerja. Melalui konsep re-equilibrating resilience, beliau mengajukan gagasan bahwa ketahanan sejati hanya dapat dicapai ketika inovasi teknologi dipadukan dengan energi moral: nilai keadilan, sirkulasi kekayaan, dan tanggung jawab antargenerasi.

Dalam kerangka ini, AI diposisikan sebagai intelligent trust atau alat yang memperkuat transparansi, distribusi yang adil, dan pengambilan keputusan yang beretika. “Bukan sebagai pengganti nurani manusia,” cakap Dosen pengampu tersebut.

Selain itu, Doktor Any juga menekankan pergeseran pascapandemi dari kepemilikan menuju kolaborasi, dari ekonomi linear menuju sirkular, serta dari orientasi pertumbuhan semata menuju keberlanjutan dan kesejahteraan. “Nilai ekonomi hanya bermakna ketika beredar secara etis dan memberi manfaat sosial yang luas,” tuturnya.

Kehadiran dosen MM Yarsi ini atas undangan GSCWU dan para co-organizer sebagai salah satu international keynote speaker. Ia menyampaikan pandangan mendalam dengan menempatkan resiliensi ekonomi dan bisnis di era AI dan pasca-karbon sebagai persoalan keseimbangan sistemik, bukan sekadar kemampuan bertahan. Konferensi internasional yang digelar oleh Faculty of Business and Management Sciences, The Government Sadiq College Women University (GSCWU) and co-organizers di Bahawalpur, Punjab, Pakistan ini menyoroti urgensi pengembangan model bisnis berkelanjutan, strategi ekonomi, serta kemajuan teknologi untuk menghadapi perubahan iklim.

“Pembahasannya mencakup adaptasi risiko iklim (panas ekstrem, kekeringan, dan banjir) serta upaya pengembangan teknologi hijau,” ujar Alumnus Doktor Universitas Airlangga tersebut.

Acara ini menjadi wadah berbagi gagasan inovatif guna mendorong terwujudnya masa depan berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim. Selain Doktor Any, konferensi ini menghadirkan pembicara utama lainnya seperti Sagheer Abbas (Prince Mohammad Bin Fahd University, Arab Saudi), Saleem Ahmad (Guangzhou Vocational University of Science and Technology, Tiongkok), dan Piyya Muhammad Rafi-ul-Shan (Regent’s University London).

Istimewanya perhelatan ini, jelang penutupan konferensi, dilakukan penandatanganan kerjasama (MoU) antara Universitas Yarsi dan GSCWU. Rektor Universitas Yarsi, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, berkesempatan hadir secara daring untuk proses penandatanganan tersebut. "Kerja sama ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta penguatan jejaring akademik antara kedua institusi ke depan," tutupnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya