Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Lenovo Ramalkan Adopsi Agentic AI di Asia Pasifik Melonjak Drastis pada 2026

Rifaldi Putra Irianto
23/1/2026 12:33
Lenovo Ramalkan Adopsi Agentic AI di Asia Pasifik Melonjak Drastis pada 2026
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).(Dok. Freepik)

LENOVO baru saja merilis laporan komprehensif bertajuk ‘Lenovo CIO Playbook 2026 - The Race For Enterprise AI’. Laporan ini mengungkapkan optimisme tinggi di sektor korporasi, di mana sebanyak 96% organisasi di kawasan Asia-Pasifik berencana meningkatkan investasi kecerdasan buatan (AI) mereka dalam 12 bulan ke depan.

Secara rata-rata, belanja teknologi AI diperkirakan akan tumbuh sebesar 15%. Alokasi dana ini mencakup pengembangan Agentic AI, layanan AI berbasis cloud publik, infrastruktur AI on-premise, hingga solusi keamanan siber berbasis AI.

Apa Itu Agentic AI? Tren yang Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat

Salah satu sorotan utama dalam laporan Lenovo kali ini adalah kemunculan Agentic AI. Berbeda dengan AI konvensional, Agentic AI adalah bentuk kecerdasan buatan tingkat lanjut yang mampu beroperasi secara otonom. Teknologi ini tidak hanya menjawab perintah, tetapi mampu membuat keputusan dan menjalankan tugas kompleks secara bertahap untuk mencapai tujuan tertentu.

Lenovo memprediksi minat organisasi terhadap teknologi ini akan meningkat dua kali lipat dalam satu tahun ke depan. Fan Ho, ED & GM Asia Pacific, Solutions and Services Group Lenovo, menyatakan bahwa pergeseran ini menunjukkan kematangan strategi AI di perusahaan.

“Setahun yang lalu, perusahaan masih mempertimbangkan Agentic AI. Namun kini, hampir 60% perusahaan menyatakan mereka sedang menjelajah, menguji coba, hingga melakukan penyebaran (deployment),” ujar Fan Ho dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/1).

Sektor Utama Pengguna Agentic AI

Berdasarkan data laporan tersebut, sekitar 21% organisasi di Asia Pasifik sudah melaporkan penggunaan AI secara signifikan. Terdapat tiga sektor utama yang paling progresif dalam mengadopsi teknologi ini:

  • Telekomunikasi: Mengelola data pelanggan dalam skala masif.
  • Layanan Kesehatan: Membantu diagnosis dan efisiensi operasional medis.
  • Pemerintahan: Digitalisasi layanan publik dengan kompleksitas tinggi.

Fan Ho menekankan bahwa AI kini tidak lagi eksklusif untuk perusahaan berbasis IT. Sektor non-IT yang memiliki akumulasi data besar sangat membutuhkan Agentic AI untuk mengolah kebutuhan pelanggan yang beragam secara otomatis.

Hambatan Implementasi: Hanya 10% Perusahaan yang Benar-Benar Siap

Meski antusiasme sangat tinggi, laporan Lenovo mengungkap adanya kesenjangan kesiapan (readiness gap). Saat ini, hanya 10% organisasi yang merasa benar-benar siap untuk mengimplementasikan Agentic AI dalam skala besar.

Beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh Chief Information Officer (CIO) antara lain:

  1. Keamanan dan Tata Kelola: Kekhawatiran akan privasi data dan regulasi.
  2. Kualitas Data: Data yang tidak terstruktur menghambat performa AI.
  3. Kompleksitas Integrasi: Kesulitan menyatukan AI dengan sistem warisan (legacy system).

Menanggapi tantangan ini, Lenovo memposisikan diri sebagai mitra strategis untuk memfasilitasi adopsi AI bagi perusahaan yang masih terkendala infrastruktur maupun keahlian teknis.

Tentang Laporan Lenovo CIO Playbook 2026

Laporan tahunan ini merupakan edisi keempat yang disusun Lenovo bekerja sama dengan International Data Corporation (IDC). Riset ini melibatkan jajak pendapat terhadap 920 Chief Information Officer (CIO) dan Direktur AI di seluruh kawasan Asia Pasifik untuk memetakan arah masa depan teknologi enterprise.

Dengan pertumbuhan investasi yang konsisten, tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik di mana Agentic AI menjadi standar baru dalam efisiensi operasional bisnis global.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya