Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Perkuat Ekspansi Agrikultur Asia Tenggara dengan Teknologi AI di Perkebunan Sawit

Putri Anisa Yuliani
26/2/2026 01:17
Perkuat Ekspansi Agrikultur Asia Tenggara dengan Teknologi AI di Perkebunan Sawit
Sejak resmi beroperasi di Indonesia pada Mei 2025, Dabeeo menunjukkan pertumbuhan pesat lewat kemitraan dengan berbagai grup perkebunan besar.(Dok. Dabeeo)

PERUSAHAAN teknologi kecerdasan buatan (AI) asal Korea Selatan, Dabeeo, mengukuhkan ekspansinya di sektor agrikultur Asia Tenggara melalui penerapan analitik spasial dan pemetaan berbasis AI pada industri kelapa sawit.

Sejak resmi beroperasi di Indonesia pada Mei 2025, Dabeeo menunjukkan pertumbuhan pesat lewat kemitraan dengan berbagai grup perkebunan besar. Beberapa di antaranya meliputi Salim Group, Tunas Sawa Erma (TSE) Group, serta POSCO Group melalui anak usahanya PT Bio Inti Agrindo (BIA). Terbaru, Dabeeo menjalin kontrak kerja sama dengan Triputra Agro Persada, salah satu produsen sawit terkemuka nasional. Di tingkat regional, perusahaan ini juga bermitra dengan Sawit Kinabalu di Malaysia.

Vice President Dabeeo, Victor Choi, menegaskan bahwa kolaborasi tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan industri terhadap teknologi yang mereka kembangkan.

"Kontrak ini menunjukkan bahwa solusi Dabeeo telah diakui sebagai platform terintegrasi yang menggabungkan pemantauan presisi perkebunan dengan manajemen operasional di tingkat lapangan," ujarnya.

Melalui kemitraan dengan Triputra Agro Persada, Dabeeo akan menerapkan sistem pemantauan berbasis AI dalam skala besar di area perkebunan kelapa sawit. Teknologi ini mengandalkan vision AI proprietary untuk menghadirkan metode pengelolaan kebun yang lebih maju dibandingkan penginderaan jauh berbasis satelit konvensional.

Sistem tersebut mampu mengidentifikasi setiap pohon secara individual, menganalisis kondisi kesehatan tanaman, serta mendeteksi perubahan lingkungan kebun melalui citra satelit resolusi tinggi yang diproses dengan AI. Selain itu, teknologi ini juga menggabungkan analisis tiga dimensi (3D terrain analysis) dan evaluasi kesesuaian lahan guna memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi perkebunan.

Seluruh data hasil analisis dapat diakses melalui platform berbasis web dan aplikasi seluler, memungkinkan sinkronisasi informasi secara real time antara tim di lapangan dan kantor pusat. 

Salah satu fitur unggulannya adalah integrasi data satelit berbasis AI dengan data operasional, termasuk penandaan otomatis lokasi Tandan Buah Segar (TBS) yang belum diangkut dari Tempat Pengumpulan Hasil (TPH). Fitur ini membantu tim logistik menyusun rute dan pengelolaan armada secara lebih efisien sekaligus mengurangi kendala operasional seperti genangan banjir.

Sejalan dengan kerja sama strategis tersebut, Dabeeo berencana memperluas kemitraan dengan produsen sawit besar lainnya di Indonesia.

"Dengan menghubungkan analisis AI berbasis satelit dan data milik pelanggan, kami menghadirkan solusi yang dapat langsung diterapkan dalam kegiatan operasional perkebunan," jelas Victor Choi.

Ke depan, Dabeeo juga menargetkan ekspansi ke perusahaan agribisnis global sebagai bagian dari strategi penguatan posisi di pasar Asia Tenggara.

Didirikan pada 2012 di Korea Selatan, Dabeeo merupakan perusahaan teknologi AI yang mengembangkan solusi vision AI untuk pemantauan presisi perkebunan. Teknologi tersebut mencakup identifikasi individual pohon, analisis kesehatan tanaman, hingga integrasi data operasional lapangan secara real time melalui platform web dan mobile. (Put/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya