Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
DI alam liar, kerja sama sering kali menjadi kunci kelangsungan hidup. Semut menemukan sumber makanan, burung menari di angkasa, dan ikan bergerak serempak sebagai satu kesatuan. Uniknya, tidak ada pemimpin yang mengarahkan aksi tersebut. Setiap individu hanya mengikuti aturan lokal yang sederhana.
Fenomena ini menarik perhatian para ilmuwan di Technische Universität Berlin. Mereka mengeksplorasi "kecerdasan kelompok" ini untuk memahami bagaimana kerja sama menciptakan perilaku terorganisir di alam, serta bagaimana manusia dapat merancang sistem yang lebih baik.
Satu ekor semut memiliki informasi yang sangat terbatas, penglihatan sempit, dan ingatan jangka pendek. Namun, sebuah koloni mampu menemukan makanan, memilih jalur paling efisien, dan beradaptasi dengan perubahan mendadak secara luar biasa.
Para ilmuwan menyebut hasil tersebut sebagai kecerdasan kolektif. Solusi tingkat kelompok muncul dari interaksi lokal, seperti mengikuti jejak bau atau menghindari tabrakan, alih-alih melalui perencanaan atau komando pusat. Pola serupa ditemukan pada kelompok burung (murmuration) dan gerombolan ikan yang bergerak tanpa kendali terpusat.
Penelitian perilaku kolektif kini memasuki fase baru berkat kemajuan teknologi. Sistem pelacakan otomatis, rekaman drone, hingga Kecerdasan Buatan (AI) memungkinkan ilmuwan menemukan pola tersembunyi dalam kumpulan data masif. Eksperimen Virtual Reality bahkan memungkinkan kontrol ketat atas lingkungan selama studi hewan.
Valentin Lecheval dan Pawel Romanczuk dari Institute for Theoretical Biology (ITB), Humboldt Universität zu Berlin, menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam bidang ini.
"Banyak pertanyaan menantang dari perilaku kolektif hanya dapat diatasi dengan berbagai kerangka teoretis dan pendekatan empiris baru," catat para penulis tersebut.
Selama ini, riset sering memisahkan antara model pergerakan (bagaimana kelompok tetap bersatu) dan pengambilan keputusan (bagaimana kelompok memilih arah). Padahal, hewan asli menggabungkan keduanya secara simultan saat mencari makan atau menghindari predator.
Integrasi model ini sangat penting karena kelompok jarang terdiri dari anggota yang identik. Perbedaan ukuran, tingkat energi, peran sosial, hingga kemampuan belajar sangat memengaruhi dinamika kelompok. Misalnya, penelitian pada babon menunjukkan individu yang lebih kecil mengeluarkan biaya energi lebih tinggi saat melakukan perjalanan kelompok.
Prinsip kecerdasan kolektif kini melampaui dunia biologi. Ide-ide dari alam mulai memengaruhi berbagai bidang teknologi, antara lain:
Melalui perpaduan biologi, fisika, matematika, dan AI, riset masa depan menjanjikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana tindakan sederhana dapat menciptakan hasil yang cerdas tanpa perlu seorang pemimpin. Studi ini telah dipublikasikan secara resmi di Journal of The Royal Society Interface. (Earth/Z-2)
Peneliti Nagoya University mengungkap bagaimana tikus hutan membuat keputusan sulit saat mencari makan. Pilih kualitas atau kecepatan demi nyawa?
Dengan meniru dan mengintegrasikan mekanisme sensor alami hewan, alat seismik masa depan dapat menjadi lebih sensitif dan akurat dalam memberikan peringatan dini gempa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved