Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Dilema Tikus Hutan, Pilih Makan Enak atau Selamat dari Predator?

Thalatie K Yani
21/1/2026 11:00
Dilema Tikus Hutan, Pilih Makan Enak atau Selamat dari Predator?
Ilustrasi(Unsplash)

DI bawah kegelapan lantai hutan, seekor tikus berhenti di depan tumpukan kacang berangan (chestnut). Beberapa kacang terlihat utuh, sementara lainnya memiliki lubang kecil bekas larva ngengat. Di saat itulah, sang tikus harus membuat keputusan cepat yang mempertaruhkan nyawanya, menghabiskan waktu untuk memilih makanan terbaik atau segera lari demi menghindari pemangsa.

Penelitian selama dua tahun yang dipimpin oleh ilmuwan dari Nagoya University, Jepang, mengungkap momen sederhana ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Menggunakan kamera tersembunyi, para peneliti mengamati perilaku dua spesies, yakni tikus lapangan Jepang besar dan kecil, di stasiun pemberian makan yang berisi campuran kacang sehat dan kacang rusak.

Dua Strategi Berbeda

Hasil pengamatan menunjukkan adanya dua pola perilaku yang kontras. Sekitar separuh dari tikus yang diamati memilih untuk bergegas. Mereka menyambar kacang terdekat dalam satu hingga dua detik lalu menghilang. Namun, separuh lainnya memilih untuk tinggal lebih lama. Mereka menghabiskan waktu sekitar lima detik untuk mengendus dan membandingkan kualitas kacang sebelum membawanya pergi.

Waktu tambahan tersebut sangatlah krusial. Di hutan, predator seperti burung hantu dan marten selalu mengintai. Berdiam diri lebih lama berarti menjadi target yang lebih mudah. Meski berisiko, tikus yang lebih sabar terbukti mendapatkan hasil lebih baik karena konsisten memilih kacang yang tidak rusak.

Rui Kajita, penulis utama studi dari Nagoya University’s Graduate School of Bioagricultural Sciences, menjelaskan kondisi kacang yang menjadi pilihan tersebut.

"Kami membelah 100 kacang yang rusak oleh ngengat untuk memahami kondisi internalnya dan menemukan bahwa dalam 95% kasus, larva ngengat hanya memakan 0-40% isi kacang, sehingga sebagian besar tetap utuh," catat Kajita.

Namun, kacang yang rusak ini biasanya mengalami perubahan warna di bagian dalam dan mengandung kotoran larva yang memengaruhi aroma serta kualitasnya.

Kualitas vs. Kecepatan

Meskipun kualitasnya menurun, hampir semua kacang habis sebelum pagi hari. Hal ini dikarenakan kacang berangan tidak mengandung tannin yang berbahaya, sehingga tetap menjadi sumber makanan berharga bagi tikus hutan.

Profesor Hisashi Kajimura menekankan kedua strategi ini ternyata efektif untuk bertahan hidup.

"Burung hantu, marten, dan predator lainnya memburu tikus-tikus ini, jadi setiap detik yang dihabiskan tikus di stasiun pemberian makan dapat memaparkannya pada bahaya," catat Profesor Hisashi Kajimura. "Namun beberapa dari mereka tetap meluangkan waktu untuk memilih kacang terbaik. Pilihan itu menunjukkan kualitas makanan cukup penting untuk mengambil risiko."

Dampak bagi Ekosistem

Perilaku ini tidak hanya tentang urusan perut tikus, tetapi juga berpengaruh pada masa depan hutan. Tikus membantu menyebarkan benih dengan membawa kacang jauh dari tempat asalnya. Pilihan tikus terhadap kacang mana yang dibawa dan di mana mereka meninggalkannya secara perlahan dapat mengubah komposisi pepohonan di hutan.

Menurut Profesor Kajimura, masalah yang dihadapi tikus ini sangat relevan dengan prinsip pengambilan keputusan secara umum.

"Ini adalah masalah yang sangat bisa dihubungkan dengan kita," kata Profesor Kajimura. "Haruskah Anda menginvestasikan waktu untuk membuat pilihan yang lebih baik, atau bertindak cepat untuk meminimalkan risiko Anda?" (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya