Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
HUTAN-hutan di seluruh dunia tengah mengalami transformasi sunyi yang mengkhawatirkan. Sebuah analisis global besar-besaran terhadap lebih dari 31.000 spesies pohon mengungkapkan hutan menjadi semakin seragam. Saat ini, ekosistem hutan semakin didominasi oleh pohon-pohon "sprinter" yang tumbuh cepat, sementara spesies yang tumbuh lambat dan berumur panjang mulai menghilang.
Penelitian internasional yang diterbitkan dalam jurnal Nature Plants ini memetakan bagaimana wajah hutan dunia akan berubah dalam beberapa dekade mendatang. Hilangnya spesies pohon lambat tumbuh ini menjadi ancaman serius karena mereka adalah tulang punggung ekosistem yang berfungsi sebagai penyimpan karbon utama dan penyokong rantai kehidupan.
Tren ini paling terasa di wilayah tropis dan subtropis, tempat keanekaragaman hayati tertinggi berada. Jens-Christian Svenning, Profesor dari Aarhus University sekaligus penulis senior studi ini, menyoroti bahaya yang dihadapi spesies unik yang hanya ada di wilayah terisolasi.
"Kita berbicara tentang spesies yang sangat unik, terutama terkonsentrasi di wilayah tropis dan subtropis. Ketika spesies asli yang terspesialisasi ini menghilang, mereka meninggalkan celah di ekosistem yang jarang bisa diisi oleh spesies asing, meskipun spesies tersebut tumbuh cepat dan mudah menyebar," ujar Svenning.
Pohon yang terancam punah ini umumnya memiliki ciri kayu yang padat, daun tebal, dan masa hidup yang sangat lama. Tanpa kehadiran mereka, hutan kehilangan ketahanannya terhadap guncangan iklim.
Jika perubahan iklim dan eksploitasi hutan terus berlanjut, hutan masa depan akan lebih banyak dihuni spesies seperti akasia, eukaliptus, poplar, dan pinus. Meskipun pohon-pohon ini tumbuh cepat dalam waktu singkat, mereka memiliki kelemahan yang nyata.
"Meski spesies ini tumbuh dengan baik, mereka lebih rentan terhadap kekeringan, badai, hama, dan kejutan iklim. Hal ini membuat hutan menjadi kurang stabil dan kurang efektif dalam menyimpan karbon untuk jangka panjang," tambah Svenning.
Aktivitas manusia menjadi faktor utama di balik perubahan ini. Deforestasi untuk infrastruktur, penebangan kayu, dan perdagangan global mendorong penyebaran spesies asing yang sering kali justru menekan keberadaan pohon asli dalam memperebutkan cahaya, air, dan nutrisi.
Penulis utama studi ini, Profesor Wen-Yong Guo dari East China Normal University, memperingatkan tanpa intervensi, dominasi pohon cepat tumbuh akan semakin merata di seluruh dunia, termasuk di belahan bumi utara yang lebih dingin.
Oleh karena itu, strategi pengelolaan hutan harus segera diubah. Fokus pembangunan hutan baru tidak boleh lagi hanya mengejar kecepatan produksi kayu atau biomassa.
"Saat membangun hutan baru, penekanan yang jauh lebih besar harus diberikan pada spesies pohon yang tumbuh lambat dan langka. Ini akan membuat hutan lebih beragam dan tangguh," pungkas Svenning.
Restorasi hutan yang memprioritaskan spesies langka ini juga dipercaya akan membantu pemulihan komunitas hewan besar, yang pada akhirnya akan memperkuat fungsi ekosistem di masa depan. (Science Daily/Z-2)
Indonesia menegaskan komitmen dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, dan pemberantasan kejahatan satwa.
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
DEPUTI Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas menekankan agar pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati harus dikelola secara bertanggung jawab.
MOMEN Global Climate Change Week 2025 (GCCW2025) yang berlangsung setiap akhir Oktober menjadi pengingat pentingnya kontribusi semua pihak untuk menekan laju perubahan iklim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved