Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Negara Andalkan Hutan untuk Penuhi Janji Iklim, Laporan COP30 Ingatkan Risiko Besar

Thalatie K Yani
16/11/2025 11:39
Negara Andalkan Hutan untuk Penuhi Janji Iklim, Laporan COP30 Ingatkan Risiko Besar
Ilustrasi(freepik)

Di sela pertemuan iklim COP30 di Brasil, sebuah analisis baru memunculkan peringatan serius. Ternyata banyak negara masih mengandalkan hutan dan lahan pertanian untuk “menyeimbangkan” emisi, alih-alih mempercepat pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

Laporan Land Gap 2025 menunjukkan rencana nasional saat ini masih membuka peluang hilangnya sekitar 20 juta hektare hutan setiap tahun dalam dekade ini. Angka tersebut mengejutkan, mengingat negara-negara telah berjanji menghentikan dan membalikkan laju deforestasi.

Ketergantungan pada Penghilangan Karbon

Banyak pemerintah menyatakan dapat memenuhi target iklim dengan meningkatkan carbon removal, yakni menarik kembali CO2 dari udara. Rencana ini mengandalkan penanaman pohon, restorasi ekosistem, atau penggunaan tanaman sebagai sumber energi, sementara pengendalian energi fosil berjalan lambat.

Penelitian yang dipimpin Dr Kate Dooley, peneliti kebijakan iklim dari University of Melbourne, menemukan janji iklim negara-negara sudah menyiratkan kebutuhan 990 juta hektare lahan untuk proyek penghilangan karbon. Angka tersebut kini meningkat seiring bertambahnya target jangka panjang hingga pertengahan abad.

“Kesenjangan Lahan” dalam Janji Iklim

Para penulis menyebut ketidaksesuaian antara kebutuhan lahan dan kapasitas lahan yang aman digunakan sebagai land gap. Menurut perhitungan mereka, janji nasional pada 2025 dapat menyedot lebih dari 1 miliar hektare lahan, sesuatu yang dinilai tidak realistis.

Ketergantungan ini juga berpotensi menutup-nutupi minimnya pengurangan emisi jangka pendek dari sektor energi dan industri, yang justru mendesak dilakukan. Laporan tersebut memperingatkan pendekatan ini dapat memperlambat transisi energi dari batu bara, minyak, dan gas.

Ancaman “Forest Gap”

FAO mencatat dunia masih kehilangan sekitar 4 juta hektare hutan setiap tahun. Para penulis Land Gap memperingatkan tanpa langkah tegas, kerusakan dan degradasi hutan akan menggagalkan target iklim. Mereka menyebutnya sebagai forest gap, jarak antara janji perlindungan hutan dan kenyataan di lapangan.

Menurut laporan, sekitar seperempat tutupan hutan dunia telah hilang, melemahkan salah satu penyerap karbon alami terbesar dan meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, serta kebakaran.

Tekanan Utang dan Ekspansi Industri Ekstraktif

Banyak negara di Global South menghadapi tekanan utang besar, yang mendorong mereka membuka hutan untuk penebangan, pertambangan, atau perluasan pertanian. Kondisi ini bertentangan dengan klaim iklim mereka.

“Mengapa begitu banyak negara mengabaikan perlindungan hutan sebagai pilar target iklim? Jawabannya karena mereka hidup di dunia dengan beban utang yang berat dan kebijakan pajak serta perdagangan yang memaksa mereka mengeksploitasi hutan agar ekonomi tetap bertahan,” kata Dr Dooley.

Laporan ini menyoroti bahwa sistem keuangan global sering kali memberi insentif pada eksploitasi sumber daya daripada perlindungan lingkungan.

Risiko bagi Komunitas Lokal

Proyek-proyek berbasis lahan juga dapat mengancam keamanan tenurial, terutama bagi masyarakat adat dan petani kecil. Ketika perkebunan atau tanaman energi diperluas, masyarakat dapat kehilangan lahan atau akses terhadap hutan yang mereka gunakan.

Meski banyak rencana iklim menyebut hak asasi manusia, laporan menemukan minimnya aturan konkret untuk melindungi komunitas terdampak. Tanpa batasan jelas, proyek iklim berpotensi mengulang praktik perampasan lahan dan ketidakadilan lingkungan.

“Hutan yang sehat sangat penting bagi ekonomi yang sehat,” ujar Dr Dooley.

Pendekatan yang Lebih Realistis

Laporan menyarankan agar negara memprioritaskan perlindungan hutan, restorasi lahan rusak, serta pengurangan bahan bakar fosil. Restorasi ekosistem dan pertanian beragam dinilai lebih aman, sementara proyek energi tanaman dan teknologi BECCS membawa risiko bagi alam dan masyarakat.

Dr Alister Self dari Climate Resource mengingatkan bahwa meski semua janji dipenuhi, dunia masih menuju pemanasan hampir 2°C. “Ini hanya jika negara memenuhi target tanpa mundur dari komitmen saat ini, yang jika tidak, estimasinya akan naik lebih tinggi,” katanya. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya