Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Deforestasi: Saat Hutan Hilang, Nyamuk Mengincar Pemukiman

Basuki Eka Purnama
18/2/2026 14:52
Deforestasi: Saat Hutan Hilang, Nyamuk Mengincar Pemukiman
Ilustrasi--Foto aerial ladang milik warga di hutan Pegunungan Meratus, Desa Hinas Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Kamis (25/11/2021).(ANTARA/Bayu Pratama S)

DEFORESTASI bukan sekadar krisis lingkungan yang memicu pemanasan global. Lebih dari itu, hilangnya tutupan hutan secara permanen kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia

Ahli Entomologi dari IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi, memperingatkan bahwa aktivitas manusia yang merusak ekosistem hutan terbukti meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya di kawasan permukiman.

Deforestasi sendiri merupakan proses hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat campur tangan manusia yang mengubah kawasan hijau menjadi lahan nonhutan secara irreversibel. Aktivitas ini secara otomatis melenyapkan fungsi ekologis hutan yang vital.

"Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap," ujar Prof. Upik.

MI/HO--Ahli Entomologi dari IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi

Fenomena Ledakan Nyamuk

Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan namun sering luput dari perhatian adalah perubahan perilaku nyamuk. 

Prof. Upik menjelaskan bahwa ketika habitat alami dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan mulai beralih mengincar manusia sebagai sumber nutrisi.

"Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama," jelasnya.

Penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi cenderung memiliki populasi nyamuk yang lebih melimpah. Hal ini terjadi karena hilangnya keanekaragaman hayati yang selama ini berfungsi sebagai penyangga alami penularan penyakit. 

Tanpa adanya hewan hutan sebagai sasaran gigitan, manusia menjadi sumber darah utama bagi nyamuk yang bersifat oportunis.

Ancaman Kesehatan dan Lingkungan

Kondisi ini menempatkan masyarakat pada risiko tinggi terpapar berbagai penyakit yang dibawa oleh vektor nyamuk, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, hingga malaria zoonotik dan demam kuning.

"Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia," tegas Prof. Upik.

Selain ancaman kesehatan, rusaknya hutan juga mengganggu siklus air. Hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan ekstrem. 

Di sisi lain, fungsi hutan sebagai penyerap karbon yang hilang juga memperparah emisi gas rumah kaca dan pemanasan global.

Langkah Penyelamatan

Sebagai langkah mitigasi, Prof. Upik menekankan pentingnya sinergi antara teknologi dan kebijakan. Upaya reboisasi dan penghijauan harus dibarengi dengan pengawasan ketat menggunakan teknologi satelit serta penegakan hukum yang tegas.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa peran masyarakat tetap menjadi kunci. Edukasi mengenai pelestarian hutan dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak harus terus digaungkan demi memutus rantai ancaman kesehatan dan lingkungan di masa depan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya