Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENULIS Rayni N. Massardi mengoprek kembali 13 cerita pendek (cerpen) lawasnya, menyegarkan bahasa, lalu menambahkan satu cerita baru berjudul Orangutan Bima di karya buku terbarunya. Buku itu merupakan kumpulan cerpen bertajuk Awas Kucing Hilang (lalat cintaku) - 2025.
Buku itu berisi 14 cerita yang menghadirkan tokoh-tokoh mulai dari anjing, kelinci, semut, kucing, kecoak, ulat, tikus, kura-kura, cicak, ayam, kutu, lalat, monster, dan orangutan, yang digambarkan dengan segala tingkah layaknya manusia.
Dalam acara bincang buku kumpulan cerpen Awas Kucing Hilang (lalat cintaku) yang digelar di Bentara Budaya Bali dan Gramedia Teuku Umar pada Minggu (16/11), mengungkapkan kisah-kisah dalam cerpen ini bukan dongeng binatang sebelum tidur.
Kisah dengan tokoh utama para hewan plus monster ini merupakan metafora, satire, dan fabel. Suka duka hewan merupakan cermin diri manusia. Perjalanan hidup berliku dari makhluk ciptaan Tuhan. Dalam kumpulan cerita tersebut, kita akan bertemu, mengenal lebih dalam, hingga ikut bersedih, serta baper.
Premise utama kumpulan cerpen ini yaitu "Eloh kalau mau hidup, ya berjuang!"
"Melalui kisah-kisahnya, Rayni mengajak kita menyelami dunia keseharian, relasi dan kenangan dengan lensa yang jenaka sekaligus getir," demikian keterangan dari pihak Bentara Budaya Bali, yang diterima Media Indonesia, Senin (17/11).
"Cerita-cerita ringan ini menghadirkan keintiman yang dekat sekaligus memberi kita ruang untuk menertawakan banyak ‘hal kecil,’ yang ternyata tidak sesederhana seperti kelihatannya," lanjutnya.
Sementara itu, pengarang Noorca M.Massardi mengungkapkan bahwa Rayni melalui kumpulan cerpen ini menggambarkan keprihatinan, kegelisahan dan kemarahannya melihat perilaku manusia modern.
"Rayni menggambarkan situasi dan problem keluarga dan lingkungan hidup dari tokoh-tokohnya dengan sangat ironis, lucu, absurd, menyedihkan, mengharukan, sekaligus mampu menyampaikan pesan moral tentang kebaikan, penghormatan terhadap orangtua, dan empati kepada sesama manusia," katanya.
"Sebuah fabel satiris dengan banyak adegan dan peristiwa tak terduga, dengan ilustrasi drawing Christyan AS yang mendukung cerita," sambungnya.
Sahabat sekaligus anggota DPR-RI Komisi VII, Samuel Wattimena melihat kumpulan cerpen ini merupakan kisah yang unik. "13 tokoh hewan mewakili kita manusia, dengan cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku layaknya manusia. Bentuk fabel atau dongeng tentang hewan yang dipilih Rayni, mengungkapkan cerita sedehana namun sarat kritik sosial," ungkapnya.
Sebagai informasi, Rayni N. Massardi merupakan seorang pengarang Tanah Air yang lahir di Brussels, Belgia, pada 29 Mei 1957. Lulusan Universitas Paris III, Sorbonne Nouvelle, Departement d’Etude et de Recherches Cinematographiques, Paris, Perancis (1981), ini adalah istri dari pengarang Noorca M. Massardi.
Karya-karya cerpennya pernah dimuat di pelbagai koran dan majalah, di antaranya terpilih dalam antologi Laki-Laki yang Kawin dengan Peri: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1995, dan Riwayat Negeri yang Haru: Kumpulan Cerpen Pilihan, Kompas 2006.
Lalu, ada pula Antologi Puisi 12 Tahun Sastra Bulan Purnama, Silaturahmi Sehati - 2023, Antologi Cerpen 25 Penulis Perempuan Namaku Luka - 2024, hingga Antologi Puisi Seri Zodiak Kaum Gemini - 2024.
(Nas/M-3)
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
Dalam memoarnya, Aurelie Maoeremans menceritakan bahwa pertemuannya dengan sosok "Bobby" terjadi saat ia masih berusia 15 tahun di sebuah lokasi syuting iklan.
Sekjen BPP Hipmi Anggawira menghadirkan dua buku yang membahas seputar arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
Data BPS dalam Survei Sosial Ekonomi pada Maret 2024, sekitar 22,5 juta orang atau 8,23% penduduk Indonesia menyandang disabilitas.
Kementan juga mendiseminasi naskah kebijakan berjudul “Regenerasi Petani untuk Percepatan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved