Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Swipe Therapy: Menemukan Diri di Balik Layar Dating Apps dalam Memoar Perdana Mira Sumanti

Basuki Eka Purnama
24/1/2026 10:35
Swipe Therapy: Menemukan Diri di Balik Layar Dating Apps dalam Memoar Perdana Mira Sumanti
Peluncuran buku Swipe Therapy(MI/HO)

DI era ketika validasi sering kali hadir lewat notifikasi dan patah hati kerap diproses dalam kesunyian kamar, Mira Sumanti memilih jalan yang berbeda: kejujuran yang radikal. 

Lewat buku perdananya bertajuk Swipe Therapy, Mira merangkum fase paling rapuh dalam hidupnya, mulai dari rencana pernikahan yang batal hingga kembali menavigasi labirin dunia dating apps.

Buku ini bukan sekadar kisah pencarian pasangan, melainkan sebuah perjalanan memahami diri sendiri di tengah kekacauan hidup modern. Mira memulai narasinya dengan sebuah pengakuan yang menyesakkan tentang momen ketika rencananya runtuh.

“Ketika semuanya runtuh, aku tidak langsung merasa sedih. Aku merasa kosong. Dan itu justru yang paling menakutkan,” tulis Mira dalam Swipe Therapy.

Sering disebut sebagai Eat Pray Love versi generasi Tinder, buku ini menjauhi kiasan pelarian romantis atau transformasi instan. 

Sebaliknya, Mira menyuguhkan refleksi jujur tentang kehilangan dan kelelahan emosional. Dalam narasinya, dating apps tidak diposisikan sebagai pahlawan maupun musuh, melainkan sebagai ruang eksperimen emosional untuk mengamati ulang pola relasi dan luka lama.

“Aku menyebutnya Swipe Therapy, setengah bercanda. Tapi semakin lama, aku sadar ini bukan tentang mencari ‘The One’. Ini tentang melihat diriku sendiri, swipe demi swipe,” ungkap Mira.

Perjalanan ini membawa pembaca melintasi Jakarta, Bali, San Francisco, hingga kehidupan malam Tokyo. 

Di kota-kota tersebut, Mira menemui berbagai sosok yang memberi perspektif baru: mulai dari seorang neuroscientist yang membedah patah hati secara ilmiah, hingga sutradara ambisius yang menyimpan ketidakselarasan mendasar.

Setiap pertemuan ditulis sebagai potongan pengalaman yang membentuk pemahaman baru tentang batasan diri. 

Bagi Mira, beberapa orang hadir sebagai cermin, sementara yang lain adalah pelajaran. "Dan sebagian hanya hadir untuk menunjukkan apa yang tidak aku inginkan,” tambahnya.

Swipe Therapy juga menjadi refleksi mendalam bagi perempuan urban yang mandiri dan ambisius—mereka yang terbiasa berpikir rasional namun tetap rapuh dalam urusan hati. 

Alih-alih mengglorifikasi proses penyembuhan (healing), buku ini justru merayakan ketidakteraturan hidup dan keberanian untuk memulai kembali dari nol.

Sebagai penutup, Mira memberikan pesan kuat bagi mereka yang merasa hidupnya telah "selesai" karena sebuah kegagalan: 

“Tidak semua yang berakhir berarti gagal. Kadang, sesuatu berakhir karena memang tugasnya sudah selesai," ungkap Mira.

Informasi mengenai presale buku ini telah resmi diumumkan pada 23 Januari 2026 di Zodiac Baresto. 

Adapun peluncuran global dijadwalkan pada 3 Maret 2026 dan akan tersedia di Amazon serta Barnes & Noble. 

Untuk pembaca di Indonesia, Swipe Therapy dapat diperoleh melalui platform Tokopedia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya