Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Apakah Semua Jenis Nyamuk Terpengaruh Perubahan Iklim? Inilah Faktanya

Putri Rosmalia Octaviyani
19/1/2026 13:59
Apakah Semua Jenis Nyamuk Terpengaruh Perubahan Iklim? Inilah Faktanya
Ilustrasi jenis-jenis nyamuk.(Dok. Freepik)

NYAMUK seringkali dianggap sebagai gangguan musim panas yang seragam. Namun, secara biologis, terdapat lebih dari 3.500 spesies nyamuk di dunia, dan masing-masing memiliki "zona nyaman" suhu yang berbeda. Saat bumi memanas, pertanyaan krusial muncul: apakah semua jenis nyamuk ini merespons perubahan iklim dengan cara yang sama?

Sebagai hewan ektotermik (berdarah dingin), suhu lingkungan adalah penentu utama detak jantung, metabolisme, dan siklus hidup nyamuk. Studi terbaru yang diterbitkan dalam Lancet Countdown 2024 dan riset dari Los Alamos National Laboratory menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya meningkatkan populasi nyamuk secara umum, tetapi juga merombak peta distribusi penyakit global secara drastis akibat gigitan nyamuk.

1. Nyamuk Aedes: Sang Penjelajah Perkotaan yang Makin Tangguh

Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus adalah pembawa utama virus Dengue, Zika, dan Chikungunya. Spesies ini adalah yang paling diuntungkan oleh pemanasan global. Mengapa demikian?

  • Toleransi Panas Tinggi: Dibandingkan spesies lain, Aedes memiliki ambang batas termal yang lebih tinggi. Mereka tetap aktif dan mampu bereplikasi di suhu yang mendekati 30-32°C.
  • Ekspansi Utara: Perubahan iklim membuat musim dingin di wilayah sub-tropis (seperti Eropa dan Amerika Utara) menjadi lebih singkat dan ringan. Hal ini memungkinkan larva Aedes bertahan hidup melewati musim dingin (overwintering), yang sebelumnya mustahil terjadi.
  • Urbanisasi & Iklim: Pemanasan global yang dibarengi dengan urbanisasi menciptakan "heat island" di kota-kota besar, tempat favorit Aedes untuk berkembang biak di genangan air kecil buatan manusia.

2. Nyamuk Anopheles: Mendaki Gunung Mencari Suhu Ideal

Nyamuk Anopheles, vektor penyakit Malaria, menunjukkan pola adaptasi yang berbeda. Alih-alih hanya bergerak ke arah kutub, mereka mulai "mendaki" ke wilayah dataran tinggi.

Dahulu, wilayah pegunungan di Afrika Timur atau Andes di Amerika Selatan dianggap aman dari Malaria karena suhunya terlalu dingin bagi parasit Plasmodium untuk berkembang di dalam tubuh nyamuk. Namun, kenaikan suhu rata-rata sebesar 1-2°C telah membuka pintu bagi Anopheles untuk menetap di wilayah yang sebelumnya bebas Malaria. Hal ini menempatkan jutaan orang yang tidak memiliki imunitas alami dalam risiko besar.

3. Nyamuk Culex: Ancaman Baru di Wilayah Beriklim Sedang

Nyamuk Culex seringkali terabaikan, padahal mereka adalah pembawa West Nile Virus dan Filariasis (kaki gajah). Studi terbaru menunjukkan bahwa perubahan pola curah hujan—terutama siklus banjir dan kekeringan yang ekstrem—sangat memengaruhi spesies ini.

Saat terjadi kekeringan akibat perubahan iklim, aliran air di selokan melambat dan menciptakan genangan kaya organik yang sangat disukai Culex. Di Amerika Serikat dan sebagian Eropa, frekuensi penularan West Nile Virus tercatat meningkat seiring dengan gelombang panas yang lebih sering terjadi.

Apakah Ada Nyamuk yang Justru Berkurang?

Menariknya, perubahan iklim tidak selalu berarti "lebih banyak nyamuk" di semua tempat. Terdapat fenomena yang disebut Thermal Limit atau batas panas maksimal. Jika suhu lingkungan secara konsisten melampaui 35-40°C, tingkat kematian nyamuk dewasa meningkat drastis dan produktivitas telur menurun.

Beberapa wilayah tropis yang sudah sangat panas mungkin akan melihat penurunan transmisi penyakit tertentu karena suhu udara melampaui batas optimal biologis nyamuk. Namun, penurunan ini biasanya dibarengi dengan migrasi nyamuk ke wilayah tetangga yang suhunya baru saja naik menjadi "ideal".

Mekanisme Adaptasi: Evolusi di Depan Mata

Studi dari University of Florida (2024) menemukan bukti bahwa nyamuk mulai menunjukkan plastisitas fenotipik. Artinya, populasi nyamuk di wilayah yang sering terpapar gelombang panas mulai mengembangkan ketahanan genetik terhadap suhu tinggi yang lebih baik dibandingkan nenek moyang mereka. Ini adalah alarm bagi dunia kesehatan bahwa nyamuk adalah lawan yang sangat dinamis.

Secara keseluruhan, perubahan iklim bertindak sebagai katalisator yang mempercepat jam biologis nyamuk. Meskipun dampaknya bervariasi antar spesies, tren global menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan. Memahami perbedaan cara kerja tiap jenis nyamuk adalah langkah awal untuk menciptakan strategi perlindungan yang lebih efektif di masa depan yang lebih hangat. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya