Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ancaman Nyata, Mengapa Penyakit Akibat Gigitan Nyamuk Meledak Seiring Perubahan Iklim?

Putri Rosmalia Octaviyani
19/1/2026 13:51
Ancaman Nyata, Mengapa Penyakit Akibat Gigitan Nyamuk Meledak Seiring Perubahan Iklim?
Ilustrasi perubahan iklim.(Dok. Freepik)

TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan beban kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari 14 juta kasus dilaporkan di seluruh dunia, dengan angka kematian melampaui 10.000 jiwa. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan musiman, melainkan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim dan krisis iklim yang semakin nyata.

Studi terbaru dari Lancet Countdown on Health and Climate Change 2024 mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: kesesuaian iklim untuk transmisi virus oleh nyamuk Aedes albopictus meningkat sebesar 46,3% dibandingkan periode 1950-an. Pertanyaannya, bagaimana kenaikan suhu bumi dan kerusakan ekosistem secara teknis mengubah serangga kecil ini menjadi ancaman kesehatan global yang lebih mematikan?

Bagaimana Suhu Panas Mempercepat Penyebaran Penyakit?

Para ilmuwan mengidentifikasi beberapa mekanisme biologis utama yang menghubungkan pemanasan global dengan peningkatan aktivitas nyamuk:

1. Percepatan Masa Inkubasi Ekstrinsik (EIP)

Di dalam tubuh nyamuk, virus memerlukan waktu untuk bereplikasi sebelum bisa ditularkan ke manusia melalui gigitan berikutnya. Proses ini disebut Extrinsic Incubation Period (EIP). Suhu yang lebih hangat secara drastis memperpendek waktu EIP. Jika pada suhu normal virus membutuhkan 10-14 hari untuk siap ditularkan, pada suhu yang lebih tinggi, proses ini bisa selesai dalam waktu kurang dari seminggu.

2. Siklus Hidup yang Lebih Pendek dan Agresif

Nyamuk adalah hewan ektotermik (berdarah dingin), yang berarti metabolisme mereka sangat bergantung pada suhu lingkungan. Udara yang lebih panas mempercepat perkembangan larva menjadi nyamuk dewasa. Selain itu, suhu tinggi memicu nyamuk betina untuk lebih sering menghisap darah guna mempertahankan hidrasi dan mempercepat produksi telur.

Perluasan Wilayah Geografis: Nyamuk "Migrasi" ke Utara

Salah satu dampak paling signifikan dari perubahan iklim adalah pergeseran batas geografis habitat nyamuk. Wilayah-wilayah di Eropa, Amerika Utara, dan dataran tinggi yang sebelumnya dianggap terlalu dingin bagi nyamuk tropis, kini mulai melaporkan kasus transmisi lokal.

  • Eropa: Nyamuk Aedes albopictus kini telah menetap di lebih dari 13 negara Eropa, termasuk Prancis dan Italia.
  • Dataran Tinggi: Di wilayah pegunungan seperti Andes dan dataran tinggi Afrika, malaria kini ditemukan di ketinggian yang sebelumnya bebas dari nyamuk Anopheles.

Data Terkini: Rekor Kasus di Tahun 2024-2025

Berdasarkan data WHO dan BMKG, Indonesia mengalami lonjakan kasus yang signifikan pada kuartal pertama 2024, yang dipicu oleh fenomena El Niño yang membuat suhu udara lebih hangat dan pola curah hujan yang tidak menentu. Genangan air yang tercipta akibat hujan di tengah musim kemarau menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti.

Dengan berbagai fakta tersebut, kaitan antara perubahan iklim dan penyakit akibat gigitan nyamuk bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas medis yang kita hadapi hari ini. Studi terbaru menegaskan bahwa tanpa mitigasi perubahan iklim yang serius, risiko epidemi global akan terus meningkat. Kesadaran akan kesehatan lingkungan kini menjadi benteng utama dalam melindungi diri dari ancaman kecil namun mematikan ini. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya