Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan beban kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari 14 juta kasus dilaporkan di seluruh dunia, dengan angka kematian melampaui 10.000 jiwa. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan musiman, melainkan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim dan krisis iklim yang semakin nyata.
Studi terbaru dari Lancet Countdown on Health and Climate Change 2024 mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: kesesuaian iklim untuk transmisi virus oleh nyamuk Aedes albopictus meningkat sebesar 46,3% dibandingkan periode 1950-an. Pertanyaannya, bagaimana kenaikan suhu bumi dan kerusakan ekosistem secara teknis mengubah serangga kecil ini menjadi ancaman kesehatan global yang lebih mematikan?
Para ilmuwan mengidentifikasi beberapa mekanisme biologis utama yang menghubungkan pemanasan global dengan peningkatan aktivitas nyamuk:
Di dalam tubuh nyamuk, virus memerlukan waktu untuk bereplikasi sebelum bisa ditularkan ke manusia melalui gigitan berikutnya. Proses ini disebut Extrinsic Incubation Period (EIP). Suhu yang lebih hangat secara drastis memperpendek waktu EIP. Jika pada suhu normal virus membutuhkan 10-14 hari untuk siap ditularkan, pada suhu yang lebih tinggi, proses ini bisa selesai dalam waktu kurang dari seminggu.
Nyamuk adalah hewan ektotermik (berdarah dingin), yang berarti metabolisme mereka sangat bergantung pada suhu lingkungan. Udara yang lebih panas mempercepat perkembangan larva menjadi nyamuk dewasa. Selain itu, suhu tinggi memicu nyamuk betina untuk lebih sering menghisap darah guna mempertahankan hidrasi dan mempercepat produksi telur.
Salah satu dampak paling signifikan dari perubahan iklim adalah pergeseran batas geografis habitat nyamuk. Wilayah-wilayah di Eropa, Amerika Utara, dan dataran tinggi yang sebelumnya dianggap terlalu dingin bagi nyamuk tropis, kini mulai melaporkan kasus transmisi lokal.
Berdasarkan data WHO dan BMKG, Indonesia mengalami lonjakan kasus yang signifikan pada kuartal pertama 2024, yang dipicu oleh fenomena El Niño yang membuat suhu udara lebih hangat dan pola curah hujan yang tidak menentu. Genangan air yang tercipta akibat hujan di tengah musim kemarau menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti.
SERANGAN nyamuk di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi perhatian serius. Kemenkes memastikan kondisi tersebut Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Mungkin Anda pernah melihat ada nyamuk yang hanya mengincar orang tertentu. Misalnya dalam satu ruangan, ada orang yang diserang habis-habisan oleh nyamuk, sedangkan yang lain tidak.
Nyamuk, serangga kecil yang sering mengganggu kenyamanan, ternyata memiliki preferensi khusus dalam memilih target gigitannya.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved